BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Belajar dari pengalaman kabut asap yang berulang kali mengganggu aktivitas masyarakat, Pemerintah Kecamatan Tambangulang kini memperkuat barisan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga tingkat desa.
Beberapa orang relawan siaga bencana disiapkan di tiap desa rawan sebagai mata dan telinga pertama untuk mendeteksi serta menangani kemunculan titik api.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih ekstrem tahun ini.
Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi El Nino kuat yang berisiko meningkatkan ancaman kebakaran lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, termasuk Kabupaten Tanahlaut (Tala).
Camat Tambangulang Khairil Fahmi mengatakan pembentukan relawan dilakukan sesuai koordinasi dengan BPBD Tala.
Baca juga: Tugu Simpang Pasar Lawas Kilometer Pelaihari Tanahlaut Bakal Diperindah, Begini Respons Warga
Baca juga: Kecelakaan Maut di Panangkalaan HSU, Mahasiswi STIA Amuntai Meninggal Dunia
Selain relawan di tingkat desa, pihaknya juga menyiapkan relawan di level kecamatan untuk memperkuat respons cepat ketika muncul titik panas maupun titik api.
"Relawan desa sudah dibentuk sekitar enam orang per desa. Nanti akan diperkuat dengan surat keputusan dari kabupaten. Selain itu ada juga relawan di tingkat kecamatan yang siap membantu penanganan awal di lapangan," kata Khairil, Minggu (7/6/2026).
Menurut dia, keberadaan relawan menjadi sangat penting karena wilayah Tambangulang selama ini termasuk daerah yang rawan karhutla.
Relawan diharapkan dapat segera memberikan informasi ketika muncul titik api sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat sebelum kebakaran meluas.
Selain membentuk relawan, aparat kecamatan juga terus menggencarkan sosialisasi ke desa-desa rawan melalui Kasi Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantib) bersama aparatur lainnya.
Khairil menjelaskan salah satu kawasan yang mendapat perhatian khusus adalah Desa Gunungraja yang berbatasan dengan Desa Benuaraya, Kecamatan Batibati.
Kawasan tersebut memiliki hamparan lahan tidur yang ditumbuhi semak kering atau bondong dalam luasan cukup besar.
Saat musim kemarau panjang, vegetasi kering itu sangat mudah terbakar dan api dapat menjalar dengan cepat ke wilayah yang lebih luas.
"Kawasan Gunungraja menjadi salah satu titik yang terus kami awasi karena terdapat hamparan bondong yang sangat luas. Ketika kemarau panjang, kondisinya sangat kering dan rawan terbakar," ujarnya.
Perhatian serupa juga diberikan kepada Desa Sungaipinang yang memiliki karakteristik lahan hampir sama. Bahkan kawasan bondong di desa tersebut saling terhubung dengan wilayah Gunungraja, Benuaraya dan sejumlah desa lainnya sehingga berpotensi memperluas dampak jika terjadi kebakaran.
Khairil mengakui kebakaran lahan di kawasan tersebut bukan persoalan baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran berulang kali terjadi dan sempat memunculkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
"Asap tidak hanya mengganggu kesehatan warga, tetapi juga mengurangi jarak pandang pengguna jalan di ruas nasional Pelaihari-Banjarmasin. Karena itu kewaspadaan harus ditingkatkan sejak sekarang," tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar rumput maupun semak-semak, serta menghindari berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Perhatian khusus juga diberikan kepada warga yang memiliki lahan berbatasan langsung dengan kawasan bondong. Mereka diminta lebih berhati-hati, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan yang dapat menjadi pemicu munculnya api.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Tala telah menggelar apel kesiapsiagaan penanganan karhutla di Lapangan Pertasi, Pelaihari, yang dipimpin langsung Bupati H Rahmat Trianto.
Dalam kesempatan itu, para camat di wilayah rawan karhutla diminta memperkuat langkah-langkah antisipasi menghadapi musim kemarau tahun ini.
Warga Pelaihari, Suryani, berharap pembentukan relawan dan langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah benar-benar berjalan maksimal sehingga kebakaran lahan dapat ditekan.
"Kita sudah beberapa kali merasakan dampak kabut asap saat bepergian menuju Banjarmasin karena jalan raya A Yani mulai dari Desa Pulausari, Gunungraja hingga Batibati terselimuti asap," sebutnya.
Pada kondisi tersebut aktivitas warga benar-benar terganggu, kesehatan juga terpengaruh. "Mudah-mudahan tahun ini pencegahannya lebih kuat sehingga tidak terjadi lagi," harapnya.
Harapan serupa disampaikan Nurhayati, warga Kecamatan Tambangulang. Menurutnya, keterlibatan relawan hingga tingkat desa menjadi langkah positif karena penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
"Kalau titik api cepat diketahui dan langsung ditangani, kemungkinan kebakaran meluas tentu bisa dikurangi. Kami berharap karhutla tahun ini bisa dicegah sejak awal dan masyarakat tidak lagi terganggu oleh asap," katanya.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)