Banting Setir, Penjual Baju di Bandar Lampung Pilih Dagang Es Cendol, Favorit Mahasiswa
Robertus Didik Budiawan Cahyono June 06, 2026 01:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Suasana cerah menyelimuti area parkir Universitas Lampung (Unila) yang berlokasi di Jalan Prof. Dr. Ir. Sumantri Brojonegoro No. 1, Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Sabtu (6/6/2026) pagi. 

Baca juga: Resep Takjil Es Cendol Tepung Beras

Deretan stan makanan dan minuman tampak memadati kawasan tersebut, di antara banyaknya stan yang berjejer, Cendol Ketan Khas Padang menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian karena dipadati pembeli.

Marsusi Fitrina atau yang akrab disapa Uni Pipit bercerita awal mula dirinya berjualan es cendol karena penurunan omzet usaha pakaian miliknya di Bambu Kuning.

“Saya dari dulu berjualan baju di Bambu Kuning, karena omzet jualan baju makin menurun, akhirnya saya putar otak buat buka usaha lain,” ungkapnya saat ditemui di stan miliknya pada Sabtu (6/6/2026).

Kondisi pasar yang lesu membuat omzet bisnis pakaiannya menurun drastis. Situasi tersebut mendorongnya untuk mencari alternatif usaha lain.

Saat kebingungan mencari ide usaha, ia terinspirasi untuk berjualan es cendol dari saudaranya di Jakarta.

"Waktu itu saudara saya buka usaha cendol di Jakarta. Saya coba rasanya enak, lalu kepikiran kenapa tidak mencoba jualan juga di Lampung," kenangnya.

Saat menghadiri sebuah acara keluarga, ia mendapat kesempatan mencicipi minuman tersebut dan langsung tertarik. Saat itu, Pipit masih aktif menjalankan bisnis pakaian.

“Setelah coba, saya akhirnya mulai buat sendiri di rumah, coba-coba resep yang saya ketahui,” jelasnya.

Menurut Pipit, cendol yang dibuatnya memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan cendol Padang lainnya. 

Jika kebanyakan cendol menggunakan tepung beras sebagai bahan utama, cendol racikannya dibuat dari campuran tepung ketan dan tepung sagu.

"Kalau cendol pada umumnya banyak yang pakai tepung beras. Kalau punya saya dari tepung ketan dan tepung sagu, jadi teksturnya lebih kenyal dan berbeda," ujar Pipit.

Tak hanya berbeda dari segi bahan, proses pembuatannya pun membutuhkan waktu lebih lama. 

Pipit mengungkapkan bahwa adonan harus dimasak hingga sekitar dua setengah jam agar menghasilkan tekstur yang sempurna.

"Kalau yang lain mungkin sekitar satu jam sudah selesai. Kalau saya bisa sampai dua setengah jam,  gulanya juga lebih kental dan prosesnya lebih lama," katanya.

Berkat keunikan resep dan cita rasa yang berbeda dari cendol pada umumnya, usahanya kini menjadi favorit berbagai kalangan, terutama mahasiswa di kawasan Universitas Lampung (Unila).

Berjualan dari Toko ke Toko

Pada awal merintis usaha pada 2024 lalu, Pipit belum memiliki lapak khusus. 

Ia menawarkan produknya secara langsung ke berbagai toko dan rekan-rekannya sembari ia berjualan baju di kawasan Bambu Kuning.

"Saya tawarkan dari satu toko ke toko lainnya. Alhamdulillah responsnya bagus dan banyak yang suka," katanya.

Seiring berjalannya waktu, pelanggan mulai berdatangan dan banyak yang melakukan pembelian ulang. 

Saat ini Pipit fokus berjualan es cendol di stan yang dibukanya Sabtu-Minggu di area Parkir Unila.

Bahkan dalam satu hari berjualan, dagangannya sering habis terjual hingga 100 cup.

"Kalau dibawa jualan biasanya habis. Kadang justru saya yang tidak sempat membuat lebih banyak karena masih mengerjakan semuanya sendiri," ujarnya sambil tersenyum.

Cendol miliknya dijual dengan harga yang terjangkau, yakni Rp10 ribu per cup.

"Alhamdulillah, mahasiswa banyak yang suka. Responnya baik dan sampai sekarang masih terus berjalan," ujarnya.

Tantangan Keluar dari Zona Nyaman

Berpindah dari bisnis pakaian ke usaha kuliner bukanlah hal yang mudah bagi Pipit. Ia mengaku harus bekerja lebih keras dibandingkan saat berjualan fashion.

"Kalau jualan baju kan tinggal beli barang lalu jual, sambil santai dan duduk juga bisa. Kalau makanan lebih capek karena harus produksi sendiri dari awal di pagi hari," katanya.

Pipit juga menceritakan bahwa selain hal produksi, tantangannya yaitu soal cuaca yang tidak menentu.

Saat musim hujan melanda, penjualan minuman cendol milik Pipit mengalami penurunan. "Kalau hujan tentu berpengaruh. Orang biasanya jadi tidak terlalu mencari es," katanya.

Omzet Jutaan Rupiah

Meski menghadapi berbagai tantangan, usaha cendol ketan khas Padang yang dijalankan Pipit mampu memberikan tambahan penghasilan yang cukup menjanjikan. 

Dengan jadwal berjualan sekitar delapan kali dalam sebulan, omzet yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp3 juta.

Saat ini, Pipit mulai berjualan sejak pukul 07.00 WIB dan biasanya tutup sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB atau saat dagangan habis terjual.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.