TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mendorong koperasi harus naik kelas dan tidak lagi hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan atau simpan pinjam.
Menurutnya, koperasi perlu terlibat langsung dalam aktivitas produksi, pengolahan, hingga distribusi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi anggotanya.
Pernyataan itu disampaikan Ferry saat menghadiri penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Koperasi Konsumen Kana (Kopmen Kana) dan Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya di PT Indogula Jayabaya, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (6/6).
"Koperasi perlu didorong tidak hanya bergerak di sektor pembiayaan, tetapi juga masuk ke sektor produksi, pengolahan, dan distribusi. Dengan demikian, koperasi dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada anggota, sekaligus memperkuat daya saing produk nasional," katanya.
Ferry menuturkan, model usaha yang mengintegrasikan kegiatan dari hulu hingga hilir menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekonomi rakyat.
Melalui pola tersebut, dia menambahkan, petani tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat dari proses pengolahan dan pemasaran produk.
Ia menilai, kerja sama antara Kopmen Kana dan Putra Harapan Jaya menjadi contoh nyata bagaimana koperasi mampu memainkan peran penting dalam hilirisasi komoditas pertanian.
"Kerja sama ini menunjukkan bahwa koperasi mampu menjadi pelaku utama dalam produksi, distribusi, dan hilirisasi untuk memperkuat ekonomi rakyat," ujarnya.
Ferry menyatakan, pemerintah terus mendorong lahirnya koperasi-koperasi produktif yang mampu mengelola usaha sektor riil secara profesional dan berkelanjutan.
Ia menyebut, model bisnis itu penting untuk meningkatkan kesejahteraan anggota sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Ferry juga menyoroti pentingnya dukungan pembiayaan bagi koperasi yang menjalankan usaha produktif.
Menurutnya, akses permodalan menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan usaha dan memperluas dampak ekonomi bagi anggota.
Pandangan itupun mendapat dukungan dari Direktur Utama LPDB, Krisdianto Soedarmono, yang menilai koperasi sektor riil memiliki potensi besar berkembang apabila ditopang pembiayaan yang memadai. (Tribunnews/Eko Sutriyanto)