Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe dinilai memiliki peluang besar berkembang menjadi pusat petrokimia nasional di Indonesia bagian barat jika cadangan Gas Andaman dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan industri hilir di Aceh.
Sosiolog sekaligus Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Humam Hamid, mengatakan pembahasan mengenai proyek Gas Andaman seharusnya tidak berhenti pada persoalan lokasi fasilitas pengolahan gas.
Menurutnya, yang lebih penting adalah bagaimana cadangan gas tersebut mampu menjadi penggerak industrialisasi Aceh dalam jangka panjang.
“Visi besar Aceh seharusnya bukan sekadar memiliki fasilitas pengolahan gas, tetapi menjadikan KEK Arun sebagai pusat petrokimia nasional di Indonesia bagian barat dan hub industri berbasis gas untuk pasar Indo-Pasifik,” kata Humam, Sabtu (2
Menurutnya, KEK Arun memiliki sejumlah keunggulan yang sulit dimiliki kawasan lain. Selain pernah menjadi pusat industri gas nasional, kawasan tersebut telah didukung pelabuhan laut dalam, infrastruktur energi, kawasan industri yang luas, serta pengalaman panjang dalam pengelolaan industri migas.
Humam menilai infrastruktur yang tersedia saat ini merupakan aset strategis yang nilainya sangat besar. Jika harus dibangun dari awal, dibutuhkan investasi hingga miliaran dolar Amerika Serikat.
Selain faktor infrastruktur, posisi geografis Aceh juga dinilai sangat menguntungkan. Aceh berada di pintu masuk Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan kawasan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa.
Baca juga: Kemensos Buka 8.180 Formasi PPPK Guru dan Tendik Sekolah Rakyat 2026, Ini Syarat & Jadwal Seleksinya
Baca juga: South Andaman dan Nasib Aceh: Mengapa Sikap Mualem Harus Didukung Penuh?
“Dari Arun, akses logistik ke India, Bangladesh, Pakistan, dan negara-negara ASEAN sangat kompetitif. Ini merupakan keunggulan yang harus dimanfaatkan,” ujarnya.
Humam menjelaskan negara-negara di kawasan Asia Selatan, terutama India dan Bangladesh, merupakan pasar yang sangat potensial bagi produk-produk industri berbasis gas. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kebutuhan industri yang terus meningkat membuat permintaan terhadap pupuk, amonia, metanol, hingga berbagai produk petrokimia diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang.
Karena itu, ia menilai Gas Andaman seharusnya tidak hanya dipandang sebagai komoditas energi yang dijual dalam bentuk gas mentah atau LNG. Sebaliknya, sumber daya tersebut perlu dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membangun industri hilir yang mampu menciptakan nilai tambah lebih besar bagi daerah.
“Kalau hanya menjual gas mentah, nilai tambahnya paling rendah. Kalau diolah menjadi LNG, manfaatnya lebih baik. Tetapi nilai ekonomi terbesar akan diperoleh jika gas tersebut digunakan untuk mengembangkan industri pupuk, amonia, metanol, dan petrokimia,” katanya.
Menurut Humam, pengembangan industri hilir berbasis gas juga akan menciptakan efek pengganda ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan aktivitas produksi migas. Selain membuka lapangan kerja di sektor industri, manfaatnya juga akan dirasakan sektor logistik, pelabuhan, pergudangan, jasa teknik, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian dari rantai pasok industri.
Ia menegaskan, keberadaan Gas Andaman harus dijadikan momentum untuk membangun fondasi ekonomi baru bagi Aceh yang lebih berkelanjutan.
“Yang harus diperjuangkan bukan sekadar lokasi fasilitas pengolahan gas, tetapi bagaimana KEK Arun tumbuh menjadi pusat industri berbasis gas yang mampu mengubah struktur ekonomi Aceh secara permanen,” ujar Humam.
Baca juga: Sempat Naik Tajam, Harga Emas di Abdya Kembali Bertahan, Cek Pasarannya, 6 Juni 2026