Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Puluhan arca batu yang pernah dikumpulkan untuk diselamatkan dari berbagai lokasi di Kabupaten Cirebon kini justru menghadapi nasib yang memprihatinkan.
Situs Batu Arca Pejambon di Kelurahan Pejambon, Kecamatan Sumber, yang semula menjadi tempat penyelamatan benda-benda bersejarah, kini terkesan terlupakan di tengah hamparan sawah dan semak belukar.
Pemandangan itu terlihat jelas saat memasuki kawasan situs.
Dari balik pintu besi bercat putih yang tampak usang, hamparan rumput liar menyambut pengunjung.
Sejumlah arca batu tersusun di dalam sekat-sekat beton, sementara bangunan pelindung yang seharusnya menjaga koleksi bersejarah tersebut terlihat rusak dan sebagian ambruk.
Kondisi itu menambah kesan minimnya perawatan terhadap situs yang menyimpan puluhan arca dengan beragam bentuk.
Beberapa arca tampak mulai terkikis, sebagian lainnya ditumbuhi lumut akibat terus-menerus terpapar panas dan hujan.
Padahal, berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, arca-arca tersebut sebelumnya ditemukan tersebar di berbagai titik, mulai dari area persawahan hingga pinggiran sungai.
Untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah tersebut, seluruh arca kemudian dikumpulkan dalam satu kawasan yang kini dikenal sebagai Situs Batu Arca Pejambon.
Namun setelah ditempatkan di lokasi tersebut, keberadaannya justru dinilai kurang mendapat perhatian.
Bangunan pelindung yang dulu dibangun kini tampak kehilangan fungsinya setelah sebagian struktur mengalami kerusakan dan runtuh.
Di dalam area situs, berbagai jenis arca masih dapat dijumpai.
Ada arca berbentuk tokoh manusia bertubuh gempal, arca menyerupai Ganesha, hingga batu-batu berukir yang diduga memiliki nilai sejarah penting.
Sebagian peneliti dan pegiat budaya menyebut arca-arca tersebut memiliki keterkaitan dengan tradisi megalitik maupun perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di wilayah Cirebon, meski kajian akademis lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan asal-usulnya.
Kondisi situs yang semakin memprihatinkan ini turut menjadi perhatian warga sekitar.
Mereka berharap pemerintah segera melakukan pembenahan agar warisan sejarah tersebut tidak semakin rusak.
Salah seorang warga, Sumartono (33) mengaku, jarang melihat adanya upaya perawatan di kawasan situs tersebut.
Menurutnya, bangunan pelindung yang kini ambruk diduga sudah lama rapuh dan terus terpapar cuaca ekstrem.
“Enggak terawat sih, jarang ada yang merawat ya. Jadi karena kepanasan, kehujanan, apalagi kemarin-kemarin hujan kan ya? Akhirnya ambruk karena kondisinya juga udah rapuh, jadi ya udah enggak keurus,” ujar Sumartono saat ditemui, Jumat (5/6/2026).
Ia berharap kawasan situs dapat kembali dibersihkan dan dirawat sebagaimana mestinya.
Menurutnya, keberadaan situs tersebut seharusnya menjadi aset sejarah yang dijaga bersama.
“Ya maunya sih dirawat. Katanya kan ini situs gitu ya, dirawat, dibersihin rumput-rumputnya gitu tuh,” ucapnya.
Di tengah suasana persawahan yang tenang, Situs Batu Arca Pejambon kini berdiri nyaris tanpa aktivitas.
Hanya suara angin dan serangga yang terdengar mengiringi deretan arca yang tersimpan di lokasi tersebut.
Padahal, situs ini memiliki potensi besar sebagai media edukasi sejarah lokal.
Keberadaannya dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal jejak peradaban dan warisan budaya yang pernah berkembang di Kabupaten Cirebon.
Karena itu, warga berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata segera melakukan konservasi serta penataan kawasan.
Mereka tidak ingin benda-benda bersejarah yang dulu diselamatkan dari berbagai penjuru Cirebon justru perlahan rusak karena kurangnya perhatian dan pemeliharaan.
Baca juga: Museum Talaga Manggung Direnovasi Jadi Lebih Megah, Demi Selamatkan Warisan Sejarah Majalengka