- Banten kaya dengan berbagai kuliner tradisionalnya. Kali ini kita akan membahas tentang kue apem putih bohay khas Kabupaten Pandeglang.
Di Desa Kadubangbang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang, Apem putih bohay diproduksi secara turun-temurun sejak tahun 1970.
Kue apem putih bohay menjadi buruan warga lokal maupun luar daerah sebagai menu berbuka puasa saat Ramadan.
Di pinggir jalan, tidak sedikit warga yang menjual apem putih bohay menjelang waktu berbuka puasa.
Apem putih bohay terbuat dari beberapa bahan baku pilihan.
Tepung beras menjadi bahan utama yang dipadukan dengan tape singkong, kemudian difermentasi selama enam hingga delapan jam.
Setelah adonan mengembang, adonan dituangkan ke dalam cetakan dari daun pisang dan dikukus di atas tungku api selama tujuh hingga delapan menit.
Kue apem putih bohay memiliki tekstur lembut, kenyal, dan berwarna putih yang menjadi ciri khas dari bahan serta proses pembuatannya.
Setelah matang, kue apem putih bohay diangkat, ditiriskan, lalu
dilepas dari cetakannya.
Kue apem putih bohay biasanya disajikan bersama gula merah yang telah dicairkan hingga kental.
Selain gula merah cair, apem putih bohay juga dapat disajikan dengan sirup atau susu, tergantung selera penikmatnya.
Mahfud, pemilik rumah produksi, mengatakan bahwa kualitas bahan baku sangat menentukan hasil akhir kue apem putih bohay.
"Bahan bakunya tepung beras yang kualitasnya bagus. Dipadukan dengan tape lalu difermentasi. Kalau bahannya bagus, enam sampai delapan jam sudah cukup," katanya saat ditemui di rumah produksinya.
Mahfud mengungkapkan, selama Ramadan 2026 produksi kue apem putih bohay meningkat.
Dalam sehari, ia mampu menjual hingga 4.000 sampai 5.000 potong apem putih bohay.
"Saat Ramadan, permintaan bisa naik sampai dua kali lipat, bahkan lebih. Penjualannya melonjak hingga 200 persen dibandingkan hari-hari biasa," ujarnya.
Apem putih bohay dijual Rp12.000 per bungkus yang berisi 10 potong. Sementara gula merah cair dijual terpisah seharga Rp3.000 per bungkus.
Menurut Mahfud, pembeli apem putih bohay tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga dari luar daerah.
"Mayoritas dari luar daerah. Kalau warga sini mungkin sudah sering, jadi sudah biasa," ujarnya.
Sementara itu, salah satu pembeli apem putih bohay, Uum, mengaku rutin membeli kue tersebut.
Bahkan, ia tidak hanya membeli saat Ramadan, tetapi juga pada hari-hari biasa.
"Sering beli, bukan cuma Ramadan. Kalau untuk konsumsi sendiri biasanya dua bungkus. Tapi kalau untuk buka puasa bersama dan bagi-bagi, bisa 10 sampai 15 bungkus," katanya.
Menurut Uum, keunikan tekstur dan rasa apem putih bohay sulit ditemukan pada apem lain yang dijual di pasaran.
"Kenyalnya beda, rasanya juga beda. Memang banyak yang jual apem, tapi ini ada khasnya," ujarnya.
Program: Local Experience
Editor: Untung Sofa Maulana
#localexperience #apemputihbohay #pandeglang #kuliner #kulinerkhas