BANGKAPOS.COM--Nama Nanik S. Deyang menjadi sorotan publik setelah tidak terseret dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjerat mantan Kepala Badan Gizi Nasional (Badan Gizi Nasional) Dadan Hindayana serta dua wakil kepala lembaga tersebut, Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung.
Padahal, Nanik sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional sebelum kemudian diproyeksikan menjadi pimpinan lembaga tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik terkait alasan dirinya tidak ikut terseret dalam perkara yang tengah bergulir.
Analis komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menilai terdapat kemungkinan Nanik tidak terseret dalam kasus tersebut karena baru bergabung belakangan di lingkungan Badan Gizi Nasional.
Menurutnya, faktor waktu keterlibatan bisa menjadi salah satu alasan yang masuk akal, meski ia menegaskan hal itu masih bersifat dugaan.
“Kalau saya positive thinking saja, mungkin karena beliau paling belakangan masuknya,” ujar Hendri Satrio, Jumat (5/6/2026).
Selain itu, Hendri juga menilai Nanik selama ini menunjukkan loyalitas yang kuat kepada Presiden Prabowo Subianto, sehingga tetap dipercaya dalam struktur pemerintahan.
“Dia tegak lurus ke Pak Prabowo,” tambahnya.
Sebagai informasi, Nanik akan resmi dilantik Prabowo sebagai Kepala BGN yang baru pada Senin (8/6/2026) pekan depan.
Selain Nanik, para Wakil Kepala BGN seperti Mayjen TNI Trenggono dan Agustina Arumsari juga akan dilantik Prabowo.
Meski demikian, sejumlah pengamat lainnya mengingatkan agar kinerja Nanik sebagai pejabat baru tetap berada dalam pengawasan ketat.
Hal ini dinilai penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan salah satu program prioritas pemerintah.
Program tersebut diketahui mengelola anggaran besar dan menjadi perhatian publik karena menyangkut distribusi makanan bergizi bagi masyarakat luas.
Baca juga: Gappri Minta Kemenkes Kaji Ulang Aturan Kemasan Rokok, Dinilai Rugikan Industri
Nanik S. Deyang dijadwalkan akan resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Gizi Nasional pada Senin (8/6/2026).
Pelantikan tersebut juga akan diikuti oleh sejumlah pejabat baru di lingkungan BGN, termasuk wakil kepala lembaga.
Sebelumnya, Nanik pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional setelah dilantik pada 17 September 2025.
Sementara pejabat lain seperti Lodewyk Pusung lebih dahulu menduduki jabatan wakil kepala sejak Oktober 2024.
Baca juga: Diduga Backing Debt Collector Oknum Anggota TNI Jadi Tersangka Penganiayaan Dua Anggota Brimob
Di tengah proses hukum yang menjerat sejumlah pejabat lama BGN, mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, yang kini telah menjadi tersangka kasus dugaan korupsi MBG, sempat memberikan ucapan selamat kepada Nanik atas jabatan barunya.
Ucapan tersebut disampaikan melalui surat yang diunggah di akun Instagram pribadinya @sonysanjayabd pada Rabu (3/6/2026).
Dalam surat itu, Sony menyampaikan apresiasi dan doa atas amanah baru yang diterima Nanik.
"Kepada Yth. Ibu Nanik S. Deyang. Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala BGN. Terima kasih atas hadiah indah yang diberikan kepada saya," tulis Sony dalam surat.
Kemudian pada kolom caption Instagram, Sony menuliskan doa dan harapan untuk Nanik agar bisa menjalankan amanah barunya dengan baik.
"Sebuah kebahagiaan melihat sahabat dan rekan yang baik mendapatkan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa," ujar Sony.
"Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas."
"Teruslah menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi banyak orang. Doa terbaik selalu menyertai setiap langkah pengabdian untuk Indonesia," tulis Sony.
Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro, menilai kedekatan personal antara Nanik dan Presiden Prabowo Subianto dapat menjadi salah satu faktor penting dalam penunjukannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Ia mengingatkan agar Presiden tetap melakukan pengawasan ketat terhadap kinerja lembaga tersebut, mengingat program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas nasional.
