Lionel Messi Tak Butuh Piala Dunia untuk Jadi yang Terhebat, Tapi Ia Pantas Mendapatkannya — Javier Zanetti Kenang Momen Kejayaan Argentina 2022
Agus Firmansyah June 08, 2026 05:24 AM

Bagi Argentina, Piala Dunia 2022 di Qatar bukan sekadar berakhirnya penantian panjang selama 36 tahun untuk kembali menjadi juara dunia.

Turnamen tersebut menjadi perjalanan penuh emosi selama satu bulan, di mana La Albiceleste mengalami pasang surut dari keputusasaan hingga kebahagiaan yang luar biasa. Di pusat kisah itu berdirilah sang kapten, Lionel Messi, yang akhirnya menambahkan satu trofi besar yang sebelumnya selalu luput dari genggamannya.

Bagi mantan kapten tim nasional Argentina, Javier Zanetti — yang karier internasionalnya selama 18 tahun berlangsung tepat di tengah masa penantian Argentina akan gelar dunia kedua — kenangan dari bulan bersejarah di Qatar itu akan selalu melekat dalam ingatannya.

“Empat tahun telah berlalu, tapi momen itu tetap tak terlupakan bagi saya dan seluruh rakyat Argentina — melihat kapten kami, Lionel Messi, mengangkat trofi Piala Dunia,” kenang Zanetti kepada majalah FourFourTwo.

“Keluarga saya ada di Qatar bersama saya — kami melewati bulan itu bersama-sama, merasakan setiap emosi, mulai dari kekalahan melawan Arab Saudi ketika seolah tidak akan ada akhir yang bahagia, hingga akhirnya tiba di momen kemenangan.”

Kekalahan 1-2 dari Arab Saudi menjadi salah satu kejutan terbesar di fase grup, karena tim dari Asia itu memutuskan rekor tak terkalahkan Argentina yang telah berlangsung 36 pertandingan sejak tahun 2019.

Hasil tersebut juga mengingatkan pada kekalahan pembuka Argentina dari Kamerun di Piala Dunia 1990, turnamen di mana mereka akhirnya kalah di partai final.

Kemenangan atas Meksiko dan Polandia memastikan langkah aman Argentina ke babak gugur, di mana mereka menyingkirkan Australia, Belanda, dan Kroasia sebelum menaklukkan Prancis dalam salah satu final Piala Dunia terbaik sepanjang masa.

“Segera setelah pertandingan berakhir, saya sempat turun ke lapangan,” ujar Zanetti ketika mengenang final tersebut.

“Saya menyalami semua pemain, dan satu-satunya yang belum saya temui hanyalah Lautaro Martínez dan Messi.”

“Saat saya mencari Lautaro dan menaiki podium, seseorang menepuk kaki saya. Saya menoleh, dan ternyata itu Messi.”

“Kami berpelukan, dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada istri dan anak-anaknya. Saya bilang kepada mereka bahwa mereka tidak tahu betapa beruntungnya memiliki ayah seperti Messi. Itu adalah momen yang sangat spesial bagi saya. Messi tidak membutuhkan Piala Dunia untuk menjadi salah satu pemain terbaik sepanjang masa, tapi ia pantas mendapatkannya. Ia telah membawa kejayaan bagi Argentina.”

“Lionel pantas mendapatkan momen kejayaan itu, pengalaman sekali seumur hidup. Ia telah banyak menderita bersama tim nasional, tetapi akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk mengangkat trofi Piala Dunia.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.