Pelatih Anton: Piala Dunia 2026 Akan Jadi Ujian Taktik dan Ketahanan Fisik
Aurora Nightingale June 07, 2026 05:35 PM

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menjadi turnamen paling meriah sekaligus paling menantang sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

Dengan format baru, jumlah tim peserta meningkat dari 32 menjadi 48, menghasilkan total 104 pertandingan. Kondisi ini diyakini akan memberikan tekanan fisik luar biasa dan tantangan besar dalam hal pemulihan bagi para pemain.

“Menurut saya, format baru ini memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, kesempatan tampil terbuka bagi lebih banyak negara, termasuk Indonesia yang hampir lolos,” ujar Antonius Lao, pelatih Bali United Academy Mataram, dalam podcast Jemput Bola Tribun Lombok.

Bertambahnya jumlah tim otomatis membuat total pertandingan meningkat signifikan, dari 64 menjadi 104 laga.

Durasi turnamen pun menjadi lebih panjang. Setelah fase grup, tim peserta masih harus melewati babak 32 besar sebelum melangkah ke fase berikutnya.

“Inilah yang membuatnya semakin rumit, karena turnamen akan berlangsung panjang. Dampak negatifnya, setiap pemain membutuhkan pemulihan yang sangat baik. Saya rasa semua tim akan dibuat pusing oleh hal tersebut,” kata pria yang akrab disapa Coach Anton.

Bertambahnya jumlah laga tentu membuat pemain lebih cepat kelelahan. Ibarat menjalani ‘puasa sebulan penuh’, baik penonton maupun pemain akan terlibat dalam jadwal yang padat, sehingga waktu istirahat pemain menjadi sangat terbatas.

Menurut Coach Anton, secara ideal seorang pemain membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk memulihkan diri setelah satu pertandingan agar siklus pemulihan—meliputi istirahat total, asupan nutrisi, dan pengembalian performa puncak—dapat berjalan optimal.

Namun, dengan jadwal yang padat di format baru ini, para pemain kemungkinan besar kesulitan mencapai kondisi fisik 100 persen di setiap pertandingan.

Intensitas Permainan Meningkat

Selain jumlah pertandingan, regulasi baru juga memperkenalkan aturan terkait “waktu bersih”—seperti batas 5 detik untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang, serta 10 detik untuk pergantian pemain—yang akan memaksa pemain terus aktif tanpa banyak jeda.

Aturan ini membuat pemain tidak lagi memiliki kesempatan untuk bersantai selama permainan. Namun di sisi lain, hal ini dapat memperburuk proses pemulihan fisik di antara pertandingan.

Selain kelelahan fisik, intensitas jadwal juga berisiko menyebabkan kejenuhan psikologis, terutama bagi pemain yang sebelumnya sudah menjalani musim kompetisi panjang di liga-liga Eropa sebelum turnamen dimulai.

Faktor Geografis dan Cuaca

Piala Dunia 2026 akan menjadi yang pertama kali diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Jarak tempuh antarlokasi pertandingan yang jauh serta perbedaan zona waktu ekstrem diyakini akan sangat memengaruhi kondisi tubuh para pemain.

Coach Anton menuturkan bahwa perbedaan waktu satu jam saja dapat terasa seperti satu hari penuh bagi tubuh untuk beradaptasi.

Selain itu, para pemain juga harus menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca yang berbeda-beda, mulai dari suhu panas di Miami atau Meksiko hingga udara dingin di Kanada.

Kesimpulannya, dalam format turnamen yang sangat melelahkan ini, tim yang akan tampil unggul bukan hanya yang memiliki strategi taktik matang, tetapi juga yang mempunyai kedalaman skuad merata antara pemain inti dan cadangan.

Selain itu, dukungan dari tim nutrisi dan medis yang andal akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kebugaran dan performa pemain sepanjang turnamen.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.