TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Akhirnya tabir misteri di balik kematian lansia di Boyolali, Jawa Tengah akibat sate ayam beracun terbongkar.
Sosok yang menjadi dalam pembunuhan korban tak lain adalah menantunya sendiri berinisial PW (40).
Polisi mengungkap cara PW menyamarkan identitas saat mengirim sate beracun kepada mertuanya di Boyolali, Jawa Tengah.
Selain diduga mencampurkan racun tikus ke dalam sate ayam, tersangka juga menggunakan nama dan foto anak korban saat memesan layanan ojek online untuk mengirim makanan tersebut.
Polisi menduga langkah itu dilakukan untuk menutupi keterlibatannya sekaligus mengarahkan kecurigaan kepada pihak lain apabila sesuatu terjadi pada korban.
Kini, PW telah ditetapkan sebagai tersangka dan terancam pidana mati, penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun.
Kasat Reskrim Polres Boyolali AKP Indrawan Wira Saputra mengatakan, tersangka mengirim sate beracun kepada korban melalui layanan pengiriman ojek online.
"Tersangka PW mengirimkan sate tersebut kepada korban melalui aplikasi Go Sent," terang Indrawan dalam konferensi pers di Mapolres Boyolali, dikutip dari Tribun Solo, Senin (8/6/2026).
Untuk menyamarkan identitasnya, tersangka tidak menggunakan akun atas namanya sendiri.
Polisi mengungkap PW membuat akun dengan nama "Lurianti Putri", yang merupakan anak kedua korban.
Bahkan, foto yang digunakan dalam akun tersebut juga merupakan foto milik Lurianti Putri.
Langkah itu diduga dilakukan untuk menghindari kecurigaan sekaligus menutupi keterlibatannya dalam pengiriman sate beracun.
Baca juga: Misteri Nenek Meninggal Usai Santap Sate Ayam Beracun, Pengakuan Sang Menantu Mengejutkan
Kapolres Boyolali AKBP Indra Maulana Saputra mengatakan, hasil pemeriksaan menunjukkan tersangka memiliki motif sakit hati terhadap korban yang merupakan mertuanya sendiri.
"Motif dari tersangka adalah dikarenakan tersangka ini ironisnya menantu dari almarhum tersebut. Dari hasil pemeriksaan motifnya atau salah satu alasan karena sakit hati," kata Indra.
Menurut polisi, tersangka merasa sering tidak dianggap karena tidak memiliki pekerjaan.
Perasaan tersebut kemudian berkembang menjadi dendam yang mendorong tersangka merencanakan aksi pembunuhan.
"Kemudian juga merasa sering dipojokkan ataupun tidak dianggap oleh almarhum tersebut. Sehingga timbul sakit hati dari tersangka tersebut yang akhirnya memunculkan niat tersangka merencanakan dugaan pembunuhan," ungkap dia.
Sumber: Kompas.com