Mahasiswa FEB Unud Menilik Proyek Percontohan Rendah Emisi di Sanur Bali
Putu Dewi Adi Damayanthi June 06, 2026 03:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Ruang kuliah kini tidak lagi terbatas pada dinding-dinding beton.

Suasana pagi di Kawasan Pesisir Sanur tampak berbeda dengan kehadiran rombongan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana.

Didampingi oleh WRI Indonesia, para mahasiswa ini menyusuri kawasan Sanur menggunakan shuttle listrik dan berjalan kaki.

Agenda mereka bukan sekadar pelesiran, melainkan melakukan observasi langsung terhadap implementasi Kawasan Rendah Emisi Sanur sebuah proyek percontohan yang memadukan inisiatif keberlanjutan, optimalisasi tata ruang kota, dan mobilitas ramah lingkungan.

Baca juga: WAGUB Giri Prasta Tegaskan UMKM Bali Penopang Utama Ekonomi Kerthi Bali, Gelar Akad Massal di Unud

Struktur ekonomi Bali saat ini dinilai masih rentan karena terlampau bertumpu pada sektor pariwisata konvensional (mass tourism).

Kehadiran Bali Low Emission Zone Initiatives (BLEZI) diharapkan mampu menjadi motor penggerak transformasi menuju ekonomi hijau yang lebih mengutamakan kualitas pariwisata di Pulau Dewata.

Dalam diskusi "Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi", Okan, salah satu mahasiswa FEB Universitas Udayana, menyoroti tantangan besar yang dihadapi sektor pariwisata Bali dalam upaya menekan emisi.

“Bali ini memiliki dua tujuan besar, mengingat kedua tujuan ini para realitanya cenderung bertentangan. Satu sisi ingin menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya, namun pada sisi lain Bali ini memiliki visi mencapai Bali Emisi Nol Bersih/Bali Net Zero Emission di tahun 2045. Semakin banyak kunjungan pasti meningkatkan kebutuhan mobilitas," jelas Okan, Sabtu 6 Juni 2026.

Kendati menantang, inisiatif BLEZI di Sanur dinilai membuka peluang besar.

Komang Agus, mahasiswa FEB Universitas Udayana lainnya, melihat program ini dapat memberikan citra baru bagi Bali sekaligus menguntungkan secara ekonomi.

“Zero emisi ini bisa mengubah wajah Bali yang memberi kesan Bali yang nyaman dan green. Dalam kuliah ada studi ekonomi pembangunan berkelanjutan, yang sejalan dengan inisiatif ini. Dengan inisiatif ini tentu akan menarik minat investor untuk datang, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi," bebernya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Maria Silaen, Low Carbon Mobility Specialist WRI Indonesia.

Ia memaparkan bahwa pariwisata berkontribusi hingga 32 persen terhadap PAD Kota Denpasar.

Namun, karena sifatnya yang sensitif, perkembangannya tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, melainkan harus menjaga kualitas lingkungan.

“Semakin banyak mobilitas maka semakin banyak juga emisinya. Sekitar 41 persen emisi di tahun 2024 berasal dari sektor transportasi. Kita ingin mengurangi emisi tetapi ekonomi tetap tumbuh, jadi menyasar pada aktivitas yang mulai beralih menggunakan transportasi umum, kendaraan listrik, sepeda, dan berjalan kaki yang merupakan bagian dari mobilitas rendah emisi," kata Maria.

Ditinjau dari perspektif akademis, Putu Krisna Adwitya Sanjaya selaku Dosen Program Sarjana Ekonomi FEB Universitas Udayana, menegaskan bahwa target rendah emisi merupakan bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) yang wajib diselesaikan melalui tindakan nyata jangka panjang.

“Bagaimana kita bisa bertindak secara langsung untuk perencanaan masa mendatang, tidak hanya perencanaan jangka pendek seperti yang dipelajari dalam ilmu ekonomi pembangunan berkelanjutan. Saya kira apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman WRI Indonesia ini bersama desa adat sudah menjadi langkah serius untuk lingkungan," jelas Krisna.

Krisna juga menambahkan bahwa dinamika dunia kerja saat ini telah melahirkan tren baru seperti green jobsdan digital nomad.

Model kerja fleksibel ini bisa menjadi alternatif karier masa depan yang menarik bagi generasi muda Bali di luar sektor pariwisata konvensional, sekaligus efektif memangkas kebutuhan mobilitas harian.

Sebagai destinasi global yang kerap menjadi tuan rumah forum internasional bertema pembangunan berkelanjutan, keterlibatan aktif masyarakat dan akademisi lokal Bali dianggap krusial agar nilai-nilai keberlanjutan ini tertanam sebagai rasa kepemilikan bersama.

Di akhir diskusi, Krisna berharap aksi nyata ini dapat memicu kontribusi akademis yang lebih mendalam.

“Bagaimana kita sebagai civitas akademika dan masyarakat di Bali ke depannya tidak hanya menjadi penonton saja, melainkan ikut serta mengambil peran strategis dalam perencanaan berkelanjutan yang berorientasi lingkungan, sejalan dengan Palemahan dalam Tri Hita Karana. Harapannya dengan kunjungan ini dan dialog dalam Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi, dari skala mahasiswa juga ada yang mulai tertarik untuk mengambil penelitian atau skripsi yang berhubungan dengan keberlanjutan,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.