TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Memasuki hari ke-17, fenomena langka berupa teror api acak yang melanda rumah Agusyani, di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman belum juga mereda. Hingga kini, rentetan kebakaran berulang, - baik letupan kecil maupun besar, - telah mencapai 113 kali kejadian. Bahkan kemunculan titik api ini sudah merembet hingga ke rumah tetangga.
Di tengah ancaman bahaya yang terus mengintai, keluarga korban terdampak kini berada dalam kondisi cukup memprihatinkan, baik secara psikologis maupun finansial. Mereka berharap ada uluran tangan serta pendampingan nyata dari pemerintah.
Salah satu penghuni rumah, Mutfiana mengungkapkan harapan keluarganya yang kini harus bertahan hidup di tengah situasi yang serba terbatas. Ia berkeyakinan, kebakaran berulang ini murni merupakan fenomena alam, bukan kasus kebakaran biasa, sehingga penanganannya di luar kendali kemampuan keluarga.
"Harapan kami pemerintah membantu, mendampingi, kan kita juga ini fenomena alam bukan kami yang pengen, tapi ini terjadi dengan adanya alam itu sendiri. Jadi karena alam, kami minta tolong untuk bantuannya, dan untuk didampingi," kata Mutfiana, Senin (8/6/2026).
Harapan akan hadirnya uluran tangan nyata dari pemerintah ini bukan tanpa alasan. Sebab rentetan kebakaran yang muncul selalu tak menentu, kapan dan di mana.
Imbas kondisi ini, melumpuhkan usaha pemotongan ayam yang merupakan tumpuan roda ekonomi keluarga. Aktivitas usaha mereka terhenti, membuat pendapatan keluarga merosot hingga hanya tersisa 15 persen dari kondisi normal.
Belum lagi dampak psikis, banyak barang perabotan yang tiba-tiba terbakar. Penghuni rumah dibantu relawan dan warga juga harus terus siap siaga, berjaga sepanjang 24 jam.
Hari hari yang sangat melelahkan. Air, handuk basah dan alat pemadam ringan (APAR) menjadi senjata utama untuk memadamkan setiap letupan api yang muncul. Kini, Mutfiana dan keluarga didera kelelahan tak berujung. Entah sampai kapan.
Kondisi lantai dasar rumah pun kini hampir terbengkalai. Barang-barang telah keluarkan. Hal ini untuk meminimalisir api muncul. Keluarga telah mengosongkan hampir seluruh isi perabotan rumah.
"Sedikit demi sedikit barang di dalam rumah sudah mulai dikosongkan. Paling hanya tinggal 15 persen (yang ada di dalam). Sisanya terpaksa kami letakkan di luar, karena kami sendiri belum memiliki tempat penampungan sementara," ujarnya.
Titik api yang tiba-tiba muncul bukan hanya terjadi di rumah Agusyani. Api telah membakar barang di rumah tetangga yang berada di sebelah utara, tepatnya rumah yang ditinggali Laila Putri Rahma Dewi.
Properti yang terbakar milik tetangga Agusyani tersebut adalah kain kerudung yang sedang dijemur, tumpukan kayu dan selembar handuk yang hangus dilalap api pada Jumat dini hari.
Pola kejadiannya pun persis, tercium bau menyengat terlebih dahulu sebelum api tiba-tiba menyala.
Saat ini, meski intensitas kemunculan api sempat menurun dalam beberapa hari terakhir, namun ancaman itu nyatanya belum benar-benar hilang.
Kasus kebakaran terakhir terjadi pada minggu (7/6) malam, sekitar pukul 22.55 WIB. Api menghanguskan almari di ruang tengah.
Di tengah harapan besar pada bantuan logistik dan tempat bernaung yang layak, keluarga juga menggantungkan asa pada kepastian hasil investigasi ilmiah agar masalah ini segera menemui titik terang.
Saat ini, tim ahli dari UPN, UGM, BPPTKG, BPBD hingga Gegana Satbrimob Polda DIY telah melakukan penelitian dan observasi di lokasi.
Terbaru, tim peneliti UGM telah menurunkan alat georadar untuk memindai lapisan bawah tanah, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga dijadwalkan akan menurunkan alat deteksi dari Jakarta.
"Semoga ini bisa segera selesai dan segera ketemu apa yang menjadi titik masalah utamanya," harap Mutfiana.
Keluarga korban kini hanya bisa bersiap dan berdoa, menanti hasil penelitian para ahli dan langkah konkret dari jajaran pemerintah daerah.
Mereka berharap ada kepastian jawaban ilmiah dari lingkaran teror api yang terus muncul belum berkesudahan ini. Entah sampai kapan.(*)