TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Grup musik kenamaan Slank resmi merilis album studio ke-26 bertajuk Republik Fufufafa.
Berbeda dari sekadar album hiburan, karya terbaru ini menjadi cara Slank merekam berbagai fenomena sosial yang sedang terjadi di tengah masyarakat melalui musik dan lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Rupiah Kian Loyo, Bimbim Slank Yakin Momen 1998 Tak Terulang Jika Kritik Tak Dibungkam
Peluncuran album itu bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tema tersebut juga sejalan dengan sejumlah lagu dalam album yang menyoroti isu lingkungan, sosial, hingga kondisi masyarakat saat ini.
Bagi drummer sekaligus motor kreatif Slank, Bimbim, proses penulisan lagu dalam album ini memang banyak dipengaruhi berbagai peristiwa yang menjadi perhatian publik sepanjang tahun terakhir.
Lagu-lagu tersebut ditulis sebagai bentuk respons sekaligus dokumentasi atas realitas yang terjadi.
Senada dengan Bimbim, vokalis Kaka menjelaskan bahwa musik dan lirik dalam album terbaru Slank lahir dari kebiasaan mereka mengikuti perkembangan isu yang ramai diperbincangkan masyarakat.
Meski mengangkat berbagai isu aktual, Slank memastikan identitas mereka tetap terasa kuat dalam album ini.
Seperti album-album sebelumnya, Republik Fufufafa tetap memuat empat unsur yang selalu menjadi ciri khas grup tersebut, yakni cinta, alam, sosial, dan anak muda.
Album yang proses rekamannya dilakukan selama Ramadan 2025 itu berisi 10 lagu baru dengan warna musik yang beragam.
Mulai dari rock alternatif, rock n' roll, hingga balada melankolis yang menjadi ruang eksplorasi baru bagi Slank.
Sebelum album dirilis, dua lagu ciptaan Bimbim, yakni "Republik Fufufafa" dan "PPN 12 persen", lebih dulu diperkenalkan ke publik.
Kedua lagu tersebut langsung menyita perhatian karena mengangkat isu sosial yang sedang hangat dibicarakan dan sempat menjadi perbincangan luas di media sosial.
Salah satu lagu yang menjadi sorotan dalam album ini adalah "Rusak Ancur", lagu ciptaan Bimbim tersebut menjadi medium kritik keras terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi akibat ulah manusia dan berbagai kepentingan yang mengabaikan kelestarian alam.
Sementara itu, Kaka menyumbangkan lagu "Jangan Rakus" yang berisi pesan sederhana agar masyarakat tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dan belajar merasa cukup atas apa yang dimiliki.
Selain lagu-lagu bertema sosial, Republik Fufufafa juga menghadirkan sejumlah lagu cinta seperti "Di Dekatmu", "My Rinduku", hingga "Ku Tak Mungkin".
Ada pula lagu personal berjudul "Papa Sid" yang ditulis Bimbim sebagai ungkapan kehilangan terhadap sosok panutannya, Pak Sidharta.
Untuk perilisannya, album Republik Fufufafa lebih dulu tersedia dalam format digital di berbagai platform streaming musik.
Dalam waktu dekat, Slank juga akan menghadirkan versi fisik dalam format kaset, CD, dan vinyl dengan desain sampul berbeda untuk setiap edisinya.