Beruang Madu hingga Rusa Sambar Kembali Muncul di IKN, Basuki Hadimuljono: Ekosistem Mulai Hidup
Briandena Silvania Sestiani June 06, 2026 07:09 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Di tengah masifnya pembangunan berbagai infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, muncul perkembangan yang dinilai menggembirakan dari sisi lingkungan.

Sejumlah satwa liar khas Pulau Kalimantan yang sebelumnya sempat menjauh akibat aktivitas pembukaan lahan kini mulai kembali terlihat di kawasan IKN.

Tampak beruang madu, lutung merah, rusa sambar, hingga berbagai jenis burung hutan tercatat semakin sering terpantau di wilayah Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara.

Kemunculan satwa-satwa tersebut menjadi salah satu indikator bahwa upaya pemulihan ekosistem yang dijalankan selama beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil.

Baca juga: Rektor UGM Validasi Klaim OIKN, Kembalinya Beruang Madu Jadi Sinyal Ekosistem IKN Mulai Pulih

Fenomena tersebut mendapat perhatian karena terjadi di tengah berlangsungnya pembangunan fisik ibu kota baru Indonesia.

Kehadiran kembali satwa liar dilindungi menunjukkan bahwa proses pembangunan tidak hanya berorientasi pada pembangunan gedung dan infrastruktur, tetapi juga dibarengi upaya mengembalikan fungsi ekologis kawasan.

Menurut informasi yang disampaikan Otorita IKN, peningkatan frekuensi kemunculan mamalia besar dan satwa liar dilindungi menjadi tanda bahwa habitat yang sebelumnya terganggu perlahan mulai pulih.

Smart Forest City Jadi Kunci Pemulihan Habitat

Salah satu faktor utama yang disebut mendorong kembalinya satwa liar ke kawasan IKN adalah penerapan konsep smart-forest city.

Smart-forest city merupakan konsep pembangunan kota yang menggabungkan teknologi modern dengan perlindungan lingkungan hidup.

Dalam konsep ini, kawasan perkotaan dirancang tetap berdampingan dengan hutan dan keanekaragaman hayati sehingga pembangunan tidak memutus habitat satwa liar.

Transformasi kawasan IKN dari lahan bekas konsesi hutan tanaman industri monokultur menjadi kawasan hutan hujan tropis yang lebih beragam disebut menjadi faktor penting di balik pemulihan ekosistem tersebut.

Monokultur sendiri adalah sistem penanaman yang hanya didominasi satu jenis tanaman dalam area luas. Sistem seperti ini umumnya memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang lebih rendah dibandingkan hutan alami.

Sebaliknya, hutan hujan tropis heterogen memiliki banyak jenis vegetasi sehingga mampu menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan yang lebih baik bagi berbagai spesies satwa.

Dalam implementasinya, konsep smart-forest city mewajibkan keberadaan koridor satwa. Koridor satwa adalah jalur hijau yang menghubungkan satu habitat dengan habitat lainnya sehingga satwa dapat berpindah tanpa terisolasi.

Keberadaan koridor tersebut juga berfungsi mencegah isolasi genetika, yaitu kondisi ketika populasi satwa terpisah dan tidak dapat berkembang biak dengan kelompok lain sehingga berisiko menurunkan keragaman genetik.

Wanagama IKN Menjadi Episentrum Restorasi Hutan

Upaya pemulihan habitat terus diperkuat melalui program reboisasi atau penanaman kembali pohon di kawasan Wanagama IKN.

Wanagama IKN merupakan kawasan hutan seluas 621 hektare yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Nusantara. Kawasan ini dikembangkan sebagai pusat pendidikan, penelitian, konservasi, serta restorasi ekosistem hutan hujan tropis.

Selain itu, Wanagama juga diproyeksikan menjadi laboratorium alam yang mendukung pengembangan IKN sebagai kota yang selaras dengan alam.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui kegiatan penanaman pohon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Jumat (5/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Rooting for Future” itu melibatkan Otorita IKN, Universitas Gadjah Mada (UGM), serta PT Pamapersada Nusantara.

Fokus kegiatan diarahkan pada percepatan pembentukan tajuk hutan berlapis.

Tajuk hutan merupakan lapisan dedaunan dan cabang pohon yang membentuk penutup alami di bagian atas hutan. Struktur ini sangat penting bagi satwa arboreal.

Satwa arboreal adalah satwa yang sebagian besar hidup dan beraktivitas di atas pohon, seperti lutung merah dan berbagai jenis burung hutan tropis.

Basuki Hadimuljono: Bukan Sekadar Menanam Pohon

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menegaskan bahwa pembangunan Nusantara tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata.

Menurutnya, upaya yang dilakukan saat ini juga bertujuan mengembalikan kehidupan alam agar dapat berkembang berdampingan dengan aktivitas manusia.

