Di Bawah Langit yang Sama, Apakah Bulan Tampak Sama di Semua Tempat?
GH News June 07, 2026 07:08 AM
Jakarta -

Bulan tampak indah pada malam hari dari fase sabit sampai purnama. Namun, tahukah, detikers, Bulan yang kita lihat di bawah langit yang sama ternyata bisa tampak berbeda?

Para astronom mencoba menjelaskan mengapa fenomena ini bisa terjadi. Secara umum, fenomena ini bisa terjadi karena letak geografis yang membuat penampakan Bulan berubah.

Sederhananya, cara kita melihat Bulan maupun bintang di langit sepenuhnya bergantung pada perspektif. Ini yang membuat penampakan Bulan terlihat berbeda dari satu tempat ke tempat lain, tergantung dari mana kita mengamatinya.

"Bagaimana kita melihat Bulan dan bintang semuanya bergantung pada perspektif," kata Pamela Gay, seorang ilmuwan senior di Planetary Science Institute, dikutip dari Live Science.

Penampakan Bulan Bergantung Perspektif Wilayah Bumi

Sejatinya, Bulan tidaklah berbeda di satu tempat dan di tempat lain. Namun, posisi pengamat di Bumi dapat memengaruhi cara kita melihat Bulan.

Misalnya, perbedaan melihat Bulan di Kutub Utara dan Kutub Selatan. Jika di Kutub Utara, tampilan kawah Tycho tampak di bagian bawah Bulan, sedangkan dari Stasiun Amundsen-Scott di Kutub Selatan justru terlihat di bagian atas Bulan.

Data yang dikompilasi oleh Lunar and Planetary Institute juga menunjukkan bahwa orientasi Bulan di Wellington, Selandia Baru, bisa berbeda sekitar 97,1 derajat dibandingkan dengan Los Angeles. Itu terjadi karena perbedaan lintang lokasi pengamat di Bumi.

Menurut Pamela Gay, fenomena ini terjadi karena orientasi pengamat terhadap objek di luar angkasa berubah seiring perpindahan lintang di Bumi. Orang yang berada di sisi Bumi yang berbeda akan melihat Bulan dari sudut pandang yang berbeda pula.

Selain itu, perbedaan lintang di Bumi juga membuat orientasi Bulan tampak berubah-ubah, dari kutub hingga wilayah dekat ekuator. Semakin berbeda posisi pengamat, semakin berbeda pula sudut pandang yang membuat Bulan terlihat tidak sama di langit malam.

Fase Bulan Bisa Terlihat Berbeda

Untuk memahami penampakan Bulan juga perlu mengetahui fasenya. Nyatanya, fase Bulan selama siklus lunar 29,5 hari ternyata dapat terlihat berbeda antara belahan Bumi utara dan selatan.

"Ini adalah hasil dari bagaimana bidang cakrawala lokal, berorientasi relatif terhadap posisi Bumi, Bulan, dan Matahari," kata spesialis observatorium Catherine Miller.

Misalnya di daerah yang jauh dari khatulistiwa, batas antara wilayah terang dan gelap pada Bulan tampak hampir vertikal. Akibatnya, perubahan fase Bulan di langit terlihat bergerak secara horizontal.

Namun, arah pergerakannya saling berlawanan. Pengamat di belahan Bumi utara melihat Bulan membesar dan mengecil dari kanan ke kiri, sedangkan di belahan Bumi selatan arah yang terlihat justru sebaliknya.

Perbedaan tampilan Bulan menjadi lebih menarik di wilayah ekuator. Saat Bulan terbit dan bergerak menuju fase purnama, bentuk sabitnya bisa tampak berkembang secara vertikal, bukan horizontal seperti di wilayah lain.

Kondisi tersebut membuat Bulan sabit di khatulistiwa sering kali terlihat menyerupai bentuk perahu yang sedang mengapung. Meski demikian, di sebagian besar wilayah Bumi, perubahan fase Bulan dapat tampak bergeser dari vertikal ke horizontal, atau sebaliknya, tergantung musim dan posisi pengamat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.