TRIBUNNEWS.COM - Tindakan zionis Israel yang menggunakan bom fosfor putih di Lebanon selatan, kini bukan isapan jempol belaka.
Laporan investigasi terbaru dari berbagai lembaga kemanusiaan internasional dan pencari fakta membeberkan bukti-bukti tak terbantahkan mengenai penggunaan bom fosfor putih oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di kawasan padat penduduk, khususnya di Kota Yohmor.
Langkah militer ini memicu gelombang kecaman global karena dinilai melanggar Hukum Humaniter Internasional secara terang-terangan dan menggunakan taktik "bumi hangus" demi keuntungan teritorial.
Berdasarkan bukti video dan foto udara yang berhasil diverifikasi dan dilacak posisi geografisnya, IDF kedapatan melepaskan amunisi artileri fosfor putih jenis airburst tepat di atas permukiman warga sipil.
Menurut laporan New York Times, rekaman amatir memperlihatkan gumpalan asap tebal berbentuk tentakel putih khas yang perlahan turun, menjatuhkan serpihan kimia berapi ke rumah-rumah penduduk.
Dampaknya instan dan destruktif. Atap rumah, balkon, kendaraan, hingga fasilitas umum di kota Yohmor dilaporkan terbakar hebat.
Fosfor putih bukanlah senjata sembarangan, zat kimia ini memiliki karakteristik unik yang mengerikan.
Begitu bersentuhan dengan oksigen di udara bebas, zat tersebut akan menyala secara spontan dengan suhu mencapai lebih dari 800 derajat Celsius.
Bagi manusia, paparan kimia ini adalah mimpi buruk medis.
Uapnya yang terhirup dapat merusak saluran pernapasan secara permanen, sementara serpihan padatnya yang mengenai kulit akan terus membakar jaringan tubuh, menembus lapisan lemak, hingga menggerogoti tulang.
Luka bakar akibat fosfor putih juga dikenal sangat sulit disembuhkan karena sifat zatnya yang dapat menyala kembali jika kembali terpapar oksigen saat perban medis dibuka.
Baca juga: Semakin Agresif, Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-Mata Israel ke Tingkat Tertinggi
Penggunaan fosfor putih oleh militer diatur dengan sangat ketat dalam konvensi internasional.
Secara hukum, fosfor putih diperbolehkan hanya untuk tujuan non-ofensif, seperti membuat tabir asap guna menyembunyikan pergerakan pasukan atau sebagai penerangan di malam hari.
Namun, menggunakannya secara sengaja di atas area yang dihuni warga sipil dikategorikan sebagai serangan tanpa pandang bulu yang ilegal.
Lembaga pemantau lingkungan dan agraria di Lebanon, Public Works Studio, melaporkan dampak ekologis yang luar biasa akibat taktik ini.
Lebih dari 2.000 hektare lahan pertanian produktif, perkebunan zaitun, hingga hutan lindung yang dipenuhi pohon ek dan pinus di Lebanon selatan telah musnah menjadi abu.
Banyak analis militer dan peneliti konflik Timur Tengah mencurigai adanya motif demografis di balik intensitas serangan kimia ini.
Kerusakan masif pada sektor pertanian — yang menjadi urat nadi perekonomian warga lokal — ditambah dengan teror psikologis dari bom pembakar tersebut, diduga kuat sebagai upaya sistematis Israel untuk mengusir penduduk sipil secara permanen dari wilayah perbatasan.
"Ini bukan sekadar taktir perang biasa. Ini adalah upaya nyata untuk mengosongkan wilayah, menciptakan zona penyangga (buffer zone) militer yang steril dari kehidupan manusia di sisi perbatasan Lebanon," ungkap seorang peneliti konflik perbatasan dalam laporan tersebut.
Sebelumnya, Israel berhasil merebut Kastil Beaufort, sebuah benteng bersejarah era Perang Salib di Lebanon selatan.
Operasi darat ini menandai infiltrasi terdalam militer Israel ke wilayah kedaulatan Lebanon dalam 26 tahun terakhir, sekaligus menghancurkan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Amerika Serikat (AS).
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa unit elite dari Brigade Golani telah menguasai benteng yang dikenal warga lokal sebagai Qalaat al-Shaqif tersebut.
Baca juga: Hizbullah Tolak Gencatan Senjata antara Lebanon dan Israel
Melalui akun resminya, Katz membagikan foto-foto tentara IDF yang mengibarkan bendera Israel di puncak benteng, Senin (1/6/2026).
Sebagai catatan sejarah, kastil ini sempat menjadi basis pertahanan penting bagi Israel selama masa pendudukan wilayah selatan Lebanon pada periode 1982-2000.
"Dua puluh enam tahun setelah penarikan mundur, bendera Israel kembali berkibar di puncak yang menghadap langsung ke kota-kota Galilea," ujar Katz dalam upacara peringatan militer, dikutip dari The Guardian.
Pihak IDF mengeklaim bahwa serangan ke Perbukitan Beaufort dan kawasan Wadi al-Saluki ini bertujuan untuk melumpuhkan kantong-kantong logistik dan infrastruktur militer milik kelompok Hizbullah.
Namun, manuver pergerakan pasukan Israel memicu kekhawatiran baru.
Dengan menguasai titik strategis Beaufort, IDF kini berada di posisi di atas angin untuk mengepung Nabatieh — kota yang menjadi pusat roda ekonomi, budaya, dan simbol perlawanan masyarakat Lebanon selatan.
(Tribunnews.com/Whiesa)