"Hari Lingkungan Hidup tidak hanya kita peringati setahun sekali, tetapi kita jalankan setiap hari. Yang kita lakukan di IKN bukan sekadar menanam pohon, tetapi mengembalikan kehidupan alamnya. Karena itu, kita mulai melihat berbagai satwa seperti beruang madu dan lutung merah kembali terpantau di kawasan IKN. Ini menunjukkan bahwa ekosistem yang kita bangun mulai hidup dan memberikan ruang bagi keanekaragaman hayati untuk berkembang," ujar Basuki.

Basuki menilai kemunculan kembali satwa liar menjadi bukti bahwa koridor hijau yang dibangun mulai berfungsi sebagaimana direncanakan.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan kegiatan menjaga lingkungan sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat dan aparatur sipil negara yang nantinya tinggal serta bekerja di Nusantara.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan IKN sebagai kota modern yang tetap mengedepankan keberlanjutan lingkungan.

Kementerian Kehutanan Jaga Keseimbangan Ekosistem

Pemulihan lingkungan di IKN juga melibatkan Kementerian Kehutanan.

Melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), Muhammad Zainal Arifin, pemerintah turut melakukan penyesuaian tata ruang aliran sungai di kawasan IKN.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas ketersediaan air tanah yang menjadi kebutuhan penting berbagai satwa liar.

Ketersediaan sumber air dinilai berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup satwa terrestrial atau satwa yang hidup di daratan, termasuk rusa sambar yang kini kembali terpantau di kawasan IKN.

Dengan menjaga kondisi hidrologi atau sistem tata air kawasan, habitat satwa diharapkan dapat terus berkembang secara alami.

UGM Kawal Pemilihan Pohon Endemik
Dari sisi akademik, Universitas Gadjah Mada mengambil peran dalam memastikan pemulihan lingkungan dilakukan berdasarkan pendekatan ilmiah.

UGM membantu proses standardisasi pemilihan bibit pohon yang akan ditanam di kawasan IKN.

Pohon yang dipilih bukan hanya berfungsi sebagai peneduh, melainkan juga memiliki nilai ekologis tinggi serta mampu menjadi sumber pakan bagi satwa liar.

Rektor UGM Prof. Ova Emilia menegaskan bahwa kesehatan lingkungan memiliki hubungan langsung dengan kualitas hidup manusia.

"Kesehatan bumi pada akhirnya akan menentukan kesehatan manusia. Apa yang kita lakukan hari ini merupakan investasi untuk masa depan. Kami berharap pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang. UGM siap mendukung pengembangan IKN sebagai smart-forest city yang menjadi contoh pembangunan berkelanjutan," ujar Ova.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan berkelanjutan sangat bergantung pada konsistensi menjaga keseimbangan antara struktur flora dan fauna.

Dukungan Swasta Lewat Program Eco Edu Forest

Selain pemerintah dan akademisi, sektor swasta juga ikut terlibat dalam upaya pemulihan ekosistem di IKN.

PT Pamapersada Nusantara mendukung program tersebut melalui pendanaan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Dukungan tersebut diwujudkan melalui pengembangan konsep Eco Edu Forest.

Eco Edu Forest merupakan konsep yang menggabungkan fungsi konservasi lingkungan, pendidikan, dan penelitian dalam satu kawasan terpadu.

Perwakilan PT Pamapersada Nusantara, Gunawan Setiadi, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menghasilkan dampak konservasi yang dapat diukur secara nyata.

"Komitmen ini merupakan pengembangan dari konsep Eco Edu Forest yang mengintegrasikan konservasi, pendidikan, dan penelitian dalam satu kawasan. Kami berharap kawasan ini dapat menjadi laboratorium alam sekaligus pusat edukasi lingkungan yang memberikan manfaat bagi generasi masa depan," kata Gunawan.

Kemunculan Satwa Jadi Indikator Keberhasilan Pemulihan Hutan

Kembalinya beruang madu, lutung merah, rusa sambar, dan berbagai jenis burung hutan ke kawasan IKN menjadi salah satu indikator paling nyata dari proses pemulihan ekosistem yang sedang berlangsung.

Beruang madu sendiri merupakan satwa endemik Asia Tenggara yang berstatus dilindungi dan menjadi fauna identitas Provinsi Kalimantan Timur. Sementara lutung merah merupakan primata khas Kalimantan yang sangat bergantung pada keberadaan tutupan hutan.

Adapun rusa sambar merupakan mamalia herbivora berukuran besar yang membutuhkan habitat luas dengan ketersediaan vegetasi dan sumber air yang memadai.

Meningkatnya frekuensi kemunculan satwa-satwa tersebut menunjukkan bahwa habitat alami di kawasan Nusantara mulai mampu menyediakan kebutuhan dasar kehidupan satwa liar.

Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, pembangunan IKN tidak hanya diarahkan untuk menciptakan pusat pemerintahan baru, tetapi juga membangun model kota masa depan yang berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dan kelestarian alam.

Kemunculan kembali satwa liar di kawasan IKN menjadi gambaran bahwa transformasi menuju smart-forest city mulai terlihat, sekaligus menjadi indikator bahwa proses pemulihan ekosistem hutan hujan tropis di Nusantara terus bergerak ke arah yang positif.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.