TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Rangkaian ritual adat pernikahan Suku Bajo yang sakral digelar di pesisir Dusun Namandoi, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (5/6/2026).
Pernikahan Andar dan Fitriani menjadi panggung utama bagi warga Dusun Namandoi untuk menapaktilas kembali filosofi hidup suku pengembara laut ini.
Prosesi yang dimulai dari membangunkan pengantin, mandi kembang, Tari Manca, hingga malam Kurintigi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan upaya masyarakat Bajo setempat dalam merawat marwah dan jati diri leluhur di tengah arus modernisasi.
Baca juga: Riset Genetika Ungkap Risiko Tinggi Penyakit Tidak Menular pada Suku Bajo di Sikka akibat Pola Hidup
Rangkaian adat pernikahan Suku Bajo salah satu yang paling khas adalah, prosesi membangunkan mempelai wanita yang melibatkan anggota keluarga terdekat mulai dari ibu, bibi, hingga nenek.
Setelah terbangun, mempelai wanita akan diarahkan untuk menjalani ritual mandi air kembang. Prosesi yang dilakukan oleh kerabat perempuan ini menjadi simbol penyucian sekaligus persiapan fisik dan spiritual sebelum melangkah ke acara puncak.
Rangkaian persiapan ini kemudian ditutup dengan kurintigi, sebuah prosesi malam hari di mana kedua mempelai bersiap dalam balutan busana adat, menandai kesiapan mereka menempuh hidup baru.
Baca juga: Warga Pulau Parumaan Sikka Andalkan Perahu untuk Berbelanja Kebutuhan Lebaran di Kota
Usai berhasil dibangunkan, maka mempelai perempuan melakukan ritual Mandi Kembang. Ritual mandi kembangg dilakukan secara terpisah di kediaman masing-masing mempelai.
Dalam tradisi Bajo di Namandoi, air mandi tidak sekadar air biasa, melainkan ramuan sakral yang dicampur dengan aneka kelopak bunga harum da pucuk kelapa muda yang melambangkan kesucian dan harapan akan kehidupan yang baru.
Sebagai penyempurna ritual, tubuh kedua mempelai diolesi dengan molang ramuan tradisional berbahan dasar beras, kunyit, dan kencur. Setiap elemen dalam ramuan molang memiliki makna filosofis yang mendalam.
Haji Najamudin, guru sesepuh adat, menjelaskan bahwa ritual ini adalah fondasi moral bagi pengantin sebelum menyatukan hidup.
"Kami membasuh mereka dengan ramuan khusus agar lahir dan batinnya bersih. Ini adalah doa kami agar rumah tangga mereka nantinya tidak hanya sekadar bertahan, tapi juga menjadi penyejuk bagi keluarga dan masyarakat di Namandoi," ungkap Haji Najamudin.
Begitu ritual mandi usai, suasana kian khidmat dengan hadirnya Tari Manca. Tarian silat bela diri tradisional ini bukan sekadar hiburan, melainkan benteng pelindung dan simbol kehormatan bagi pasangan pengantin.
Haji Najamudin, sesepuh sekaligus tokoh sentral yang melestarikan tradisi Manca di wilayah tersebut, menjelaskan bahwa Manca adalah warisan tak ternilai. Menurutnya, Manca berfungsi sebagai bentuk penjagaan terhadap martabat calon pengantin.
“Manca itu pengertiannya untuk menjaga anak muda atau gadis sehingga mereka merasa nyaman dan terlindungi. Dalam prosesi pernikahan, Manca hadir sebagai pengawal agar pesta berjalan khidmat dan harmonis,” ungkap Haji Najamudin saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Tari Manca bukan sekadar atraksi fisik. Terdapat aturan ketat dalam setiap gerakannya yang dibagi menjadi empat jurus utama.
"Kami tidak mengajarkan sembarang gerakan. Ada empat jurus pembukaan yang harus dipatuhi. Gerakan ini melatih kelenturan tubuh sekaligus kesabaran batin," tambahnya.
Penggunaan pedang dalam tarian ini pun memiliki makna mendalam. Haji Najamudin menekankan bahwa pedang bukan alat untuk kekerasan, melainkan simbol proteksi bagi kedua mempelai dalam menjalin tali silaturahmi.
