Dodi Tak Henti Bertakbir Lihat Puting Beliung Menyapu SMPN 1 Bandar Laksamana Bengkalis
M Iqbal June 08, 2026 10:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, BENGKALIS - Dodi (50) pekerja proyek pembangunan menjadi saksi ganasnya angin puting beliung yang menerpa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Bandar Laksamana di Desa Api Api, Minggu (7/6) pagi kemarin.

Tubuhnya gemetar melihat material sekolah beterbangan digulung angin puting beliung. Dalam rasa ketakutan, ia pun tak berhenti bertakbir dan beristigfar.

Hampir seluruh bangunan sekolah kehilangan atap akibat terpaan angin. Kalau pun ada, hanya beberapa ruangan saja. Itu pun kondisinya sudah rusak.

Dodi menceritakan, ia berada di tempat itu bersama dua rekan karena mendapat perintah dari pimpinannya untuk menyelesaikan proyek pembangunan di SMPN 1 Bandar Laksamana.

Rencana pada hari Minggu pagi itu, ia akan menyelesaikan rangka kuda-kuda atap mushola.

Memang saat itu sempat hujan gerimis biasa. Namun tidak ada tanda-tanda akan terjadi angin kencang.

"Sekitar pukul 08.45 WIB hujan gerimis berhenti. Kami langsung melanjutkan pekerjaan," ceritan Dodi.

Selang beberapa detik kemudian angin berubah menjadi ganas berputar di atas udara diiringi hujan yang mendadak menjadi lebat. Putaran angin tersebut muncul dari arah laut yang berjarak sekitar dua ratusan meter dari sekolah.

"Karena lebat dan angin kencang kami mencoba berteduh di ruang kelas yang berada tepat di samping bangunan musola yang kami kerjakan. Angin berputar menggulung ke atas mengangkat atap seng bangunan tempat kami berteduh," ungkap Dodi.

Namun Dodi dan dua rekannya pindah berteduh di gedung laboratorium sekolah yang berada tepat di samping gedung yang ditempatinya sebelumnya.

Saat berlari ke arah laboratorium, ia melihat atap seng sudah berterbangan. Bahkan ada yang terbang ke arah dirinya. 

"Semua terbang, ada kayu, plafon seng dan apapun terbang ke arah kami. Seperti peluru yang ditembakkan ke kami," tambah Dodi.

Beruntung di laboratorium ada tembok besar yang melindungi ia dan rekan-rekannya dari lemparan benda yang terbawa angin.

Disaat sedang berlindung, tak lama tower Internet di laboratorium sekolah tumbang. Giliran atap perpustakaan yang terbang dan jatuh di gedung laboratorium tempat dirinya berlindung.

"Karena kejadian tersebut kami jadi makin takut dan memilih pindah ke gedung ruang belajar yang ada di seberang laboratorium, karena di sana masih aman," jelasnya.

Saat di gedung ini kami lihat semuanya sudah habis, atap atap bangunan sekeliling sudah terbang dan jatuh. Tinggal tempat dirinya berteduh ini saja yang masih ada atapnya, namun juga sudah mulai bergoyang seakan ingin lepas dari rangkanya.

"Dalam kondisi seperti itu kami betul betul takut, jangankan untuk mengabadikan video kondisi angin puting beliung itu, berdiri saja sudah kondisi gemetar. Tidak terpikir lagi untuk buat video," ceritanya.

Selama angin puting beliung tersebut, Dodi hanya bisa pasrah di ruangan kelas yang di tempatinya berteduh. Bahkan dirinya lebih banyak mengucap istigfar dan takbir karena merasa takut.

"Angin mutar seperti badai, putarannya cukup besar, baru kali ini kami lihatnya. Namun saat kami mulai pindah ke ruang kelas dari laboratorium itu sudah mulai berhenti angin puting beliung, tetapi hembusan angin masih kencang sekali," ungkap Dodi.

Kondisi mencekam tersebut terjadi sekitaran sepuluh menitan. Dodi tak tahu pasti lama angin puting beliung ini menerpa sekolah, yang dirasakannya cukup lama juga.

Meskipun setelah kejadian hujan reda dan angin juga mereda. Dodi dan dua rekannya tidak berani untuk keluar ruang kelas tersebut, pihaknya memilih tetap berada di dalam saat itu setelah kejadian.

"Kami mau keluar takut, jadi selama dalam ruang kelas itu kami hanya ngintip aja lewat jendela melihat kondisi di luar. Begitu masyarakat di sini sudah keluar baru kami berani keluar dari ruang kelas," jelasnya.

Saat kami keluar kondisi sekolah sudah porak poranda. Atap semua bangunan hilang, bahkan pohon tepat di depan sekolah tumbang menutup jalan, namun masyarakat bergerak cepat membersihkan dan memotong, sehingga aktifitas jalan bisa dengan cepat teratasi.

