Aktivitas Janggal Diler Motor Listrik MBG Sebelum Dadan Hindayana Ditangkap
Noval Andriansyah June 07, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Benang kusut dugaan korupsi megaproyek Makan Bergizi Gratis ( MBG ) yang menyeret para petinggi Badan Gizi Nasional ( BGN ) perlahan mulai berdampak ke sektor hilir.

Baca juga: Menkeu Purbaya Blak-blakan, Dugaan Korupsi di BGN Terendus lalu Dilaporkan

Satu di antara diler merek motor listrik berinisial "E", yang memegang andil dalam pengadaan kendaraan operasional program MB, kini terpantau memunculkan aktivitas janggal dengan menutup diri dari publik.

Pemandangan sepi senyap itu terekam jelas pada Sabtu (6/6/2026) siang sekitar pukul 13.46 WIB. Kondisi diler yang mendadak mati suri ini terjadi tepat setelah Kejaksaan Agung ( Kejagung ) resmi mengurung mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, sebagai tersangka utama dalam kasus dugaan korupsi penyimpangan tata kelola program MBG.

Tak sendiri, Kejagung juga ikut menyeret eks Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung serta Sony Sonjaya ke dalam pusaran kasus yang sama.

Dikutip dari Tribunnews.com, berdasarkan pantauan langsung di lokasi, diler yang berdiri kokoh di sisi Jalan Raya Daan Mogot, Kelurahan Jelambar, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat itu tampak seperti bangunan tak berpenghuni. 

Pintu gerbang masuk berbahan besi yang dicat kombinasi warna biru dan hitam terlihat dikunci rapat menggunakan gembok besar dan lilitan rantai.

Begitu pula dengan gerbang utama lain yang berukuran lebih besar dengan identitas warna kuning-hitam khas diler tersebut, seluruhnya tertutup rapat tanpa celah.

Uniknya, di balik ketatnya gembok rantai itu, dari sela-sela pagar sempat terlihat bayangan seseorang yang mondar-mandir di dalam area diler.

Namun, lantaran tidak disediakan fasilitas komunikasi seperti bel atau interkom di pintu masuk, diler tersebut kini bak benteng yang memutus akses bagi orang luar.

Ratusan Motor Berlogo Garuda Pernah Keluar-Masuk

Kondisi gembok rapat ini berbanding terbalik dengan pemandangan beberapa pekan sebelumnya.

Gandi (bukan nama sebenarnya), seorang petugas sekuriti yang berjaga di kompleks pergudangan dekat diler tersebut, memberikan kesaksian bahwa tempat itu awalnya sangat sibuk dan produktif.

Menurut ingatannya, hiruk-pikuk aktivitas pabrikan itu terakhir kali terlihat sekitar dua bulan lalu. Kala itu, truk-truk kontainer raksasa silih berganti keluar-masuk area diler untuk melakukan bongkar muat ratusan unit motor listrik baru yang sudah ditempeli stiker khusus program andalan pemerintah.

"Kira-kira dua bulan lalu lah terakhir lihat. Ya ada mobil keluar-masuk bawa motor-motor MBG, yang ada lambang garudanya," ungkap Gandi memberikan kesaksian, Sabtu (6/6/2026).

Kesaksian senada juga meluncur dari bibir Rima (bukan nama sebenarnya), seorang pegawai toko cat yang sehari-hari beroperasi di sekitar diler.

Rima menyebut diler motor listrik "E" itu sebenarnya memang memiliki gelagat aneh sejak lama karena tidak mempunyai jadwal operasional yang pasti layaknya diler kendaraan pada umumnya, dan justru lebih sering kedapatan tutup.

Meski begitu, ia mengaku sempat melihat sisa-sisa aktivitas pengangkutan armada kendaraan bermesin ramah lingkungan tersebut sesaat sebelum badai penggerebekan Kejagung menghantam kantor pusat BGN.

"Mungkin minggu lalu kayaknya ya (terakhir lihat aktivitas diler), minggu lalu itu ada yang bawa motor-motor MBG," cetus Rima singkat.

Kini, setelah ketukan palu tersangka dijatuhkan kepada Dadan Hindayana cs atas dugaan kongkalikong komersialisasi izin operasional dapur umum, diler penyedia transportasi berlogo burung garuda itu justru memilih mengunci diri.

Misteri penutupan diler ini pun menggelinding liar, memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai seberapa jauh gurita korupsi MBG ini telah merembes ke sektor pengadaan barang dan jasa.

Dadan Cs Ditetapkan Tersangka

Sebelumnya, Kejaksaan Agung telah menetapkan mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, sebagai tersangka kasus korupsi penyimpangan tata kelola program MBG.

Selain Dadan, Kejagung juga menjerat eks Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya dalam perkara yang sama.

Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi mengatakan sejatinya, program MBG itu dikelola oleh yayasan yang terafiliasi dengan sekolah penerima

Namun pada pelaksanaannya, ternyata ditemukan banyak SPPG yang ditunjuk karena mempunyai afiliasi dengan petinggi BGN padahal tidak memiliki syarat untuk menjadi mitra SPPG.

"Tetap ditunjuk dengan cara dilakukan pengaturan verifikasi pada portal mitra BGN dengan adanya atensi dari para tersangka," kata Syarief dalam konferensi pers di Kantor Kejagung, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Selain itu, Syarief mengatakan Dadan cs melalukan intervensi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sehingga penyusunan KAK (Kerangka Acuan Kerja) pengadaan barang dan jasa pada BGN untuk mendukung program MBG tidak disusun sesuai kebutuhan riil di lapangan.

“Adanya mark up harga pengadaan sehingga terjadi kerugian yang tidak mendukung operasional pelaksanaan MBG,” ungkapnya.

Adapun pengadaan BGN yang dimaksud di antaranya:

1. Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan total pengadaan sebesar sekitar Rp 1 triliun.

2. Pengadaan 32.000 pasang sepatu yang tidak sesuai ketentuan dan adanya markup.

3. Pengadaan tablet sebanyak 31.000 sekian yang tidak sesuai ketentuan dan adanya markup.

4. Dan pengadaan televisi 75 inch sebanyak 5.400 unit yang tidak sesuai ketentuan dengan adanya markup harga.

Adapun sebagai imbalannya, kata Syarief, yayasan yang terafiliasi dengan para pelaku itu, menerima uang insentif hingga miliaran rupiah setiap harinya.

"Yayasan tersebut mendapatkan insentif miliaran rupiah setiap hari dan yayasan tersebut terafiliasi di antaranya dimiliki oleh Saudara DH, Saudara SS dan Saudara LP," tuturnya.

Akibat perbuatannya itu, Syarief mengatakan telah terjadi kerugian keuangan negara. Namun, kerugian negaranya masih dalam perhitungan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.