POS-KUPANG.COM -- Keindahan alam Flores sudah tak diragukan lagi. Mulai dari laut, gunung, pantai, air terjun , danau serta budaya lokal yang ikonik .
Dan, Flores Timur yang berada dijung timur Pulau Flores juga memiliki keindahan yang tak kalah dengan bagian Pulau Flores yang lain .
Dam , keindahan alam Flores Timur memikat hati setiap pengunjung yang datang. Kekayaan alam dan budayanya yang melimpah selalu menjadi incaran wisatawan. Salah satu spot wisata andalannya adalah Tanjung Eputobi .
Tanjung Eputobi merupakan tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal, domestik dan asing.
Baca juga: Wisata NTT, Liburan ke Sumba Pilihan Cap Karoso Sumba Paduan Kontemporer dan Budaya Lokal
Letaknya yang sangat strategis di tepi Jalan Trans Larantuka-Maumere, di Desa Lewoingu, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Lama perjalanan menggunkan kendraan roda dua kurang lebih 30 menit dari Kota Larantuka.
Letaknya yang strategis ini membuat para pelaku perjalanan memutuskan untuk sejenak beristirahat dan menepikan kendaraan di badan jalan. Melihat seluruh bentangan alamnya paling tepat berada di ketinggian kawasan tempat wisata ini.
Melepaskan penat atau sekadar menikmati bentangan alam Tanjung Eputobi yang menawan tentu memberikan kesan yang terlupakan.
Waktu sore hari selalu ramai karena keindahan matahari yang terbenam di balik bukit-bukit di Tanjung Eputobi. Di tempat wisata ini terdapat kedai-kedai kopi sederhana yang berlatarkan Pulau Konga, panorama teluk dan Pulau Solor.
Warung kopi menjadi tempat untuk melihat keindahan ini sembari meneguk secangkir kopi panas. Tak sekadar melihat eksotisnya senja di Tanjung Eputobi, setiap pengunjung tidak melewatkan moment ini.
Merekam bentangan keindahan ini melalui ponsel dan ada yang berswa foto.
Tanjung Eputobi selain menyuguhkan keindahan, terdapat cerita yang di balik nama tempat wisata ini. Menurut penuturan penduduk setempat, dahulu terdapat pohon asam yang dijadikan tempat berkumpul penduduk usai mengiris tuak.
Tempat ini dinamai Eputobi, dalam bahasa setempat “epu” memiliki arti tempat orang berkumpul setelah iris tuak. Sedangkan “tobi” adalah pohon asam.
Dahulu, kegiatan berkumpul sebagai tatanan hidup berkomunitas. Menurut sejarah yang mereka tuturkan komunitas ini dekanl sebagai komunitas Dumbata atau Lewowerang.
Baca juga: Wisata NTT, Nikmati Pesona Air Terjun Mauhalek, Rasakan Desiran Air di Bebatuan
Pantauan TribunFlores.com, Sabtu 17 Desember 2022, Banyak pengendara yang menghentikan laju kendaraannya saat melintasi Tanjung Eputobi di jalan ini.
Sekedar melepas lelah atau sengaja untuk mengabadikan momen, dengan berfoto bersama atau pun swafoto.
"Mereka singgah sekedar berfoto ria, karena view pantai, Gunung Lewotobi, Pulau Konga, dan bentangan Pulau Solor begitu indah, apalagi di waktu sunset," Kata Aceng Kumanireng (45) salah satu penjual kuliner di Tanjung Eputobi.*