SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung di Jawa Timur (Jatim) terus memperkuat komitmennya dalam menangani penyebaran dan perawatan pasien HIV/AIDS.
Guna mempermudah akses bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), Dinkes menyiagakan puluhan fasilitas kesehatan (faskes) yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tulungagung.
Sebanyak 13 rumah sakit dan 32 Puskesmas kini telah disiapkan untuk memberikan pelayanan terpadu bagi pasien HIV.
Selain itu, Dinkes juga menggandeng 4 klinik swasta khusus untuk melakukan skrining deteksi dini virus tersebut.
“Dengan 13 rumah sakit dan 32 Puskesmas, semua sudah bisa terlayani di semua wilayah,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Tulungagung, Desi Lusiana Wardani, saat memberikan keterangan resmi terkait sebaran fasilitas kesehatan ramah ODHA, Sabtu (6/6/2026).
Fasilitas kesehatan yang ditunjuk tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemeriksaan, melainkan juga sebagai pusat distribusi obat Antiretroviral (ARV). Obat ini sangat vital bagi ODHA untuk menekan jumlah virus di dalam tubuh mereka.
Untuk memastikan kepatuhan konsumsi obat, Dinkes memanfaatkan teknologi digital terintegrasi milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yaitu aplikasi Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA).
“Lewat SIHA kita jadi tahu, kapan harus ambil obat (ARV). Biasanya interval 1 bulan mereka harus datang,” tambah Desi.
Secara prosedur standar, pasien diwajibkan datang langsung ke faskes untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil ARV.
Langkah ini penting, agar tim medis dapat memantau perkembangan fisik dan psikis pasien secara berkala.
Meskipun pasien dianjurkan datang langsung, Dinkes Tulungagung tetap memberikan pengecualian untuk kondisi-kondisi khusus.
Petugas medis siap melakukan kunjungan rumah (home visit), guna mengantarkan obat dan memeriksa kesehatan pasien secara langsung.
“Kalau itu kondisi khusus, misalnya pasien belum siap mental untuk datang ke fasilitas kesehatan, atau mereka tidak punya kendaraan. Kami yang mengalah datang, karena konsumsi ARV tidak boleh terputus,” jelas Desi menegaskan fleksibilitas pelayanan demi keselamatan pasien.
Selain mengandalkan tenaga kesehatan, Dinkes berkolaborasi aktif dengan 4 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli HIV/AIDS.
Para aktivis dari LSM ini bertindak sebagai penjangkau yang bersiaga di Puskesmas, untuk mendampingi ODHA melewati masa-masa sulit pengobatan.
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, menjelaskan bahwa konsumsi obat ARV secara rutin mampu menekan replikasi virus hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi oleh alat medis.
Jika jumlah virus minimal, daya tahan tubuh pasien akan terjaga dengan baik. Hal ini mencegah munculnya infeksi oportunistik dan komplikasi penyakit berbahaya lainnya.
“Mereka bisa memperpanjang angka harapan hidup, kualitas hidupnya juga bagus. ODHA tetap bisa mempertahankan masa hidup yang berkualitas,” tutur dr Aris.
Berdasarkan data kumulatif yang dihimpun Dinkes Tulungagung, tercatat total kasus HIV/AIDS di wilayah ini mencapai 4.498 orang, dengan rincian status pasien sebagai berikut:
Melalui perluasan faskes dan integrasi program SIHA, Dinkes Tulungagung berharap dapat merangkul kembali pasien-pasien yang tidak aktif, guna menekan angka kematian akibat HIV/AIDS secara signifikan.