Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN – Dewi Sri Lestari (34) tak pernah membayangkan firasat tak enak yang sempat ia rasakan akan berujung pada tragedi memilukan di rumahnya di Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen.
Saat tiba di rumah, ia justru mendapati putrinya, Bilqis Rajiansyah (11), sudah terbujur tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan penuh luka di tubuhnya.
Baca juga: Motor Vario dan Ponsel Hilang, Kematian Bilqis di Sragen Diduga Akibat Perampokan
Baca juga: Dewi Sri Lestari Kaget Bukan Kepalang, Pulang Kerja Lihat Bilqis Tewas Mengenaskan
Ia mengaku sejak malam sebelum Bilqis ditemukan meninggal dunia, dirinya merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Menurut Dewi, tubuhnya terasa tidak nyaman sehingga membuatnya kesulitan beristirahat.
Berulang kali ia mencoba memejamkan mata, namun rasa gelisah terus menghantuinya sepanjang malam.
"Malam sebelumnya saya punya firasat. Badan saya tidak enak dan tidak bisa tidur," ujarnya saat ditemui di rumah duka, Sabtu (6/6/2026).
Dewi mengaku sudah mencoba beristirahat di atas tempat tidur, namun tetap merasa tidak nyaman.
Bahkan ketika berpindah tempat untuk tidur, perasaan tersebut tidak kunjung hilang.
"Tidur di atas rasanya tidak enak, tidur di bawah juga tidak enak. Rasanya gelisah terus," katanya.
Kondisi itu rupanya juga sempat diperhatikan oleh Bilqis.
Putrinya menanyakan alasan sang ibu terlihat tidak nyaman dan sulit tidur malam itu.
"Anak saya sempat tanya kenapa kok kelihatannya gelisah dan tidak enak badan," kenang Dewi.
Meski demikian, karena kelelahan setelah beraktivitas seharian, Dewi akhirnya tertidur menjelang dini hari.
Perasaan tidak biasa itu ternyata masih berlanjut hingga keesokan harinya, tepat pada hari ketika Bilqis ditemukan meninggal dunia di dalam rumah.
Saat hendak berangkat bekerja ke pabrik pada pagi hari, Dewi mengaku kembali merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia bahkan sempat merasa enggan berangkat kerja dan ingin tetap berada di rumah.
"Hari itu sebelum berangkat kerja saya juga merasa malas bekerja. Rasanya ingin tidak masuk kerja," tuturnya.
Namun karena menganggap perasaan tersebut hanya kelelahan biasa, Dewi tetap memutuskan berangkat bekerja seperti biasanya dan meninggalkan Bilqis di rumah.
Tidak ada sedikit pun dalam benaknya bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir ia melihat putrinya dalam keadaan hidup.
Beberapa jam kemudian, sepulang bekerja, Dewi justru mendapati kenyataan pahit.
Ia menemukan Bilqis sudah tidak bernyawa di dalam rumah dengan sejumlah luka yang diduga akibat senjata tajam.
Saat ini, Polisi masih terus melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap pelaku dan motif di balik dugaan perampokan disertai pembunuhan yang menggemparkan warga Desa Dawung tersebut. (*)