Tragedi Pembakaran Santri di Lombok Tengah, Korban Tewas, Anak 13 Tahun Alami Trauma Berat
M Zulkodri June 07, 2026 12:19 AM

 

POSBELITUNG.CO--Kasus dugaan pembakaran santri di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menjadi sorotan publik dan memunculkan keprihatinan terhadap perlindungan anak di lingkungan pendidikan berasrama.

Peristiwa yang terjadi pada November 2025 itu menyebabkan satu santri meninggal dunia, sementara dua lainnya mengalami luka bakar serius.

Salah satu korban selamat, berinisial SAH (13), hingga kini masih menjalani pemulihan dengan kondisi luka bakar mencapai 80 persen di tubuhnya.

Korban Alami Trauma Berat

Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, SAH tidak hanya mengalami luka fisik, tetapi juga dampak psikologis berat.

Ia dilaporkan mengalami gejala psikotik ringan, penurunan rasa percaya diri, hingga halusinasi auditori akibat peristiwa tersebut.

Pihak keluarga menyebut kondisi korban masih sangat memprihatinkan dan membutuhkan pendampingan medis serta psikologis intensif.

“Setelah kejadian, anak ini tidak berani membuka wajahnya karena malu dan trauma,” ujar bibi korban, Nurul Hidayah, Jumat (5/6/2026).

Diduga Dilakukan Kakak Kelas karena Dendam

Keluarga korban menduga aksi pembakaran dilakukan secara sengaja oleh seorang kakak kelas berinisial R.

Pelaku diduga menyimpan dendam karena korban pernah melaporkannya kepada ustaz di pondok pesantren.

Menurut keterangan keluarga, sebelum kejadian para korban sempat mendapat ancaman.

“Tiga hari sebelum kejadian dia bilang, ‘kalau kalian lapor lagi, saya akan bakar kalian’,” ungkap Nurul.

Kronologi Dugaan Pembakaran

Dalam peristiwa tersebut, lima santri dilaporkan sempat dikurung di sebuah ruangan oleh senior mereka sebelum kemudian dibakar menggunakan bahan bakar bensin.

Dua santri berhasil melarikan diri, sementara tiga lainnya mengalami luka bakar serius.

Salah satu korban sempat menjalani perawatan intensif selama empat bulan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Sementara SAH yang selamat kini masih dalam kondisi sulit beraktivitas akibat luka bakar parah.

Diduga Ada Upaya Menutupi Peristiwa

Keluarga juga menduga adanya upaya penutupan informasi oleh pihak pondok pesantren.

Awalnya, peristiwa disebut sebagai kecelakaan akibat aktivitas membakar sampah.

Namun setelah kondisi korban membaik dan memberikan keterangan, keluarga mendapat informasi bahwa insiden tersebut diduga merupakan tindakan kesengajaan.

“Kami sempat diberi tahu itu karena bakar sampah, tapi setelah anak-anak sadar, baru diketahui ada unsur kesengajaan,” kata Nurul.

Kasus Masih Diselidiki Polisi

Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penyelidikan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Lombok Tengah.

Kasi Humas Polres Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi, mengatakan penyidik masih terus mengumpulkan bukti dan keterangan untuk mengungkap fakta sebenarnya.

“Tindak lanjutnya kita melakukan penyelidikan lebih lanjut agar permasalahan ini bisa menjadi terang,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).

Ia juga membenarkan bahwa terlapor dalam kasus ini merupakan kakak kelas korban di lingkungan pondok pesantren.

Sorotan Perlindungan Anak di Lingkungan Pendidikan

Kasus ini memicu perhatian luas karena menyoroti lemahnya pengawasan dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan berasrama.

Aparat kepolisian mengimbau seluruh lembaga pendidikan, termasuk pesantren dan sekolah, untuk meningkatkan pengawasan terhadap perilaku serta interaksi para siswa.

“Kami mengingatkan agar semua lembaga pendidikan lebih memperhatikan pengawasan terhadap peserta didik,” kata pihak kepolisian.

Kasus dugaan pembakaran santri di Lombok Tengah ini masih terus didalami aparat penegak hukum.

Sementara itu, keluarga korban berharap proses hukum berjalan transparan dan pelaku dapat segera diungkap untuk memberikan keadilan bagi para korban.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.