TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di tengah hamparan pedesaan yang tenang di Kabupaten Klaten, berdiri sebuah peninggalan bersejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban masa lampau, yakni Candi Merak.
Bangunan kuno ini menjadi saksi bisu kejayaan agama Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno yang pernah berkembang di wilayah Jawa Tengah berabad-abad silam.
Terletak di Dusun Candi Merak, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, candi ini masih memancarkan pesona sejarah yang mampu menarik perhatian wisatawan maupun pecinta budaya.
Nama Candi Merak sendiri memiliki kisah unik yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Konon, kawasan di sekitar candi dahulu menjadi habitat burung merak sehingga nama tersebut kemudian melekat hingga sekarang.
Dari Pusat Kota Solo, lokasi candi dapat ditempuh sejauh sekitar 44 kilometer atau sekitar satu jam lebih perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.
Meski berada jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, keberadaan candi ini justru menawarkan suasana yang tenang sekaligus sarat nilai sejarah.
Para peneliti memperkirakan Candi Merak dibangun pada rentang tahun 830 hingga 900 Masehi, menjadikannya salah satu peninggalan penting dari era klasik Nusantara.
Namun perjalanan panjang candi ini tidak selalu berjalan mulus, karena selama berabad-abad bangunan tersebut sempat tertimbun dan nyaris hilang dari perhatian masyarakat.
Baca juga: 5 Tempat Makan Dekat Alun-alun Klaten, Dikenal Favorit, Ada Mie Ayam Bu Yuni dan JADEN Casual Dining
Pada tahun 1925, situs ini ditemukan dalam kondisi memprihatinkan berupa lahan kosong yang dipenuhi batu-batu berserakan, sejumlah arca yang terkubur, serta sebuah Pohon Joho besar yang berdiri di area tersebut.
Upaya penyelamatan kemudian dilakukan secara bertahap, dimulai dari pemugaran oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936 yang berhasil menyusun kembali bagian kaki candi.
Setelah melalui proses panjang yang dilanjutkan pemerintah Indonesia sejak 1985 hingga akhirnya rampung pada 2012, Candi Merak kembali berdiri megah dan kini menjadi salah satu destinasi sejarah yang memperlihatkan kemegahan warisan Hindu kuno di Klaten.
Candi Merak terdiri dari satu candi induk berbentuk bujur sangkar berukuran 8,38 x 8,38 meter dan tiga candi perwara, meski hanya tersisa kaki dan sebagian tubuhnya.
Arah candi induk menghadap timur, sedangkan candi perwara menghadap barat.
Tangga candi dihiasi makara, kepala ular mitologi dengan mulut terbuka yang berisi arca burung, serta hiasan kepala kala tanpa taring di pintu masuk.
Relief di tangga dan tubuh candi menampilkan berbagai motif: pohon kaltaparu, bunga teratai, makhluk khayangan, dan tokoh mitologi seperti yaksa.
Bilik candi induk tampak kosong, hanya terdapat yoni berukuran besar dengan hiasan kura-kura, naga, dan nandi.
Selasar mengelilingi tubuh candi dengan lebar sekitar 0,60 meter, dihiasi antefiks dan relief bunga teratai, sementara dinding luar penampil menampilkan relief dewa-dewa seperti Durga dan Ganesa.
Atap candi berbentuk piramida bertingkat tiga dengan hiasan geometris, ratna, antefiks, serta pahatan arca tokoh setengah badan.
Baca juga: 5 Toko Jersey di Solo Jawa Tengah, Lengkap dan Harga Terjangkau, Ada Solo Soccer dan Wahyu Sport
Candi Merak memiliki sejumlah keunikan yang membedakannya dari candi lain:
Wisatawan dapat mengunjungi Candi Merak pada hari Senin hingga Jumat pukul 09.00–16.00 WIB.
Tiket masuk gratis, namun pengunjung wajib menaati peraturan di kawasan candi untuk menjaga kelestariannya.
Candi Merak menjadi alternatif destinasi sejarah selain Candi Prambanan, menawarkan nilai budaya, estetika, dan edukasi mengenai perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunSolo)