Asa Rumah Tenun Milenial Berdayakan Janda hingga Anak-anak di Kaki Ile Boleng, Adonara NTT
Gordy Donovan June 08, 2026 11:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, ADONARA -  Angin sore berembus pelan di kaki Gunung Ile Boleng Jalan Trans Adonara, Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT.

Dari sebuah rumah sederhana berdinding bambu dan beratap alang-alang, bunyi kayu alat tenun terdengar bersahutan. 

Tidak ada pintu yang menutup rumah itu. Bagian depannya terbuka lebar.

Di dinding rumah tenun itu tergantung gulungan benang warna-warni dan kain-kain tenun khas Adonara dengan motif yang rumit. Ada warna merah, hitam, cokelat, dan biru berpadu.

Baca juga: Cerita Anak-anak Penjaga Warisan Tenun dari Kaki Ile Boleng NTT, Rumah Tenun Milenial Tempat Belajar

Pagi Hari Sudah Ramai

Sejak pagi, rumah tenun itu sudah ramai. Sejumlah ibu-ibu duduk bersila di depan alat tenun kayu. Jemari mereka bergerak lincah menyisipkan benang demi benang dengan ketelitian tinggi. Di antara mereka ada para janda yang menjadikan menenun sebagai sumber penghidupan utama. Pondok itu diberi nama Rumah Tenun Milenial. 

Tidak banyak percakapan panjang di tempat itu. Namun suara alat tenun yang saling beradu menjadi bahasa yang dipahami bersama. Kadang terdengar tawa kecil, kadang pula obrolan tentang harga benang, pesanan kain, atau kebutuhan sekolah anak-anak mereka.

Bagi perempuan-perempuan di kaki Ile Boleng itu, menenun bukan sekadar pekerjaan rumah. Menenun adalah cara bertahan hidup.

Keterampilan itu mereka pelajari sejak kecil dari ibu dan nenek mereka. Kini, tradisi tersebut kembali diwariskan kepada generasi baru.

Setiap pulang sekolah, anak-anak datang ke rumah tenun itu. Mereka tidak mengenakan seragam sekolah, mereka duduk mengelilingi para penenun. Ada yang mulai belajar menggulung benang, ada yang mencoba menyusun motif sederhana. Sesekali mereka tertawa ketika benang kusut atau salah menyusun pola.

Di tempat itu, anak-anak tidak hanya belajar membuat kain. Mereka sedang belajar mengenal identitas mereka sendiri.

Rumah tenun itu menjadi ruang belajar budaya yang hidup. Tidak ada papan tulis atau meja kelas, tetapi ada nilai-nilai tentang kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Baca juga: Cerita Anak-anak Penjaga Warisan Tenun dari Kaki Ile Boleng NTT, Rumah Tenun Milenial Tempat Belajar

Di samping rumah tenun berdiri sebuah pondok kecil yang dijadikan gerai penyimpanan hasil karya para penenun. Namanya Ria Collection. Di dalamnya tersusun rapi sarung tenun, selendang, tas, hingga aksesori berbahan kain khas Adonara.

Setiap motif memiliki cerita dan tingkat kesulitan berbeda. Karena itu, harga kain tenun pun bervariasi. Ada yang dijual mulai Rp250 ribu, ada pula yang mencapai jutaan rupiah untuk motif yang lebih rumit dan dikerjakan dalam waktu berbulan-bulan.

Meski berada di wilayah yang jauh dari kota besar, para penenun di kaki Ile Boleng tidak ingin tertinggal. Mereka mulai memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil karya mereka. Foto-foto kain tenun diunggah melalui Facebook, Instagram, hingga TikTok.

Untuk pengiriman, mereka menggunakan jasa ekspedisi seperti Lion Parcel dan JNE. Dari kampung kecil di lereng gunung, kain-kain tenun itu kini bisa menjangkau kota-kota besar di Indonesia termasuk luar negeri.

Namun bagi para perempuan di rumah tenun itu, keuntungan bukan satu-satunya tujuan.

