Mahasiswa Unika Ruteng Soroti Media Sosial: Antara Kemajuan dan Ancaman Karakter
Nofri Fuka June 08, 2026 08:47 PM

Oleh: Mahasiswi Unika Santu Paulus Ruteng, Sitilia Nurhayati

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Media sosial merupakan salah satu hasil perkembangan zaman yang tumbuh pesat dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern, terutama generasi muda. Kehadirannya membawa berbagai manfaat, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga akses informasi yang cepat. Namun di sisi lain, media sosial juga menyimpan tantangan serius terhadap pembentukan karakter penggunanya.

Fenomena yang muncul menunjukkan bahwa tidak sedikit generasi muda yang terpengaruh oleh konten dan tren di media sosial hingga melakukan tindakan demi mendapatkan perhatian atau pujian. 

Hal ini berdampak pada menurunnya nilai-nilai karakter seperti sopan santun, empati, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu gejala yang sering terlihat adalah penggunaan bahasa yang kurang sopan, rendahnya kepedulian terhadap orang lain, serta berkurangnya rasa tanggung jawab. 

 

Baca juga: Unika Santu Paulus Ruteng Rayakan Dies Natalis ke-67, Tekankan Kolaborasi dan Transformasi Karakter

 

 

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa media sosial dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi degradasi karakter generasi muda jika tidak digunakan secara bijak.

Pandangan ini sejalan dengan pentingnya pembiasaan nilai-nilai positif sejak dini agar generasi muda mampu bersikap bijak dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Pendidikan Adalah Fondasi Penting

Penulis sependapat bahwa karakter yang baik tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan, pembiasaan, dan lingkungan. 

Oleh karena itu, di tengah derasnya arus media sosial, pendidikan nilai tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas karakter generasi muda.

Salah satu penyebab menurunnya karakter di era digital adalah kurangnya pengendalian diri dalam penggunaan media sosial serta lemahnya pemahaman terhadap nilai moral. 

Banyak remaja mudah terpengaruh oleh tren tanpa mempertimbangkan dampaknya. Selain itu, minimnya pengawasan dari keluarga dan lingkungan juga turut memperburuk keadaan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua berperan dalam memberikan pendampingan penggunaan media sosial, sekolah memperkuat pendidikan karakter melalui kegiatan positif, sementara generasi muda perlu meningkatkan kesadaran dalam menyaring informasi serta menggunakan media sosial secara bijak.

Dengan demikian, media sosial pada dasarnya dapat menjadi sarana kemajuan sekaligus tantangan bagi pembentukan karakter. Kuncinya terletak pada bagaimana pengguna memanfaatkannya. 

Jika digunakan dengan nilai moral yang kuat, media sosial dapat menjadi alat pengembangan diri yang positif. Namun jika tidak dikendalikan, ia berpotensi menjadi faktor yang melemahkan karakter generasi muda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.