TRIBUNBANYUMAS.COM, SANAA — Kelompok bersenjata Houthi yang didukung Iran resmi mengumumkan pemberlakuan larangan total terhadap seluruh aktivitas pelayaran maritim Israel di Laut Merah, Senin (8/6/2026).
Bersamaan dengan maklumat blokade jalur laut penting tersebut, kelompok penguasa Yaman ini juga meluncurkan rentetan serangan rudal yang menyasar sejumlah target sensitif di wilayah teritorial Israel.
Eskalasi militer dari Yaman ini pecah di tengah situasi perang antara Israel dan Iran yang kembali membara, serta ketegangan yang belum mereda di Selat Hormuz. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa seluruh pergerakan kapal yang dianggap berafiliasi dengan musuh kini berstatus sebagai target militer yang sah.
"Kami menyatakan larangan total terhadap pelayaran maritim Israel di Laut Merah. Kami menganggap semua pergerakan musuh sebagai sasaran militer yang sah bagi angkatan bersenjata kami sejak pernyataan ini dikeluarkan," demikian pernyataan resmi Houthi, seperti dikutip dari AFP.
Serangan Rudal Houthi Picu Sirene Bahaya di Israel Tengah
Aksi nekat kelompok Houthi ini menjadi bagian langsung dari eskalasi Iran-Israel yang kembali memuncak setelah sempat mereda pasca-gencatan senjata April lalu.
Melalui keterangannya, Houthi mengklaim operasi penembakan rudal ke "Jaffa yang diduduki" (Tel Aviv dan sekitarnya) telah mencapai tujuannya dengan tingkat presisi yang tinggi.
Baca juga: Saling Serang Pecah Lagi: Iran Hujani Israel Puluhan Rudal Sebelum Donald Trump Turun Tangan
Di sisi lain, militer Israel melalui saluran resmi Telegram mengonfirmasi adanya deteksi proyektil yang datang dari arah Yaman.
Yahya Saree memaparkan, peluncuran rudal ini merupakan implementasi nyata dari prinsip "Persatuan Front" sebagai respons atas rangkaian agresi militer Israel yang menyasar wilayah Iran, Lebanon, hingga Jalur Gaza.
"Eskalasi akan dibalas dengan eskalasi, dan operasi kami akan terus meningkat sesuai dengan perkembangan situasi yang terjadi di lapangan," tegas Saree seperti dikutip dari The Jerusalem Post.
Ancaman Terhadap Jalur Logistik Internasional
Langkah Houthi yang kembali mengganggu kelancaran lalu lintas kapal kargo di Laut Merah berpotensi besar memukul urat nadi perekonomian global.
Sebelumnya, ancaman serupa telah memaksa sejumlah perusahaan pelayaran internasional untuk memutar arah dengan mengambil rute panjang memutari ujung selatan Afrika, yang berimplikasi pada membengkaknya biaya logistik dunia.
Baca juga: Sidang TPPU Gus Yazid Memanas: Kubu Terdakwa Pertanyakan Keabsahan Kasus Korupsi Lahan Cilacap
Secara geopolitik, Houthi bersama faksi Hezbollah di Lebanon merupakan pilar utama dari "Poros Perlawanan", sebuah jaringan kekuatan militer regional yang disokong oleh Teheran untuk menentang dominasi Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Kelompok Houthi yang berbasis di wilayah utara Yaman ini diketahui telah mencengkeram sebagian besar wilayah Yaman selama lebih dari satu dekade, sejak menggulingkan pemerintahan sah di Sanaa pada September 2014.
Kendati sempat diredam melalui intervensi militer internasional yang dipimpin Arab Saudi pada Maret 2015, kelompok ini tetap solid dan kini aktif memanfaatkan momentum konflik Timur Tengah untuk memperluas jangkauan ofensif mereka di koridor perairan internasional. (inas/kps)