Laporan Wartawan TribunJatim.com, Danendra Kusuma
TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar mulai berdampak ke beberapa lini.
Tarif servis AC mobil di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga freon dan sparepart AC yang sebagian besar masih bergantung pada produk impor.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menembus Rp18.095 per dolar turut berdampak pada biaya operasional bengkel, terutama dalam pengadaan bahan baku.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar, Harga Obat di Bondowoso Merangkak Naik
Salah satu pelaku usaha servis AC mobil di Desa Bungur, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Prayitno, mengatakan kenaikan harga sudah mulai terasa sejak awal 2026 dan semakin signifikan dalam dua bulan terakhir.
“Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal 2026. Dua bulan terakhir paling terasa naiknya,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, harga freon impor terus mengalami kenaikan akibat pengaruh nilai tukar dolar. Bahkan, harga yang sebelumnya relatif stabil kini melonjak tajam.
“Mulai awal 2026 makin meningkat. Dua bulan belakangan harganya menyentuh angka Rp 3 juta. Kenaikan ini terjadi pada barang freon impor,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa freon yang digunakan berasal dari produk pabrikan Singapura dengan bahan baku dari Eropa, sehingga sangat dipengaruhi fluktuasi mata uang asing.
“Nilai tukar dolar berdampak pada harga freon,” tambahnya.
Baca juga: Dampak Rupiah Melemah, Harga Ban Motor dan Oli di Lumajang Melonjak Tinggi
Tidak hanya freon, sejumlah sparepart AC mobil juga mengalami kenaikan harga. Komponen yang sebelumnya dijual sekitar Rp300 ribu kini naik menjadi sekitar Rp400 ribu.
Selain itu, biaya isi ulang freon AC mobil yang sebelumnya berkisar Rp250 ribu kini meningkat menjadi sekitar Rp300 ribu.
Kondisi ini membuat biaya perawatan kendaraan ikut membengkak bagi para pemilik mobil.
Salah satu pelanggan, Sofyan Hanafi, mengaku kenaikan tarif servis AC cukup membebani pengeluarannya.
Menurutnya, kebutuhan perawatan kendaraan yang tidak bisa ditunda membuat kenaikan harga ini terasa cukup memberatkan.
“Kenaikan harga perawatan AC praktis bikin pengeluaran naik,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, pelaku usaha berharap stabilitas nilai tukar rupiah dapat kembali membaik agar harga kebutuhan sparepart dan jasa servis kendaraan bisa lebih terkendali.
Di Lumajang, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor otomotif di Kabupaten Lumajang.
Harga sejumlah produk perawatan kendaraan, terutama oli dan ban sepeda motor, mengalami lonjakan tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Seperti di Toko Zico Jaya di Jalan Moh Yamin Lumajang. Harga oli dan ban luar sepeda motor di tempat penjualan tersebut naik siginfikan, mulai Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.
"Naiknya harga oli dan ban luar sepeda motor, naiknya gila gilaan," kata Ardi, Kasir di Toko Zico Jaya Lumajang, Sabtu (6/6/2026).
Harga pelumas mesin kendaraan paling tinggi naiknya jenis Oli AHM MPX Matic, dari Rp 62 ribu, menjadi Rp 90 ribu.
Kata dia, hal ini terjadi sejak pertengahan Mei lalu, ketika mulai kabar dolar menguat terhadap nilai tukar rupiah.
"Kalau oli Federal tidak siginfikan kenaikannnya, paling cuma naik Rp 10 ribu. Sebelumnya Rp 55 ribu sekarang Rp 65 ribu," beber Ardi.
Sementara untuk oli mesin jenis Deltalube, kata dia, dari Rp 100 ribu, sekarang naik Rp 115 ribu untuk ukuran 800 mililiter. Sementara castrol metic masih mengunakan harga lama.
"Untuk castrol tidak naik, yang paling tinggi naik ya itu Deltalube, AHM dan Federal," bebernya.
Menurutnya, bahan otomotif paling melonjak harganya justru ban luar sepeda motor, sebab sebelumnya nilainya Rp 275 ribu, sekarang berubah diatas Rp 300 ribu.
"Bahkan ada yang naik jadi Rp 325 ribu,sekarang sudah tidak ada ban luar harganya dibawah Rp 300 ribu. Kalau ban dalam naiknya cuma Rp 3-5 ribu," ucap Ardi.
Lonjakan harga tersebut berdasarkan harga yang ditatapkan suplaier, sehingga toko hanya menyesuaikan saja, karena pasokan barang dari mereka.
"Kalau penyebabnya naik tidak tahu. Soalnya dari suplaier, kami hanya menyesuaikan saja," katanya.
Beberapa pelanggan pun sempat memprotes perubahan harga barang otomotif ini. Ardi mengungkapkan banyak langganan oli, terpakas beralih di pelumas mesin lebih murah.
"Banyak biasaya pakai AHM beralih ke Federal, karena harganya lebih terjangkau. Kalau AHM nainya sangat tajam soalnya," tuturnya.
Ardi menilai hingga sekarang belum ada dampak siginifikan terhadap penjualan oli dan ban sepeda motor. Sebab hal itu baru bisa diketahui kalau sudah direkap satu bulan.
"Sementara masih tergolong stabil, cuma itu banyak pelanggan komplen. Kok tambah mahal olinya, itu saja sih," imbuhnya.
Fathur, mengaku terpaksa harus balik lagi ke rumah saat mau ganti oli di Toko Zico Jaya, sebab uangnya tidak cukup, karena kenaikan harga pelumas andalannya naiknya tinggi sekali.
"Biasa pakai AHM harganya Rp 65 ribuan, saat sampai ternyata Rp 90 ribu. Jadi saya balik untuk ambil uang lagi. Mau ganti oli lain, eman nanti berdampak ke mesin," tutur Driver Ojek Online ini.