Respons Pengamat UGM Soal Peringatan Noel Ebenezer Terkait Potensi Eskalasi Sosial Politik Juni-Juli
Muhammad Fatoni June 06, 2026 03:03 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, menilai potensi gejolak sosial dan politik yang belakangan disinggung mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel, sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam merespons berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.

Menurut Arie, yang paling penting saat ini adalah bagaimana negara mampu mengatasi berbagai krisis yang terjadi. 

“Ya, chaos dan tidak kan sebetulnya tergantung negara memperlakukan masalah ini. Tapi yang paling penting itu, krisis ini terjadi, harus diatasi. Kalau negara tidak peka atau tidak memiliki langkah-langkah strategis dalam jangka pendek maupun jangka menengah, apa pun bisa terjadi gitu,” ujar Arie pada wartawan di GIK UGM Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).

Arie menilai sejumlah indikator ekonomi saat ini tidak bisa dianggap remeh.

Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga kenaikan sejumlah kebutuhan dasar yang dirasakan masyarakat.

“Tapi saya rasa kalau kita bisa lihat di dalam tren misalnya penurunan nilai rupiah terhadap dolar, terus kemudian misalnya soal listrik dan sebagainya diam-diam juga dinilai naik dan seterusnya. Itu PR yang sudah tidak bisa dianggap ringan, dan negara harus kredibel untuk menjawab problem ini,” tambah Wakil Rektor UGM ini.

Ia menambahkan, kondisi tersebut saat ini telah melahirkan tantangan politik dan ekonomi yang harus segera direspons pemerintah.

“Karena dengan cara seperti itu, suka tidak suka, sekarang ini terjadi krisis politik dan krisis ekonomi. Dan kalau negara tidak segera merespons, orang bisa berspekulasi atas apa pun gitu,” urainya.

Baca juga: Pengamat UGM: Ganti Kepala BGN Saja Tak Cukup, Sistem Harus Dibenahi

Arie menegaskan bahwa potensi gejolak sangat bergantung pada perkembangan krisis yang terjadi.

“Saya enggak tahu maksudnya Noel ya, tapi saya rasa tergantung krisis ini. Kalau krisis ini tidak terkendali misalnya soal rupiah, terus kemudian harga-harga naik gitu, terus kesulitan, ya orang bisa berspekulasi atas apa pun. Tapi buatku, yang penting itu penyelamatan rakyat dan bangsa,” ulasnya.

Saat ditanya mengenai langkah mitigasi yang dilakukan UGM terhadap mahasiswa terkait kemungkinan situasi tersebut, Arie menilai mahasiswa memiliki cara pandang dan logikanya sendiri dalam merespons berbagai realitas sosial dan politik.

“Ya mahasiswa itu punya cara dan logikanya sendiri dalam merespons realitas,” imbuhnya.

Peringatan Noel

Sebelumnya, Noel menyampaikan peringatan kepada Presiden Prabowo Subianto usai menjalani sidang vonis kasus Gratifikasi K3 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Ia menyebut akan terjadi peristiwa besar pada Juni hingga Juli yang berpotensi memicu eskalasi politik untuk menggulingkan pemerintahan.

“Dan satu lagi saya coba ingatkan Pak Prabowo. Dalam bulan Juni-Juli ini akan ada peristiwa besar. Ada eskalasi politik yang ujungnya adalah menggulingkan pemerintahan Prabowo,” jelas Noel dikutip dari Tribunnews.com.

Noel bahkan menilai peristiwa serupa Reformasi 1998 bisa kembali terjadi apabila pemerintah tidak peka membaca kondisi yang berkembang.

“Konsolidasi sipil, mahasiswa, buruh dan semuanya. Tinggal satu, butuh satu pemicu. Dan 98 jilid dua akan terjadi tidak lama lagi,” kata Noel.

Ia pun menyarankan Presiden Prabowo untuk memperkuat dukungan dari sosok-sosok yang loyal dan strategis guna menghadapi dinamika politik yang berkembang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.