Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Menguatnya dolar Amerika Serikat hingga menembus Rp 18.000 memang menjadi kabar baik bagi sebagian pekerja migran yang menerima penghasilan dalam mata uang asing.
Namun bagi banyak warga Kota Cirebon yang memutuskan bekerja ke luar negeri, faktor utama pendorongnya ternyata bukan soal kurs dolar, melainkan sulitnya mencari pekerjaan dan tuntutan ekonomi keluarga.
Fenomena tersebut terlihat dari tingginya minat masyarakat Kota Cirebon menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Baca juga: Miris, Mayoritas Pekerja Migran Subang di Arab Berstatus Ilegal, Disnakertrans: Rentan Masalah
Mayoritas pengaju rekomendasi kerja ke luar negeri bahkan didominasi oleh perempuan, khususnya Ibu Rumah Tangga (IRT).
Pengantar Kerja Ahli Muda Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon, Muhammad Yani mengatakan, keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah menjadi salah satu penyebab utama banyak warga memilih mengadu nasib ke luar negeri.
"Rata-rata yang perempuan ataupun pendidikannya rendah susah untuk cari kerja di Kota Cirebon," ujar Yani saat diwawancarai media, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak perempuan yang sebelumnya hanya mengurus rumah tangga akhirnya memutuskan bekerja di luar negeri, terutama pada sektor domestik yang masih banyak membutuhkan tenaga kerja.
Tak hanya soal pekerjaan, faktor ekonomi keluarga juga menjadi alasan kuat di balik keputusan tersebut.
Banyak calon PMI berasal dari keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena pendapatan rumah tangga yang terbatas.
Yani mengungkapkan, tidak sedikit suami dari calon PMI yang juga mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap atau penghasilan yang memadai.
Baca juga: Pemerintah Perkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Melalui Sinkronisasi Regulasi Daerah
Keinginan untuk memperbaiki taraf hidup, memiliki rumah sendiri, hingga menjamin masa depan keluarga membuat pekerjaan di luar negeri dinilai lebih menjanjikan dibandingkan bertahan mencari pekerjaan di dalam negeri.
"Dengan keinginan terpenuhi kebutuhan hidup dan pengen punya rumah, jadi lebih memilih kepada pekerja luar negeri yang menjanjikan," ucapnya.
Menurut Yani, besarnya gaji yang ditawarkan di luar negeri menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang sedang terdesak kebutuhan ekonomi.
"Di sana gajinya cukup lumayan besar. Akhirnya banyaknya itu ibu rumah tangga yang harus berangkat ke luar negeri," jelas dia.
Meski belakangan nilai tukar dolar AS menjadi perhatian publik setelah menembus level Rp 18.000, Yani menilai faktor tersebut bukanlah pertimbangan utama bagi mayoritas calon PMI asal Kota Cirebon.
Ia mengaku, belum pernah menerima laporan maupun keluhan dari calon pekerja migran yang secara khusus mengaitkan keputusan bekerja ke luar negeri dengan penguatan dolar.
"Sementara ini sih kita tidak ada yang menyampaikan itu. Kan rata-rata yang berangkat itu di Kota Cirebon perempuan, jadi kadang-kadang tidak tahu-menahu tentang masalah perkembangan nilai tukar rupiah dengan dolar," katanya.
Menurut dia, pemahaman mengenai pergerakan kurs mata uang asing umumnya lebih banyak diperhatikan oleh kalangan ekonomi menengah ke atas.
Baca juga: Viral 2 Pria asal Kota Bogor Minta Tolong dari Laut Kalimantan, Dikira Pekerja Migran, Ini Faktanya
Sementara bagi calon PMI, hal yang paling penting adalah adanya pekerjaan yang aman dan pendapatan yang dapat dikirimkan untuk membantu keluarga di kampung halaman.
"Itu mungkin bagi kalangan-kalangan ekonomi menengah ke atas aja yang tahu tentang dolarnya naik, rupiahnya turun. Mungkin saya kira itu sih, banyak tidak tahunya," ujarnya.
Sebelumnya, Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon mencatat hingga Mei 2026 terdapat 132 warga yang telah mendaftarkan diri sebagai calon PMI.
Malaysia menjadi negara tujuan terbanyak dengan 42 orang, disusul Taiwan 40 orang, Singapura 22 orang dan Hong Kong 15 orang.
Pengantar Kerja Ahli Pertama Disnaker Kota Cirebon, Dinul Muarif mengatakan, mayoritas PMI asal Kota Cirebon masih didominasi perempuan yang bekerja di sektor informal.
"Kalau berdasarkan data sampai Mei 2026, jumlah calon PMI yang sudah mendaftar sebanyak 132 orang. Penempatan terbanyak masih ke Malaysia, kemudian Taiwan, Singapura, dan Hong Kong," kata Dinul.
Di sisi lain, Dinul mengakui penguatan dolar memberikan keuntungan bagi PMI yang sudah bekerja di luar negeri karena nilai penghasilannya menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
"Dampaknya tentu ada. Bagi PMI yang sudah bekerja di sana, mereka mendapatkan keuntungan lebih saat uangnya ditukarkan ke rupiah," ujarnya.
Namun demikian, tingginya minat warga Cirebon menjadi PMI saat ini dinilai lebih banyak dipicu oleh kebutuhan ekonomi dan minimnya lapangan pekerjaan dibandingkan faktor naiknya nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Baca juga: TKI Asal Temanggung Hilang Selama 20 Tahun di Malaysia, Ahmad Luthfi Pastikan Kondisinya Sehat Aman