Oleh: Oswaldus Abur
Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Fenomena bunuh diri merupakan persoalan pelik yang sulit untuk dipecahkan.
Di Indonesia kasus ini kian hari kian meningkat. Data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri menunjukan bahwa angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1.270 kasus pada tahun 2025. Realitas ini tentu cukup menyedihkan.
Di tingkat regional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2024 terdapat 226 kasus bunuh diri di NTT.
Bahkan, tentu masih segar di ingatan kita kasus tragis pada Februari 2026 lalu, ketika seorang anak SD di Kabupaten Ngada, NTT, nekat mengakhiri hidupnya.
Baca juga: Opini: Komentar Apa Lagikah yang Tersisa?
Berangkat dari fakta tersebut, penulis kemudian mempertanyakan apa sesungguhkanya yang menyebabkans seseorang sampai pada titik ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Psikolog Indonesia, Rose Mini Agoes Salim menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan bunuh diri, yaitu depresi, konflik keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, perundungan (bullying), dan isolasi sosial.
Beberapa faktor pemicu inilah yang menggerakkan penulis untuk menawarkan pendekatan filsafat Stoisisme sebagai pisau analisis dalam membedah kasus bunuh diri yang sedang marak terjadi.
Dewasa ini banyak orang mengagumi pemikiran kaum Stoa, bahkan menjadikannnya sebagai prinsip hidup.
Hal ini dikerenakan filosofi ini mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menemukan ketenangan sejati di tengah gelombang kehidupan.
Zeno, sebagai pendiri mazbab Stoa, menegaskan tujuan hakiki hidup manusia adalah hidup secara harmonis dan seimbang yang hanya dicapai melalui rasionalitas sempurna.
Hidup secara rasional berarti mampu menguasai nafsu-nafsu liar yang berpotensi menggerus ketenangan batin.
Dengan demikian filsafat Stoa menegaskan bahwa kebahagiaan manusia yang sesungguhnya terlepas dari segala aspek lahiriah.
Selajutnya, individu yang berpegang teguh pada filsafat Stoa adalah mereka yang bertindak atas dorongan rasionalitas murni tanpa melulu menghitung untung-rugi, kesenangan, maupun ketidaksenangan.
Ia belajar menerima segala sesuatu sebagaimana hal itu terjadi di alam semesta, termasuk kemiskinan, penyakit hingga kematian.
Lebih lanjut filsafat Stoa menerangkan bahwa emosi negatif, perasaan yang meluap-luap dan nafsu liar merupakan faktor utama yang mempersulit sekaligus menggelapkan rasio manusia.
Akibatnya, ruang gerak nalar untuk menemukan solusi menjadi lumpuh ketika berhadapan dengan kenyataan hidup yang anomali.
Dalam konteks inilah, tindakan bunuh diri dapat ditinjau sebagai bukti nyata dari matinya rasio manusia untuk berpikir jernih; sebuah kondisi di mana seseorang gagal melihat bahwa masih ada jalan keluar lain di balik pekatnya kenyataan yang anggap anomali tersebut.
Baca juga: Opini: Santarang dan Kisah Sejumlah Jurnal Sastra di NTT
Dengan demikian, filsafat Stoa hadir sebagai kompas yang menuntun individu untuk mencari dan menemukan kembali kebahagiaan serta makna hidupnya.
Menurut mazbab ini, kebahagian manusia sama sekali tidak ditentukan oleh hal-hal yang terjadi di luar kendali dirinya.
Sebaliknya, manusia diajak untuk menyelaraskan diri dengan kenyataan eksternal, termasuk situasi anomali yang menghimpitnya dengan cara membiarkan rasionya tetap bekerja secara aktif.
Secara sederhana, Stoisisme sebenarnya mengajak kita untuk menyadari sebuah refleksi mendasar: bahwa manusia pada hakikatnya tidak akan pernah bisa mengontrol segala sesuatu yang terjadi di luar dirinya.
Satu-satunya hal yang sepenuhnya berada di bawah kendali manusia adalah bagaimana ia bereaksi dan menanggapi kenyataan luar tersebut.
Fenomena bunuh diri merupakan sebuah realitas kompleks yang dipicu oleh berbagai faktor seperti tekanan ekonomi, krisis keluarga, kegagalan studi, hingga keretakan hubungan percintaan.
Berbagai faktor eksternal ini seringkali menjadi pemicu utama (trigger) bagi seseorang untuk mengakhiri hidupnya.
Beban eksternal yang begitu berat membawa dampak yang luar biasa bagi keadaan internal (psikis) seseorang.
Ketika beban eksternal tersebut tidak mampu diproses secara sehat oleh kapasitas internalnya, tindakan bunuh diri kerap kali dianggap satu-satunya jalan pintas
Jika dipandang dari lensa Stoisisme, fenomena ini dikategorikan sebagai tindakan yang irasional.
Hal ini dikarenakan keputusan bunuh diri sebenarnya tindakan yang tidak didasarkan pada penggunaan rasio muni.
Lebih lanjut, filsafat Stoa menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang sepenuhnya didominasi oleh ledakan emosi dan perasaan negatif.
Dominasi emosional ini menutup ruang bagi rasio untuk mencerna dan memproses setiap faktor eksternal yang menghantam diri seseorang.
Sebagaimana penjelasan prinsip Stoa sebelumnya, individu yang tunduk pada kendali emosi, perasaan dan nafsu akan sangat mudah terjerembab dalam kekacauan batin.
Dalam konteks ini, tidaklah berlebihan untuk dikatakan bahwa bunuh diri adalah akibat nyata dari dominasi perasaan yang melahirkan reaksi berlebihan terhadap keadaan di luar diri yang secara eksistensial memang berada di luar kontrol manusia.
Oleh karena itu, kontribusi utama filsafat Stoa dalam mengatasi fenomena ini adalah pemulihan fungsi rasionalitas.
Rasionalitas inilah yang memampukan seseorang untuk mengontrol reaksinya terhadap faktor eksternal secara lebih bijaksana.
Sederhananya, manusia memang tidak akan pernah bisa mendikte situasi atau keadaan di luar dirinya, tetapi ia sepenuhnya mampu mengendalikan respon internalnya terhadap situasi tersebut dengan mengoptimalkan kerja rasio.
Pada akhirnya, fenomena bunuh diri tetaplah sebuah labirin masalah yang sangat kompleks.
Solusinya tidak pernah tunggal maupun mudah ditemukan, sebab tindakan bunuh diri merupakan akumulasi reaktif dari pergolakan batin yang sangat personal.
Bagaimanapun, satu-satunya pihak yang mengetahui dengan pasti alasan di balik keputusan fatal tersebut adalah subjek itu sendiri.
Dalam peta pencarian solusi tersebut, filsafat Stoa hadir sebagai sebuah pendekatan antisipatif yang menawarkan satu dari sekian banyak jalan keluar.
Stoisisme mengajak manusia untuk terus mencari dan menemukan makna hidup dengan mengoptimalkan fungsi rasio sekaligus menyelaraskan diri dengan realitas konkret yang sedang dihadapi.
Faktor-faktor eksternal yang menghantam kehidupan, idealnya tidak sampai melumpuhkan ketahanan mental manusia, apalagi menghantarnya pada keputusan batin, asalkan ia mau memberi ruang bagi rasio untuk bekerja dan memproses stimulus tersebut dengan jernih.
Sebab pada kesimpulannya, kebahagiaan sejati akan luruh seketika jika manusia membiarkan dirinya didikte dan dinavigasi oleh faktor-faktor eksternal yang secara fundamental berada di luar kapasitasnya untuk mengontrol. (*)