"Setelah kejadian itu kami merasa trauma dan takut kalau terjadi kondisi yang sama lagi. Bahkan pagi tadi dari pihak Puskesmas datang lakukan pemeriksaan terhadap kami, dilihat secara fisik tidak ada mengalami luka," ungkapnya.

Meskipun tidak luka secara fisik, Dodi menyampaikan kepada petugas kesehatan secara mental yang kena, trauma pastilah. "Namanya kejadian di depan mata tentu akan selalu diingat, trauma pasti adalah, teringat kejadian ini lagi," ungkapnya.

Rasa trauma dan takut kejadian juga dirasakan oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Bandar Laksamana Yora Fitriani. Pasalnya saat kejadian pihaknya berada di rumah dinas Kepala Sekolah yang berada satu kawasan dengan SMPN 1 Bandar Laksamana.

"Ini rumah kami di belakang sana, masih lingkungan sekolah, sebelum angin puting beliung datang, saya sendiri di rumah dinas saat itu sedang mencuci piring," ceritanya.

Menurut dia, saat kejadian diawali dengan hujan gerimis, kemudian muncul bunyi seperti gemuruh dan hujan semakin lebat. Saat angin puting beliung muncul, Yora tentunya merasa takut, pihaknya memilih tetap berada di dalam rumah.

"Kami dalam rumah saja, tak berani lihat keluar saat angin kencang muncul, kondisi jendela berbunyi. Posisi saya ketakutan, memilih duduk dekat tembok menunggu kondisi aman," ungkap Yora.

Menurut dia, setelah hujan mereda pihaknya baru keluar rumah. Karena kondisi rumah dinas masih lingkungan sekolah begitu keluar langsung terlihat pemandangan kerusakan yang terjadi.

"Hampir seluruh ruangan rusak dibagian atap terbang. Cuman beberapa ruang kelas yang atap masih tersisa, tapi sebagian sudah rusak juga bangian atasnya," ungkap Yora.

Menurut dia, kerusakan terparah terjadi pada ruang perpustakaan. Selain atapnya terbang ke bawah, bagian temboknya pun mengalami kerusakan.

"Hampir semua ruang saat ini tidak dapat digunakan, jadi hari ini sementara waktu siswa diliburkan dulu yang seharusnya ujian," ungka Yora.

Sementara rumahnya sendiri mengalami kebocoran di bagian atap setelah kejadian. Barang elektronik miliknya juga banyak basah akibat bocor setelah terpaan angin.

Yora mengaku cukup trauma dengan kejadian yang dialaminya Minggu pagi itu. Selama bertugas menjadi guru di sini baru kali ini kejadian angin puting beliung di rasakan.

Ujian Sekolah Tertunda

SMPN 1 Bandar Laksamana rencananya Senin ini melaksanakan ujian semester akhir. Namun dengan kondisi sekolah yang porakporanda akibat angin puting beliung pelaksanaan ujian terpaksa ditunda.

Seluruh siswa diliburkan hingga hari Selasa besok. Rencananya pelaksanaan ujian akan di mulai Rabu mendatang.

"Kita sudah umumkan kepada siswa melalui wali kelas masing masing untuk hari ini dan Selasa libur sekolah," ungkap Kepala Sekolah SMPN 1 Bandar Laksamana Yora Fitriani.

Untuk penundaan ujian sudah dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan Bengkalis. Pelaksanaan ujian rencananya akan dilaksanakan disekolah SD terdekat dari SMPN 1 Bandar Laksamana

"Kami sudah koordinasi dengan Dinas Pendidikan Bengkalis, ujian ditunda hari Rabu mendatang, pelaksanaan nanti di sekolah SD terdekat. Kami juga sudah berkoordinasi bersama kepala sekolah SDN 1 Desa Api Api untuk menggunakan sekolah mereka untuk sementara pelaksanaan ujiannya.

Selama libur sekolah, guru berserta, staf sekolah melaksanakan gotong royong  Membersihkan sisa bangunan dan menyelamatkan sejumlah dokumen yang masih bisa di selamatkan.

"Besok juga akan dilakukan gotong royong masal, tidak hanya pihak sekolah saja. Tetapi dari semua unsur desa dan kecamatan akan terlibat gotong royong," jelasnya.

Terkait perbaikan kondisi sekolah, pihaknya menyerahkan langsung kepada Dinas Pendidikan Bengkalis. Kemarin perwakilan Dinas juga sudah hadir, serta sudah ada pembahasan untuk melakukan perbaikan secepat mungkin.(tribunpekanbaru.com/Muhammad Natsir) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.