Opini: Membaca Fenomena Bunuh Diri melalui Lensa Stoisisme
Dion DB Putra June 06, 2026 08:19 AM

Oleh: Oswaldus Abur
Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Fenomena bunuh diri merupakan persoalan pelik yang sulit  untuk dipecahkan. 

Di Indonesia kasus ini kian hari kian meningkat. Data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas)  Bareskrim Polri  menunjukan bahwa angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1.270 kasus pada tahun 2025. Realitas  ini tentu  cukup menyedihkan. 

Di tingkat regional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2024 terdapat 226 kasus bunuh diri di NTT. 

Bahkan, tentu masih segar di ingatan kita kasus tragis pada Februari 2026 lalu, ketika  seorang anak SD di Kabupaten Ngada, NTT, nekat mengakhiri hidupnya.  

Baca juga: Opini: Komentar Apa Lagikah yang Tersisa?

Berangkat dari fakta tersebut, penulis kemudian mempertanyakan apa sesungguhkanya yang menyebabkans seseorang sampai pada titik ingin  mengakhiri hidupnya sendiri.  

Psikolog Indonesia, Rose Mini Agoes Salim menegaskan bahwa ada beberapa faktor  yang mendorong  seseorang melakukan tindakan bunuh diri, yaitu depresi, konflik keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, perundungan (bullying), dan isolasi sosial. 

Beberapa faktor pemicu inilah yang menggerakkan  penulis untuk menawarkan pendekatan filsafat Stoisisme  sebagai pisau analisis dalam  membedah kasus bunuh diri yang sedang marak terjadi.  

Stoisisme sebagai Pisau Analisis Kasus Bunuh Diri

Dewasa ini banyak orang mengagumi pemikiran kaum Stoa, bahkan menjadikannnya sebagai prinsip hidup. 

Hal ini dikerenakan filosofi ini mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menemukan ketenangan sejati di tengah gelombang kehidupan. 

Zeno, sebagai pendiri mazbab Stoa, menegaskan tujuan hakiki  hidup manusia adalah hidup secara harmonis dan seimbang yang hanya dicapai melalui  rasionalitas sempurna. 

Hidup secara rasional berarti mampu menguasai nafsu-nafsu liar   yang berpotensi menggerus ketenangan batin. 

Dengan demikian filsafat Stoa menegaskan bahwa kebahagiaan manusia yang sesungguhnya terlepas dari segala aspek lahiriah. 

Selajutnya, individu  yang berpegang teguh  pada filsafat Stoa adalah mereka yang bertindak atas dorongan rasionalitas murni tanpa melulu menghitung untung-rugi, kesenangan, maupun ketidaksenangan. 

Ia belajar menerima segala sesuatu sebagaimana hal itu terjadi di alam semesta, termasuk kemiskinan, penyakit hingga kematian.

Lebih lanjut filsafat  Stoa menerangkan bahwa emosi negatif, perasaan yang meluap-luap dan nafsu liar merupakan  faktor utama yang mempersulit sekaligus menggelapkan rasio manusia.  

Akibatnya, ruang gerak nalar untuk menemukan solusi menjadi lumpuh  ketika  berhadapan dengan kenyataan hidup yang anomali. 

Dalam konteks inilah, tindakan bunuh diri dapat ditinjau sebagai bukti nyata dari matinya rasio manusia untuk berpikir jernih; sebuah kondisi di mana seseorang gagal melihat bahwa masih ada jalan  keluar lain  di balik pekatnya   kenyataan yang anggap anomali tersebut. 

Baca juga: Opini: Santarang dan Kisah Sejumlah Jurnal Sastra di NTT

Dengan demikian, filsafat Stoa hadir sebagai kompas  yang menuntun individu untuk mencari dan menemukan kembali kebahagiaan serta makna hidupnya.  

Menurut mazbab ini, kebahagian manusia sama sekali  tidak ditentukan oleh hal-hal yang terjadi di luar kendali dirinya. 

Sebaliknya, manusia diajak untuk menyelaraskan diri dengan kenyataan eksternal, termasuk situasi anomali yang menghimpitnya dengan  cara membiarkan rasionya tetap bekerja secara aktif. 

