Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp18.095 pada Sabtu (6/6/2026) membuat sebagian masyarakat mulai mencari alternatif mata uang asing selain dolar.
Di money changer Kota Bandung, permintaan penukaran ringgit Malaysia hingga dolar Singapura ikut meningkat di tengah pelemahan rupiah yang mencapai titik terendah sepanjang sejarah.
Teller Dolarindo Money Changer, Iqbal, mengatakan aktivitas penukaran valuta asing mengalami peningkatan seiring menguatnya dolar AS terhadap rupiah.
"Memang USD sekarang menguat ke Rp18 ribu. Tertinggi juga sepanjang sejarah. Saat ini penukaran valas memang meningkat, selain USD ringgit juga banyak yang menukarkan," kata Iqbal, kepada Tribunjabar.id, Sabtu (6/6/2026).
Baca juga: Rupiah Makin Longsor, Pengusaha Furnitur di Cirebon Kian Tertekan, Untung Ekspor Tak Lagi Manis
Menurutnya, tingginya nilai tukar dolar AS membuat sebagian masyarakat yang ingin menyimpan aset dalam bentuk mata uang asing mulai mempertimbangkan pilihan lain.
Selain ringgit Malaysia, dolar Singapura juga menjadi salah satu mata uang yang banyak diminati.
Ia menilai kondisi saat ini kurang ideal bagi masyarakat yang baru ingin membeli dolar AS untuk tujuan investasi. Harga dolar yang sudah berada di level tertinggi membuat risiko pembelian menjadi lebih besar.
"Bila ingin investasi tunggu USD-nya turun dulu, karena jika sekarang terlalu kemahalan. Kalau sudah punya dan ingin ditukar, momentum yang baik karena harganya lagi bagus untuk transaksi ke rupiah," ujarnya.
Iqbal mengatakan transaksi penukaran valuta asing di tempatnya dapat dilakukan secara langsung maupun melalui layanan daring.
Bahkan, kata dia, nasabah yang tidak sempat datang ke lokasi dapat memanfaatkan layanan antar.
"Kalau kita 1 dolar memang dihargai Rp18 ribu. Minimal penukaran Rp5 juta. Bisa dilakukan transaksi via online bahkan jika tidak ingin ke sini kita bisa antar," katanya.
Ramainya transaksi juga tercermin dari jumlah nasabah yang datang setiap hari.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Harga Elektronik di BEC Naik hingga 20 Persen
Dikatakannya, dalam kondisi normal, Dolarindo Money Changer melayani puluhan transaksi setiap hari dan jumlahnya meningkat saat akhir pekan.
"Sehari bisa puluhan nasabah yang menukarkan. Kalau weekend memang lagi ramai-ramainya. Kita buka mulai pukul 07.00 sampai 23.00," ujarnya.
Tidak hanya warga lokal, sejumlah warga negara asing juga tercatat melakukan transaksi penukaran mata uang di tempat tersebut. Menurut Iqbal, warga asal Malaysia menjadi salah satu yang cukup sering melakukan penukaran.
"Banyak orang asing juga sih, seperti Malaysia. Rata-rata belum tentu pergi ke luar negeri untuk jalan-jalan, ada juga yang investasi," katanya.
Meski menyediakan berbagai jenis mata uang asing dari negara-negara Asia, Amerika, hingga Eropa, Iqbal mengatakan transaksi masih didominasi mata uang dari kawasan Asia.
Selain faktor kebutuhan perjalanan, tingginya volatilitas dolar AS membuat sebagian nasabah mulai melakukan diversifikasi ke mata uang lain.
"Kita menyediakan mata uang asing, tapi paling banyak penukaran mata uang Asia, Amerika, Eropa," ujarnya. (*)