Nanik dan Prabowo diketahui telah mengenal satu sama lain sejak lama.
Nanik sebelumnya pernah menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu.
Mantan jurnalis tersebut terus konsisten berada di barisan pendukung dan mengawal perjuangan politik Prabowo hingga memenangkan Pilpres pada 2024.
Sejak Prabowo menjabat sebagai Presiden RI, Nanik mendapatkan posisi-posisi strategis di pemerintahan, termasuk menjadi Wakil Kepala BGN, sebelum akhirnya kini menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana yang terjerat kasus korupsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bahkan, jauh sebelum itu, pada Pemilu 2014 silam, Nanik yang saat itu masih menjadi jurnalis sudah menjalin hubungan erat dengan Prabowo.
Sejak saat itulah, Nanik dikenal sebagai salah satu sahabat yang dipercaya Prabowo.
Dengan hubungan yang sudah berlangsung lama ini, Agung menilai bahwa terpilihnya Nanik sebagai Kepala BGN ini tidak terlepas dari alasan kedekatan personal dengan Prabowo.
"Relasi dengan Bu Nanik secara personal sudah lama ya terajut sejak masa kampanye Pilpres, setahu saya 2019. Bahkan jauh dari itu, 2014 juga ada relasi ya persahabatan antara Bu Nanik dengan Pak Prabowo," ungkapnya dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews dalam program ON FOCUS, Kamis (4/6/2026).
"Jadi suka atau tidak memang ketika terjadi reshuffle ini motif politiknya lebih kuat ketimbang motif teknokratisnya," sambung Agung.
Meski keduanya sudah dekat sejak lama, Agung meminta agar Prabowo tetap mengawasi Nanik di BGN.
"Sehingga ini bisa menjadi masukan juga bagi Presiden untuk memonitor kinerja dari Mbak Nanik gitu ya. Apakah memang sudah sesuai tupoksinya? Apakah mampu memainkan peran untuk memastikan kualitas itu bisa tercapai gitu," ucapnya.
"Karena orang semua melihat ya kesuksesan Makan Bergizi Gratis ini dengan asosiasi bahwa ini program utama presiden," imbuh Agung.
Oleh karena itu, tidak boleh ada celah atau toleransi terhadap berbagai persoalan, seperti kasus keracunan, kualitas menu yang dinilai seadanya dan tidak sesuai dengan konsep makanan bergizi, maupun profesionalitas penyelenggaraan dapur oleh petugas aparat yang bertugas di lapangan.
"Ataupun soal-soal penganggarannya ya. Publik membutuhkan transparansi, akuntabilitas, pengelolaan dana jumbo yang dilakukan oleh BGN berapa, Rp300 triliun lebih, yang itu kalau diasumsikan rata ya Rp1 triliun per bulan," paparnya.
Penggunaan anggaran tersebut, kata Agung, harus benar-benar dipastikan sesuai dengan peruntukannya serta dikelola secara profesional dan prudent.
"Supaya publik tidak was-was, pasar tidak khawatir ataupun stakeholder lain melihat memang program ini bisa dipertanggungjawabkan," tegas
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri menjadi salah satu agenda besar pemerintah dengan anggaran yang sangat besar dan cakupan nasional.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Namun, dalam perjalanannya, program ini juga menghadapi sejumlah sorotan, mulai dari isu kualitas distribusi, pengawasan di lapangan, hingga dugaan penyimpangan anggaran yang kini sedang diselidiki aparat penegak hukum.
Sejumlah pengamat menilai bahwa kasus yang menjerat pejabat sebelumnya harus menjadi momentum perbaikan tata kelola di lingkungan Badan Gizi Nasional agar program berjalan lebih profesional dan bebas dari praktik korupsi.
Meski tidak terseret dalam kasus dugaan korupsi MBG, nama Nanik S. Deyang tetap menjadi perhatian publik menjelang pelantikannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Harapan publik kini tertuju pada langkah-langkah yang akan diambilnya dalam memperkuat tata kelola program Makan Bergizi Gratis agar lebih transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.(*)