Manca mengajarkan pasangan pengantin untuk menahan emosi dan menyelesaikan persoalan rumah tangga dengan bijaksana, layaknya dua pesilat yang beradu ketangkasan namun berakhir dengan jabat tangan sebagai tanda perdamaian.
Salman Al Farisi, seorang pamanca (penari) muda, menuturkan bahwa tarian bela diri yang dilakukan tepat setelah rangkaian mandi ini merupakan simbol perlindungan yang personal.
"Bagi kami, manca bukan sekadar bela diri. Ini adalah pengingat bahwa dalam berumah tangga, nanti akan ada masalah yang jauh lebih tajam daripada pedang ini. Namun, sebagaimana dua pemanca yang beradu kemudian saling berjabat tangan, masalah harus dihadapi bersama hingga menemukan solusi," ujar pemuda pegiat budaya Bajo di Nangahale ini.
Ketertarikan anak muda Bajo terhadap mancah biasanya tumbuh dari memori masa kecil. Mereka tumbuh besar menyaksikan para orang tua menari dengan langkah-langkah yang lincah dan penuh wibawa.
Keinginan untuk meneruskan warisan ini kemudian membawa mereka berguru kepada para sesepuh, seperti Haji Najamuddin yang mengajarkan teknik manca di Nangahale.
Meski terikat pada pakem yang diajarkan guru, para pemuda Bajo tidak kaku dalam berkarya. Mereka diberikan kebebasan untuk menciptakan variasi gerakan atau yang mereka sebut sebagai "bunga mancah".
Seringkali, mereka memperkaya teknik dengan mengamati video mancah dari komunitas Suku Bajo di daerah lain melalui internet, lalu mengembangkannya secara mandiri.
Namun, semangat ini dihadapkan pada satu tantangan besar karena ketiadaan wadah formal. Ia bermimpi, dengan adanya sanggar, anak-anak sejak usia dini dapat mengenal budaya mereka lebih dalam.
"Harapan besar kami adalah adanya sanggar seni khusus. Hingga saat ini, kami belum memiliki tempat untuk mengumpulkan anak-anak muda guna belajar mancah secara sistematis," ungkap sang Faris.
Puncak sakral rangkaian adat terjadi pada Sabtu malam saat ritual Kurintigi dilaksanakan di kediaman mempelai perempuan. Di bawah temaram lampu, kedua mempelai duduk bersanding dengan penuh kehormatan. Ritual ini adalah prosesi penyucian akhir sekaligus pemberian restu dari para tokoh adat dan orang tua.
Para sesepuh adat secara bergantian membubuhkan inai (daun pacar yang dihaluskan) ke telapak tangan kedua mempelai. Setiap olesan inai bukan sekadar pewarna, melainkan simbol "pemberian tanda" atau doa agar bahtera rumah tangga yang akan dibangun senantiasa bersih, berkah, dan jauh dari marabahaya.
Keanggunan budaya Bajo tampil menonjol pada malam itu melalui busana yang dikenakan. Mempelai perempuan tampak memukau dengan pakaian adat Samara, baju kurung longgar yang dipadukan dengan Roktaha (kain sarung tenun) serta mahkota emas Sigada.
Sementara sang pria tampil gagah dengan busana Sarija yang terdiri dari Kamas (baju lengan panjang), Saluar (celana panjang), serta kain Bidah di pinggang, dilengkapi ikat kepala Sigar.
Bagi masyarakat maritim Bajo, kepala adalah bagian tubuh paling suci. Penggunaan Sigada bagi wanita dan Sigar bagi pria pada malam Kurintigi bersifat mutlak. Itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kehormatan yang mereka jaga agar pengantin selalu mengingat akar martabatnya.
Ritual Kurintigi menjadi penutup yang menegaskan filosofi sipakatau (saling memanusiakan), sipakalabbiri (saling memuliakan), dan sipakaingat (saling mengingatkan).
Pernikahan Andar dan Fitriani di Dusun Namandoi, membuktikan bahwa meskipun mereka terus bergerak menyesuaikan zaman, masyarakat Bajo tak pernah kehilangan kompas untuk kembali ke jati diri leluhur mereka.