Mereka ingin budaya menenun tetap hidup. Mereka tidak ingin anak-anak Adonara tumbuh tanpa mengenal kain tenun daerahnya sendiri. Sebab di balik setiap helai kain, ada sejarah panjang tentang perempuan, keluarga, dan identitas masyarakat pulau itu.

Karena itu mereka terus menenun, bahkan ingin melakukannya sampai tua.

Di rumah sederhana tanpa pintu itu, harapan sedang dirajut setiap hari. Bukan hanya harapan tentang ekonomi keluarga yang lebih baik, tetapi juga tentang budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dirikan Rumah Tenun Milenial

Pendiri Rumah Tenun Milenial, Mariana Tutodamon atau perempuan yang akrab disapa Ria Ata Soge menjelaskan ia dirikan rumah tenun milenial sejak tahun 2022. Sementara brand Ria Collection sudah saya mulai sejak tahun 2018.

Saya membangun Rumah Tenun Milenial berangkat dari kegelisahan saya sebagai anak muda Adonara. Saya melihat bahwa menenun adalah pekerjaan utama bagi perempuan di daerah kami, khususnya di Desa Nobo, Gayak, dan Boleng. Namun, saat itu kegiatan menenun hanya sebatas memenuhi kebutuhan adat, seperti acara adat dan kedukaan, sementara nilai ekonominya mulai berkurang,"ujar Ria kepada TRIBUNFLORES.COM Selasa (19/5/2026).

Ia mulai berpikir bahwa sebagai anak muda, dirinya harus ikut mengambil peran dalam melestarikan sekaligus mengembangkan tenun agar memiliki nilai yang lebih besar, baik secara budaya maupun ekonomi. 

Karena itu, ia mendalami dunia tenun dan membangun Rumah Tenun Milenial sebagai ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mengenal dan mempelajari tenun, baik masyarakat lokal maupun masyarakat dari luar Adonara.

Saat ini, di Rumah Tenun Milenial dibuka kelas menenun untuk anak-anak serta masyarakat umum yang ingin belajar menenun dan memahami nilai budaya di balik setiap motif tenun.

Dalam menjalankan Rumah Tenun Milenial, ia lebih fokus pada pemberdayaan mama-mama, khususnya para janda yang mengalami kesulitan ekonomi. 

Mereka ingin membantu para mama meningkatkan perekonomian rumah tangga melalui kegiatan menenun. Namun, mereka juga memahami bahwa para mama memiliki tanggung jawab mengurus rumah dan anak-anak, sehingga tidak diwajibkan bekerja penuh waktu di rumah tenun.

Karena itu, benang dan seluruh bahan yang dibutuhkan disiapkan lalu dibagikan agar para mama dapat bekerja dari rumah masing-masing. 

MENENUN - Anak-anak saat belajar menenun di rumah tenun milenial milik Ria Ata Soge di Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (19/5/2026).
MENENUN - Anak-anak saat belajar menenun di rumah tenun milenial milik Ria Ata Soge di Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (19/5/2026). (TRIBUNFLORES.COM/GG)

Setelah proses menenun selesai, hasil karya mereka disetorkan kembali ke Rumah Tenun Milenial untuk diproses dan dipasarkan.

Selain memberdayakan para mama, Rumah Tenun Milenial juga melibatkan anak-anak muda, baik yang masih aktif sekolah maupun yang putus sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Setelah pulang sekolah, mereka datang untuk belajar, berkegiatan, dan mengenal tenun sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus peluang masa depan.

Baginya, Rumah Tenun Milenial bukan hanya tempat belajar menenun, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan, pelestarian budaya, dan harapan bagi masyarakat.

"Saya percaya bahwa jika potensi yang kita miliki di daerah sendiri bisa dikembangkan dengan baik, maka kita dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal dan mengurangi keinginan anak muda untuk merantau,"ujarnya.

Ia berharap Rumah Tenun Milenial dapat terus berkembang sehingga semakin banyak anak muda mencintai budaya lokalnya sendiri dan menjadikannya sebagai jalan untuk membangun masa depan serta meningkatkan ekonomi keluarga.

Ia juga berpesan kepada anak-anak muda di luar sana agar mencintai budaya lokal mereka, karena budaya merupakan fondasi yang kuat untuk membangun masa depan yang lebih baik. (Kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.