Munir Terobos Kobaran Api Gendong Ibu dan Istri yang Sakit saat Rumahnya di Bondowoso Terbakar Hebat
Samsul Arifin June 09, 2026 01:14 AM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sinca Ari Pangestu

TRIBUNJATIM.COM, BONDOWOSO – Dua rumah milik kakak beradik di Desa Pengarang, Kecamatan Jambesari Darus Sholah (DS), Kabupaten Bondowoso, terbakar hebat, Senin (8/6/2026) malam. 

Dalam peristiwa itu, seorang warga bernama Munir harus berjuang menyelamatkan ibu kandungnya yang berusia sekitar 100 tahun serta istrinya yang sedang sakit dari kepungan api.

Dua rumah milik Munir dan saudaranya, Halik, rata dengan tanah akibat kebakaran tersebut. Selain bangunan, berbagai harta benda dan tabungan keluarga ikut musnah. Kerugian akibat kejadian ini ditaksir mencapai Rp100 juta.

Saat kebakaran terjadi, Munir baru saja selesai menunaikan salat.

Ia mengaku terkejut ketika mendengar suara gemuruh dari arah dapur rumah saudaranya yang sedang dalam keadaan kosong. Ketika diperiksa, kobaran api ternyata sudah membesar dan dengan cepat menjalar ke bangunan di sekitarnya.

Tanpa berpikir panjang, Munir berteriak meminta bantuan warga sambil menggendong ibunya keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Setelah memastikan sang ibu berada di tempat aman, ia kembali menerobos rumah yang mulai dipenuhi asap demi menyelamatkan istrinya yang sedang sakit.

Perjuangan menyelamatkan anggota keluarganya menjadi satu-satunya hal yang bisa dilakukan Munir. Sebab, seluruh harta benda di dalam rumah, termasuk sepeda motor, televisi, perabotan rumah tangga, hingga uang tunai jutaan rupiah, tidak sempat diselamatkan dari amukan si jago merah.

Baca juga: Ramalan Cuaca Jawa Timur Selasa 9 Juni 2026: Surabaya Terpanas, Malang dan Bondowoso Sejuk

Kebakaran Diduga Akibat Korsleting Listrik

Menurut Kabid Damkar Satpol PP Bondowoso, Vara Tedy, laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 19.07 WIB. Namun, berdasarkan keterangan warga, api sudah terlihat berkobar beberapa menit sebelum laporan resmi masuk.

Proses pemadaman berlangsung lebih dari satu jam. Petugas mengerahkan tiga unit water supply dan satu armada Kasento untuk menjinakkan api yang membakar dua rumah tersebut.

"Kami mengerahkan 3 unit water supply dan satu armada Kasento. Jadi, lebih dari 20 ribu liter air yang dihabiskan untuk memadamkan api," ujar Tedy.

Ia menjelaskan, lokasi rumah yang berada di kawasan padat permukiman dan jauh dari akses jalan raya menjadi kendala dalam proses pemadaman. Petugas harus membentangkan selang hingga sepanjang 70 meter untuk menjangkau titik kebakaran.

Tedy menambahkan, dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting listrik. Dugaan tersebut diperkuat oleh keterangan sejumlah saksi yang melihat api pertama kali muncul dari area dapur saat salah satu pemilik rumah sedang bepergian.

Tabungan untuk Laptop Anak Ikut Hangus

Munir mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga miliknya. Satu unit sepeda motor, televisi, perabotan rumah tangga, hingga uang tunai sekitar Rp6,5 juta habis terbakar.

Uang tersebut merupakan hasil penjualan seekor pedet betina (anak sapi) yang sedianya digunakan untuk membeli laptop bagi anaknya yang sedang menempuh kuliah sambil menimba ilmu di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Cermee.

"Saat itu yang pertama kali terlihat hanya ibu. Langsung saya gendong sendirian keluar," ungkap Munir dengan nada bergetar.

"Ada juga uang saya dan istri hasil kerja buruh kuli yang dikumpulkan, saya tidak tahu persis berapa jumlahnya, semua ikut terbakar," pungkasnya.

Di tempat lain, api melalap lahan ilalang kering seluas sekitar 2.000 meter persegi di Dusun Arak-arak, Desa Sumbercanting, Kecamatan Wringin, Bondowoso, Jawa Timur, pada Senin (8/6/2026).

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini terjadi tepat di belakang objek wisata Pemandangan Arak-arak, dan bergerak cepat dipicu oleh angin kencang yang menjadi ciri khas awal musim kemarau di kawasan tersebut.

Sebelum bala bantuan tiba, tiga petugas objek wisata sudah lebih dahulu berjibaku memadamkan api dengan alat seadanya.

Upaya itu dilakukan semata-mata untuk mencegah api merambat ke fasilitas wisata yang berada tak jauh dari titik kebakaran. Perjuangan mandiri petugas itulah yang menahan laju api hingga tim resmi tiba di lokasi.

Tim gabungan yang terdiri atas petugas Pemadam Kebakaran (Damkar), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta unsur TNI-Polri segera bergerak ke lokasi begitu laporan diterima. Namun, medan yang curam membuat proses pemadaman sepenuhnya bergantung pada armada Damkar tidak ada jalan lain selain mengandalkan alat semprot berkapasitas besar untuk menjangkau titik-titik api.

Menurut petugas objek wisata Arak-arak, Ojieb, lahan yang terbakar merupakan milik Perhutani. Api pertama kali muncul dari area bawah, kemudian merembet ke atas seiring tiupan angin yang tak kunjung mereda. Kondisi rumput kering dan tumpukan daun mati menjadi bahan bakar sempurna yang mempercepat perambatan api.

"Kalau sudah musim kemarau, karhutla pasti terjadi," ujar Ojieb.

Ojieb menyebut karhutla di kawasan Arak-arak bukan kejadian yang asing. Hampir setiap musim kemarau tiba, api selalu mengancam lahan di sekitar objek wisata tersebut. Sebagai antisipasi rutin, petugas biasanya akan membersihkan ilalang dengan radius sekitar satu meter dari batas area wisata sebelum puncak kemarau datang.

Namun kali ini, kebakaran datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Upaya pencegahan itu belum sempat dilakukan ketika api sudah terlanjur menyambar.

Kasi K2 BPBD Bondowoso, Bagoes Herisyahputra, membenarkan bahwa insiden ini merupakan karhutla pertama yang dilaporkan pada musim kemarau tahun 2026. Laporan pertama diterima pihaknya sekitar pukul 10.48 WIB.

"Luas area yang terkena kebakaran kurang lebih 2.000 meter persegi," ujar Bagoes.

Terkait penyebab kebakaran, Bagoes menyatakan penyelidikan masih berlangsung. Sejumlah dugaan awal mengemuka, mulai dari puntung rokok yang dibuang sembarangan hingga aktivitas pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga tuntas.

Ia pun menyampaikan imbauan tegas kepada seluruh masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan dan lahan terbuka.

"Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari hal-hal yang dapat memicu kebakaran, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan di sekitar hutan. Jika membakar sampah, hendaknya ditunggu hingga benar-benar padam," tegasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.