Grid.ID – Antusiasme publik terhadap sepak bola Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik harapan untuk melihat Timnas Indonesia bersaing di panggung dunia, sejumlah pengamat menilai masih ada persoalan mendasar yang perlu diselesaikan, terutama terkait kualitas kompetisi dan profesionalisme pengelolaannya.
Pandangan tersebut mengemuka dalam peluncuran buku Sepak Bola Kita Semua dan Ragam Warna Sepak Bola karya jurnalis olahraga senior Adi Prinantyo di Kompas Institute, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Berbekal pengalaman panjang meliput dunia sepak bola nasional, Adi melihat sejumlah persoalan yang pernah muncul bertahun-tahun lalu masih menjadi tantangan hingga saat ini. Menurutnya, isu profesionalisme belum sepenuhnya menemukan titik terang.
“Situasinya terus berulang. Dua dekade ini sepak bola kita tidak begitu banyak beranjak dari soal profesionalisme,” ujar Adi Prinantyodi Kompas Institute, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dalam pemaparannya, Adi menyinggung berbagai persoalan yang kerap menghiasi sepak bola nasional, mulai dari tata kelola kompetisi, konflik kepentingan di tingkat pengelola, hingga perhatian terhadap sepak bola perempuan yang dinilai belum optimal.
Kegelisahan tersebut juga terekam dalam berbagai tulisan yang pernah ia hasilkan selama berkarier sebagai wartawan olahraga. Salah satunya adalah artikel berjudul Pepesan Kosong Indonesia Super League yang mengulas berbagai catatan terhadap penyelenggaraan kompetisi nasional.
“Yang pertama tentu syarat kompetisi yang ideal adalah profesionalisme,” kata Adi.
Meski memuat berbagai catatan kritis, kedua buku tersebut tidak hanya berbicara mengenai persoalan kompetisi. Adi juga menghadirkan beragam cerita yang menunjukkan sisi lain sepak bola, termasuk nilai-nilai kemanusiaan yang kerap luput dari sorotan publik.
“Kalau membaca buku ini akan jadi tahu sepak bola yang sebenarnya,” ujarnya.
Kedua buku itu menjadi refleksi perjalanan Adi selama bertahun-tahun mengamati sepak bola Indonesia melalui ribuan artikel yang telah ditulisnya sebagai jurnalis.
Dalam kesempatan yang sama, wartawan olahraga senior Sapto Haryo Rajasa turut menyoroti pentingnya membangun kompetisi yang sehat dan profesional. Menurutnya, perbaikan di level liga menjadi salah satu syarat utama untuk menciptakan sistem pembinaan pemain yang berkelanjutan.
“Tanpa profesionalisme yang kuat, sepak bola kita akan terus menghadapi persoalan yang sama dari waktu ke waktu,” kata Sapto.
Ia menilai kualitas kompetisi memiliki hubungan langsung dengan proses pembinaan talenta muda. Sapto kemudian mencontohkan Thailand yang telah lebih dulu menerapkan sistem pengembangan pemain melalui keterlibatan klub profesional sejak usia remaja.
“Untuk menuju Piala Dunia jelas kita butuh liga yang berkualitas. Pemain Thailand sejak usia 14 tahun sudah terafiliasi dengan klub profesional di sana, sedangkan pemain kita belum,” tuturnya.
Pesan yang muncul dari diskusi tersebut menunjukkan bahwa target besar sepak bola Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada performa tim nasional. Di baliknya, diperlukan fondasi kompetisi yang kuat agar proses pembinaan pemain dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.