Fenomena Eksodus dari Marketplace Menjadi Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
Content Writer June 08, 2026 11:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Fenomena meningkatnya pelaku usaha yang mulai mengurangi ketergantungan pada marketplace kini menjadi perhatian di industri digital Indonesia. 

Perubahan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kenaikan biaya logistik, komisi platform, biaya promosi, hingga persaingan harga yang semakin ketat dan kurang sehat. 

Kondisi tersebut muncul seiring industri e-commerce yang kini memasuki fase fokus pada profitabilitas setelah bertahun-tahun berada dalam era “bakar uang”.

Akibatnya, banyak pelaku usaha mulai mencari alternatif channel penjualan lain seperti social commerce, WhatsApp, hingga website pribadi. Peralihan ini dinilai sebagai langkah yang rasional karena memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pelaku usaha dalam mengelola bisnis sekaligus menjaga efisiensi operasional.

Di tengah perubahan lanskap e-commerce saat ini, pelaku usaha dinilai perlu mulai melakukan diversifikasi channel penjualan dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada marketplace. 

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menilai bahwa social commerce, WhatsApp, dan website pribadi kini menjadi alternatif yang semakin relevan karena menawarkan fleksibilitas dan efisiensi biaya yang lebih baik.

Selain membantu menjaga margin keuntungan, channel mandiri juga memungkinkan bisnis membangun hubungan langsung dengan pelanggan, memperkuat loyalitas, serta memiliki kendali lebih besar terhadap branding dan pengalaman konsumen. 

Di tengah konsumen yang semakin sensitif terhadap harga, pelaku usaha juga didorong untuk meningkatkan efisiensi operasional dan membangun strategi multi-channel agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan di tengah perubahan ekosistem digital.

Menurut Fadhila Maulida selaku Peneliti Center of Digital Economy and SMEs The Indef, pertumbuhan jumlah pelaku usaha di marketplace memang meningkat pesat, namun tidak diiringi pertumbuhan transaksi (GMV) dan permintaan pasar yang sebanding. Kondisi ini menunjukkan persaingan yang semakin ketat dan meningkatkan tekanan bagi pelaku usaha.

Fenomena perpindahan seller dari marketplace ini menunjukkan perubahan perilaku bisnis digital di Indonesia yang kini semakin fokus membangun channel penjualan yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Everpro melihat tren ini sebagai momentum pertumbuhan social commerce dan direct-to-consumer business di Indonesia.

Pelaku usaha kini tidak hanya mengejar traffic, tetapi juga mulai berfokus membangun aset bisnis sendiri serta hubungan pelanggan yang lebih direct dan long term. Mereka ingin memiliki ownership yang lebih besar terhadap pelanggan, margin, serta keberlanjutan bisnis jangka panjang. Di sinilah kebutuhan terhadap ekosistem bisnis mandiri semakin meningkat.

Baca juga: Everpro Luncurkan Layanan Akun Iklan TikTok Whitelist Resmi

Everpro Hadir Mendukung Adaptasi Bisnis di Tengah Perubahan Perilaku Seller

Perubahan perilaku pelaku usaha ini menunjukkan bahwa bisnis digital di Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih matang. Everpro hadir untuk membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perubahan tersebut melalui solusi yang memudahkan pengelolaan penjualan, operasional, customer engagement, hingga fulfillment dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

“Di tengah perubahan perilaku seller saat ini, pelaku usaha tidak lagi hanya membutuhkan channel untuk berjualan, tetapi juga sistem yang membantu mereka membangun bisnis yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Kami melihat kebutuhan terhadap owned channel dan pengelolaan customer relationship kini menjadi semakin penting,” ujar Faris M Hanif, VP Everpro.

Everpro percaya bahwa di tengah perubahan ekosistem digital saat ini, pelaku usaha membutuhkan sistem yang tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga mendukung efisiensi operasional serta kemandirian bisnis dalam jangka panjang.

Baca juga: Everpro Sukses Gelar Program KURMA, Bantu Pebisnis Online Tingkatkan Penjualan di Bulan Puasa

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.