Secara sederhana,  Stoisisme sebenarnya mengajak kita untuk menyadari sebuah refleksi mendasar:  bahwa  manusia pada hakikatnya tidak akan pernah bisa mengontrol  segala sesuatu  yang terjadi di luar dirinya. 

Satu-satunya hal yang sepenuhnya berada di bawah kendali manusia adalah bagaimana ia bereaksi dan menanggapi kenyataan luar tersebut. 

Bunuh Diri dalam Lensa Stoisisme

Fenomena bunuh diri merupakan sebuah realitas kompleks yang dipicu oleh berbagai faktor  seperti tekanan ekonomi, krisis keluarga, kegagalan studi, hingga keretakan hubungan percintaan.  

Berbagai  faktor eksternal ini seringkali menjadi pemicu utama (trigger) bagi seseorang untuk mengakhiri hidupnya. 

Beban eksternal yang begitu berat membawa dampak yang luar biasa bagi keadaan internal (psikis) seseorang.  

Ketika beban eksternal tersebut  tidak mampu diproses secara sehat oleh kapasitas internalnya,  tindakan bunuh diri kerap kali dianggap satu-satunya jalan pintas

Jika dipandang dari lensa Stoisisme, fenomena ini dikategorikan sebagai tindakan yang irasional. 

Hal ini dikarenakan keputusan bunuh diri sebenarnya tindakan yang tidak didasarkan pada penggunaan rasio muni. 

Lebih lanjut, filsafat Stoa menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang sepenuhnya  didominasi oleh ledakan  emosi dan perasaan negatif. 

Dominasi emosional ini menutup ruang bagi rasio untuk mencerna dan memproses setiap faktor eksternal yang menghantam diri seseorang. 

Sebagaimana penjelasan prinsip Stoa sebelumnya, individu yang tunduk pada kendali  emosi, perasaan dan nafsu akan sangat mudah terjerembab dalam kekacauan batin. 

Dalam konteks ini, tidaklah berlebihan  untuk  dikatakan bahwa bunuh diri adalah akibat nyata dari dominasi perasaan yang melahirkan reaksi berlebihan terhadap keadaan di luar diri yang secara eksistensial memang berada  di luar kontrol manusia. 

Oleh karena itu, kontribusi utama filsafat Stoa dalam mengatasi fenomena ini adalah pemulihan fungsi  rasionalitas. 

Rasionalitas inilah yang  memampukan seseorang untuk mengontrol reaksinya terhadap faktor eksternal secara lebih bijaksana. 

Sederhananya, manusia memang  tidak akan pernah bisa mendikte situasi atau keadaan di luar dirinya, tetapi ia sepenuhnya mampu  mengendalikan  respon internalnya terhadap situasi tersebut dengan mengoptimalkan kerja rasio. 

Stoisisme: Satu dari Banyak Jalan

Pada akhirnya, fenomena bunuh diri tetaplah sebuah labirin masalah yang sangat kompleks. 

Solusinya tidak pernah tunggal maupun  mudah ditemukan, sebab tindakan bunuh diri merupakan akumulasi reaktif dari  pergolakan  batin yang sangat personal. 

Bagaimanapun, satu-satunya  pihak yang mengetahui dengan pasti alasan di balik keputusan fatal tersebut adalah subjek itu sendiri. 

Dalam peta pencarian solusi tersebut, filsafat Stoa hadir sebagai sebuah pendekatan antisipatif yang menawarkan  satu dari sekian banyak jalan keluar. 

Stoisisme  mengajak manusia untuk terus  mencari dan menemukan makna hidup dengan mengoptimalkan fungsi rasio sekaligus  menyelaraskan diri dengan realitas konkret yang sedang dihadapi. 

Faktor-faktor eksternal yang menghantam kehidupan, idealnya tidak sampai melumpuhkan ketahanan mental manusia, apalagi menghantarnya pada keputusan batin, asalkan ia mau memberi ruang bagi rasio untuk bekerja dan memproses stimulus tersebut dengan jernih. 

Sebab pada kesimpulannya, kebahagiaan sejati  akan luruh seketika  jika manusia membiarkan dirinya didikte dan dinavigasi oleh faktor-faktor eksternal yang secara fundamental berada di luar kapasitasnya untuk mengontrol. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.