Nelayan Pulau Ampel Keluhkan Dugaan Dampak Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Perairan Setempat
Seno Tri Sulistiyono June 07, 2026 11:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nelayan Pulau Ampel, Kecamatan Pulau Ampel, Kabupaten Serang Banten mengeluhkan aktivitas bongkar muat kapal vesell ke Tongkang yang dilakukan di Perairan Pulau Ampel. 

Hal tersebut mengurangi hasil tangkapan ikan, dan nelayan harus lebih jauh mencari ikan ke tengah laut akibat aktivitas tersebut.

Seperti diketahui aktivitas tersebut sudah terjadi lama, dan terjadi setiap hari bongkaran batu bara di tengah laut, dan kalau ini terpantau bongkar batu bara dari sebuah kapal kapal vesell ke tongkang.

Baca juga: Penghentian Polusi Plastik Perlu Terus Didorong untuk Cegah Pencemaran Lingkungan

Nurjen salah seorang nelayan di Pulau Kali, Pulau Ampel mengatakan, aktivitas tersebut sudah terjadi lama dan setiap hari, tidak ada memperhatikan lingkungan, banyak batu bara yang jatuh ke laut yang mengakibatkan pencemaran laut.

"Kegiatan itu sudah lama, bahkan setiap hari, kapal yang bongkar tersebut berganti ganti," katanya kepada wartawan dikutip Minggu (7/6/2026).

Batu bara yang jatuh ke laut, lanjut Nurjen, merusak terumbu karang, dan ikan-ikan pada takut, dan ditambah lagi kebisingan aktivitas tersebut, tidak ada ikan sekitar perairan Pulau Kali.

"Biar dapat ikan kita harus melaut jauh, kalau sekitar sini tidak ada ikan, akibat batubara jatuh ke laut dan kebisingan," tambahnya.

Nurjen menjelaskan, padahal batu bara tersebut akan dibawa ke PLTU Jawa tujuh akan tetapi mengapa dilakukan bongkar di Perairan Pulau Kali, kenapa tidak di sekitar lokasi tempat batu bara dibongkar.

"Harusnya jangan di sini dong, sekitar Perairan Salira atau lebih dekat dengan bongkaran batu bara, dan kita orang kecil hanya bisa berharap agar pihak terkait memindahkan aktivitas tersebut," ujarnya.

Hal serupa juga di katakan Nelayan Ahmad Sahruji, untuk mencari ikan harus jauh ke atas perairan Pulau Panjang, karena di sekitar Pulau Kali sudah tidak ada ikan, lautnya sudah tercemar, baik limbah batubara jatuh ke laut, maupun limbah industri sekitar perairan Pulau Ampel.

"Kalau sekitar sini sudah tidak ada ikan, harus jauh ke tengah agar bisa dapat ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," tuturnya.

Dalam kegiatan bongkar di tengah laut tersebut, lanjut Ahmad Sahruji, para pekerja tidak memperhatikan keselamatan lingkungan laut, karena tidak dilengkapi dengan peralatan atau alat penutup agar batu bara tidak jatuh ke laut.

"Kita nelayan rakyat kecil, harusnya dikasih plastik atau terpal dong, agar batubara itu tidak berjatuhan ke laut saat pemindahan batu dari kapal besar ke kapal tongkang," ucapnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.