TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah tantangan ekonomi, melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp 18.000 dan tekanan terhadap daya beli masyarakat, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan dinilai masih relatif stabil.
Akan tetapi, pola konsumsi masyarakat mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, dengan kecenderungan memilih produk berharga lebih terjangkau.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun APPBI, jumlah pengunjung pusat perbelanjaan masih berada dalam kondisi stabil meskipun terdapat fluktuasi naik turun.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah di Level Rp 18.187, Besok Diprediksi Masih Tertekan
"Jadi masyarakat masih tetap ke pusat belanja. Tingkat kunjungan kalau berdasarkan data kami itu tetap dalam kondisi stabil. Ada turun-naik sedikit, tetapi saya kira dalam kondisi stabil," tutur Alphonzus saat ditanya Wartawan di Kantor Kementerian Perdagangan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).
Di kondisi saat ini, yang berubah bukanlah minat masyarakat untuk datang ke pusat perbelanjaan, melainkan tren belanja yang bergeser dalam satu hingga dua tahun terakhir.
Menurut data APPBI, konsumen kini lebih mengutamakan kebutuhan barang yang diperlukan atau bisa dikatakan memilih barang dengan harga satuan yang lebih murah.
"Yang terjadi itu adalah tren belanjanya yang berubah. Di mana mereka cenderung membeli barang-barang produk yang harga satuannya (unit price-nya) murah, kecil begitu," jelasnya.
Alphonzus menyebut, hampir seluruh kategori produk masih dibeli oleh masyarakat. Namun, konsumen semakin mempertimbangkan harga dan cenderung memilih produk dengan nilai transaksi yang lebih rendah.
Ia juga menyoroti maraknya peredaran barang impor ilegal dan meningkatnya minat masyarakat terhadap pakaian bekas yang dinilai lebih terjangkau.
"Tapi perlu dicatat, semua kategori produk itu dibeli. Bukan hanya ada satu produk yang tidak dibeli, tapi hampir semua dibeli. Hanya saja dipilihnya yang harga satuannya, unit price-nya murah begitu," terang Alphonzus.
Lebih lanjut, APPBI menilai pusat perbelanjaan masih menjadi salah satu destinasi utama masyarakat untuk beraktivitas dan bersosialisasi.
Budaya berkumpul yang kuat di kalangan masyarakat Indonesia turut menopang tingkat kunjungan ke mal hingga sekarang.
"Tingkat kunjungan tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan. Jadi relatif tidak terlalu banyak penurunanlah untuk tingkat kunjungan. Apalagi orang Indonesia kan budayanya suka berkumpul. Jadi saya kira susah atau tidak susah tetap kumpul. Ya tempat kumpulnya di mana? Ya salah satunya pusat perbelanjaan," imbuhnya.