TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lonjakan harga kedelai impor yang terus merangkang naik mulai memukul telak industri pembuatan tahu di Kota Bandung, Jawa Barat.
Sejumlah produsen dan pedagang mengeluhkan pembengkakan modal produksi yang luar biasa, sementara daya beli masyarakat justru kian melemah akibat harga jual yang terpaksa ikut terkerek naik.
Kondisi pelik ini salah satunya dirasakan oleh Galih, pemilik Pabrik Tahu Susu Sutra Cibuntu.
Pengusaha yang merintis bisnisnya sejak 2009 ini mengungkapkan, harga kedelai yang semula berkisar Rp8.000 hingga Rp8.500 per kilogram, kini melesat mendekati angka Rp11.000 per kilogram.
Akibatnya, omzet harian pabrik legendaris tersebut langsung ambles signifikan.
"Kalau dulu produksi bisa mencapai 7 sampai 8 ton per hari, sekarang terpaksa dikurangi jadi sekitar 6 ton saja," kata Galih, Minggu (7/6/2026).
Menurut Galih, tren kenaikan bahan baku ini makin mengkhawatirkan seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Demi menjaga kualitas rasa, ia memilih opsi menaikkan harga jual ketimbang memperkecil ukuran tahu.
Sayangnya, strategi ini membuat pelanggan memotong jumlah pembeliannya.
"Daya beli masyarakat berkurang. Biasanya pelanggan beli 50 biji, sekarang dikurangi jadi cuma 30 biji."
"Dulu beli kedelai modalnya Rp100 juta, sekarang untuk jumlah yang sama harus keluar Rp120 juta. Jelas keuntungan tergerus," keluhnya.
Dampak rembetan krisis kedelai ini juga dirasakan langsung oleh Supriyanti, seorang pedagang tahu di pasar.
Ia mengaku omzet penjualannya merosot tajam lantaran konsumen mulai emoh belanja dalam jumlah banyak.
Supriyanti menceritakan, harga tahu dari pihak penyuplai/pabrik rata-rata naik sekitar Rp2.000.
Kenaikan yang terus-menerus ini memicu respons negatif dan sindiran dari para emak-emak pelanggan setianya.
"Sekarang sepi. Pembeli pada protes, bilang 'naik lagi, naik lagi'. Katanya tahu sekarang sudah kayak BBM, harganya hobi naik terus," tutur Supriyanti menirukan keluhan konsumennya.
Tak hanya mengeluhkan harga, sebagian konsumen di pasar juga menyoroti ukuran tahu dari beberapa merek lain di pasaran yang dinilai kian hari kian mengecil (shrinkflation).
Baik perajin besar di sentra Cibuntu maupun pedagang eceran seperti Supriyanti, kini hanya bisa menaruh harapan besar pada intervensi pemerintah.
Mereka mendesak adanya langkah taktis dan konkret untuk menstabilkan harga kedelai agar rantai usaha makanan rakyat ini tidak gulung tikar. (*)
Baca juga: Kedelai Mahal Cekik Perajin Tahu Tempe Bandung, Berharap Berkah dari Program Makan Bergizi Gratis