TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BONDOWOSO – Sejumlah ibu rumah tangga (IRT) dan pelaku usaha makanan di Kabupaten Bondowoso mengeluhkan lonjakan harga bahan pangan pokok yang terjadi belakangan ini. Kenaikan harga tersebut merata mulai dari komoditas beras, minyak goreng, hingga sayur-mayur.
Menurut warga, fluktuasi harga pangan ini mulai terasa sejak mencuatnya konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, dan terus berlangsung hingga sekarang.
Bu Ningsih, warga Desa Kembang, Kecamatan Bondowoso, mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras paling terasa dalam sepekan terakhir. Untuk beras kualitas premium, terjadi kenaikan sekitar Rp1.000 per kilogram.
"Sekarang harga beras premium sudah mencapai Rp16.000 per kilogram. Sementara untuk beras kualitas medium atau biasa, yang sebelumnya Rp12.000 kini naik menjadi Rp13.000 per kilogram," ujar Ningsih saat dikonfirmasi pada Senin (8/6/2026).
Baca juga: Harga Beras Hingga Bumbu Dapur Naik, Pedagang Pasar Induk Bondowoso Akui Terjadi Penurunan Daya Beli
Keluhan senada disampaikan oleh Ning, warga desa yang sama. Selain beras, harga minyak goreng non-subsidi untuk beberapa merek juga merangkak naik. Sementara untuk minyak goreng curah, kalangan ibu rumah tangga harus menebusnya dengan harga Rp6.500 per seperempat kilogram.
"Semua harga naik. Minyak goreng merek kemasan yang biasanya Rp40.000, sekarang kalau tidak salah sudah Rp43.000," kata perempuan yang juga memiliki toko kelontong (peracangan) ini.
Ning menambahkan, harga tepung kanji yang biasa ia jual seharga Rp6.000 per setengah kilogram, kini terpaksa dinaikkan menjadi Rp8.000.
Menurutnya, kondisi ini sangat mencekik warga menengah ke bawah. Di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok, masyarakat justru kesulitan mencari penghasilan.
Ibu dua anak ini bahkan harus mengelus dada lantaran lahan padi miliknya seluas 300 meter persegi mengalami gagal panen akibat serangan hama wereng dan burung.
Ia mengaku tidak tahu pasti penyebab utama rentetan kenaikan harga ini. Namun, ia merasakan gejalanya sejak konflik Iran-Amerika mencuat, yang awalnya ditandai dengan kenaikan harga bahan plastik.
"Sekarang harga plastik untuk es batu yang biasanya Rp35.000 per bendel, naik drastis menjadi Rp50.000," imbuhnya.
Sementara itu, Ibu Sidi, warga desa yang sama, mengaku paling terkejut dengan lonjakan harga sayur-mayur. Dalam dua minggu terakhir, harga sayur rata-rata naik Rp1.000 per ikat.
"Harga sayur mahal sekarang. Bayam seikat saja sudah Rp2.500, lalu jagung sekarang Rp7.000. Untuk tahu dan tempe harganya memang tetap, tapi ukurannya mengecil," terangnya.
Naira, warga Kelurahan Badean, Kecamatan Bondowoso yang juga membuka usaha warung nasi pecel, menyebut kenaikan harga beras berkisar antara 5 hingga 10 persen.
Kondisi ini membuat para pelaku usaha kuliner di sekitarnya terpaksa ikut menaikkan harga jual demi menutup modal.
Dagangan pecelnya tak berani dinaikkan lagi. Karena baru saja dinaikkan beberapa pekan lalu.
"Karena beberapa waktu kemarin sudah naik saat bahan pokok naik sebelumnya. Kasihan konsumen kalau naik lagi," jelasnya.
Jeritan ekonomi ini tidak hanya datang dari Kecamatan Kota. Alifah (39), seorang ibu rumah tangga asal Desa Sumbersalam, Kecamatan Tenggarang, juga merasakan hal serupa.
Baca juga: Harga Mie Instan dan Minyak Goreng di Kabupaten Lumajang Merangkak Naik
Ia yang terbiasa membeli beras secara eceran di toko kelontong menyebut harga beras kualitas sedang kini sudah menyentuh angka Rp16.000 per kilogram.
"Beras yang biasanya saya beli seharga Rp14.000-an—ini jenisnya standar, tidak terlalu bagus tapi juga tidak jelek—sekarang harganya sudah tembus Rp16.000 per kilo," ungkap Alifah.
Menyiasati situasi pelik ini, Alifah mengaku tidak memiliki pilihan lain selain memangkas pengeluaran rumah tangga.
"Ya, terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang saja di tengah kondisi seperti sekarang," pungkasnya.
(Sinca Ari Pangistu/TribunMataraman.com)