TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri keramik nasional saat ini sedang berjuang menghadapi tekanan yang cukup besar dari sisi makroekonomi seperti kenaikan harga gas industri serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Harga gas industri sudah naik dari 6 dolar AS menjadi 21 dolar AS per MMBTU, sementara nilai tukar rupiah sudah melampaui level Rp18.000 per dolar AS. Pelaku industri keramik harus melakukan oenyesuaian biaya operasional agar tetap kompetitif.
Menyikapi fluktuasi ekonomi tersebut, Vice Director Ceramics Tile PT Concord Industry, Herman Hamzah menyatakan, perusahaan tetap optimistis dengan mengandalkan dukungan teknologi modern dan penetapan desain yang lebih inovatif.
"Langkah inovasi ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang tinggi bagi konsumen, sehingga produk dalam negeri tetap memiliki daya saing yang kuat di pasar ritel maupun proyek," ujarnya di Pameran Keramika 2026 di Nusantara International Exhibition, PIK 2, Jakarta, dikutip Sabtu (6/6/2026).
Minta Dukungan Pemerintah
Herman berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih besar bagi keberlangsungan sektor manufaktur ubin, khususnya terkait kebijakan energi dan stimulus untuk melindungi pasar keramik dalam negeri.
Hal ini krusial mengingat daya beli masyarakat yang sedang tertekan dapat memengaruhi penyerapan material pada proyek-proyek pembangunan nasional.
Ia menambahkan bahwa selama ini industri keramik nasional telah berkontribusi besar dalam mempertahankan investasi, membuka lapangan kerja, serta menekan ketergantungan impor.
Baca juga: Industri Keramik Mulai Pulih, Tapi Belum Lampaui Kinerja Kinclong di 2021
Manajemen berkomitmen untuk terus menyediakan lapangan pekerjaan dan berharap ada solusi bersama demi menjaga daya saing industri keramik Indonesia agar tetap tumbuh berkelanjutan.
Herman mengatakan, perusahaan akan terus memacu pemasaran diantaranya melalui partisipasi di Pameran Keramika 2026.
"Perjalanan kami dimulai dari produksi keramik, dan kami telah berkembang hingga memproduksi granit dengan berbagai ukuran, dan kami juga memiliki sejumlah merek unggulan untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai segmen pasar," kata Herman Hamzah.
Baca juga: Industri Keramik Khawatir Harga Gas Melonjak, ASAKI: Kondisi Sudah SOS
Herman menjelaskan bahwa produsen ubin lokal yang didirikan oleh Lin Kuang Ming di Karawang Timur, Jaw Barat sejak 2011 ini terus mengalami pertumbuhan pesat.
Produksi massal dimulai sejak tahun 2015 dan kini bertransformasi menjadi salah satu pemain utama penyuplai kebutuhan material bangunan domestik.
Di event ini perusahaan menunjukkan portofolio keramik Concord, Icarus, Delta, Hector, dan Gracia, hingga kategori granit premium seperti Pavia dan Fortuna yang menyasar pasar spesifik.