Kesaksian Korban Dugaan Pembakaran Santri di Lombok, Berawal dari Kasus Perundungan
Idham Khalid June 06, 2026 03:06 PM

 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Tiga orang santri pondok pesantren di Lombok Tengah diduga menjadi korban pembakaran yang disengaja oleh seorang kakak kelas pada November 2025 lalu.

Kasus dugaan pembakaran ini baru viral, setelah video para korban dirawat di rumah sakit dengan kondisi penuh dengan luka bakar beredar di media sosial.

Salah satu korban SAL (13) menuturkan peristiwa itu terjadi pada siang hari ketika dirinya bersama beberapa santri lain berada di dalam sebuah ruangan.

"Kejadian siang, kami disuruh masuk dalam ruangan. Saya di ruangan itu berlima sama yang membakar," ujarnya, Kamis (4/6/2026).

Menurut SAL, hanya ada satu orang yang diduga melakukan aksi pembakaran. Ia mengaku bersama tiga santri lainnya sempat terjebak di dalam ruangan saat api mulai membesar. "Yang membakar satu orang," katanya.

Ia mengaku ruangan tersebut terbakar setelah pelaku diduga sengaja menyalakan api. Dalam kejadian itu, dua orang berhasil keluar, termasuk terduga pelaku.

"Saya terjebak bersama tiga orang di dalam kamar dengan kobaran api. Teman saya satu ada yang meninggal," ujarnya.

SAL juga membantah informasi yang menyebut peristiwa tersebut terjadi karena permainan para santri.

"Sengaja membakar. Ada tiga paling parah dalam kejadian itu, mereka berdua berhasil keluar di tengah kobaran api, salah satunya yang membakar," katanya.

Ibu korban, Nurul Hidayah, mengaku awalnya mendapat penjelasan dari pihak pondok bahwa insiden tersebut terjadi saat para santri bermain.

"Saya diceritakan sama orang pondok, kejadiannya bukan dibakar tapi lagi main-main di luar," ujarnya.

Baca juga: Update Kasus Pembakaran Santri: Ayah Korban Lapor Polisi, Pihak Ponpes Bantah Lepas Tangan

Namun, dua hari setelah menjalani perawatan di rumah sakit, korban mulai menceritakan kronologi berbeda kepada keluarganya.

"Pas dua hari dirawat di Praya barulah bisa ngomong sejujurnya, bahwa kebakaran ini bukan karena kami bermain-main tapi kita dibakar," kata Nurul menirukan pengakuan anaknya.

Ia juga mengaku anaknya sempat takut mengungkapkan kejadian sebenarnya karena mendapat ancaman.

"Karena dalam posisi pasca pembakaran itu, anak saya ini takut ditanya. Karena kalau dia membenarkan yang sebenarnya, dia diancam orang tuanya harus membayar denda Rp7 juta," ujarnya.

Nurul menuturkan korban mengalami luka bakar di sejumlah bagian tubuh dan harus menjalani perawatan selama sekitar 18 hari.

"Sampai di Puskesmas Pancor Dao, dia sudah mengalami luka di sekujur tubuhnya. Anak saya ini masih bisa saya pegang untuk nyandar di badan saya. Yang dua lainnya itu lebih parah, badannya habis kena luka bakar," katanya.

Berdasarkan cerita korban dan rekan-rekannya, peristiwa itu diduga berawal ketika sejumlah santri diajak masuk ke sebuah ruangan yang disebut sebagai bekas kamar ustaz.

"Cerita si anak-anak ini pelaku menuangkan bensin di plastik, ada juga satu botol bensin di kamar ustaz itu," ujar Nurul.

Ia menambahkan, setelah api menyala, dua orang berhasil keluar ruangan, sementara anaknya bersama korban lain terjebak di dalam.

"Korban tidak bisa menyelamatkan diri keluar pintu karena saat dua orang itu keluar pintu tertutup dengan erat," katanya.

Menurut Nurul, sebelum insiden kebakaran terjadi, anaknya sempat melaporkan dugaan perundungan yang dilakukan terduga pelaku kepada pengurus pondok.

"Sebelum kejadian, dia cerita bahwa pelaku sempat menelanjangi temannya. Akhirnya korban melapor ke ketua pondok dan akhirnya pelaku ditempeleng serta diberi peringatan," ujarnya.

Nurul mengungkapkan, bahwa terduga pelaku sempat mengancam anaknya dan santri lain karena kesal dilaporkan ke ketua pondok.

Ia menduga peristiwa pembakaran terjadi beberapa hari setelah laporan tersebut disampaikan.

"Selang tiga hari anak bercerita itu, nah baru kejadian pembakaran ini," katanya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.