TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah seperti sekolah rakyat dan rencana pembangunan 3 juta rumah tentu memberikan angin segar buat industri keramik dalam negeri.
Perlu diketahui Industri keramik dalam negeri secara kualitas, mutu dan design sudah sangat bersaing dengan keramik import dari luar negeri, hal itu bisa dilihat dari produk-produk yang ditampilkan dalam pameran keramik Indonesia di NICE PIK 2 yang berlangsung dari tanggal 4-7 Juni 2026.
Wakil Ketua Umum Kadin Perindustrian Saleh Husin ikut menghadiri pameran keramik itu, dan melihat bagaimana Industri keramik dalam negeri secara kualitas, mutu dan design sudah sangat bagus.
Baca juga: Industri Keramik Mulai Pulih, Tapi Belum Lampaui Kinerja Kinclong di 2021
Menurutnya, industri keramik Indonesia bisa bersaing dengan keramik import dari luar negeri.
"Nah kemarin saya berkesempatan untuk melihat secara langsung pameran tersebut. Saya sempatkan untuk berbincang secara langsung dengan pemilik maupun direksi dari industri keramik dalam negeri dari berbagai merek terkemuka di Tanah Air, termasuk asosiasi yang menaunginya yaitu Asaki (Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia)," kata Saleh dikutip Selasa (9/6/2026).
"Ya saya kira industri ini sudah berkembang cukup bagus dan menciptakan lapangan kerja serta memberikan nilai tambah yang bagus buat bangsa kita. Jangan sampai industri ini mati dan tergerus oleh produk import serta harga energi yang sudah terlalu tinggi," sambungnya.
Ia menjelaskan saat ini industri kemarik dalam negeri menghadapi suatu masalah serius yaitu harga gas industri yang sudah tidak wajar lagi.
Padahal industri keramik merupakan salah satu industri penerima HGBT yaitu 7 USD per MMBTU tapi saat ini yang terjadi dilapangan industri ini hanya diberikan alokasi 40 persen dengan harga HGBT dan sisanya 60% harus beli dengan harga pasar 21 USD per MMBTU.
"Tentu ini sangat berat yang akan membuat daya saing industri keramik dalam negeri akan turun dan akhirnya terpaksa harus stop produksi yang kemudian ya terpaksa kita menjadi negara pengimport keramik, padahal kita punya sumber bahan baku. Nah hal ini jangan sampai terjadi," kata Saleh.
"Untuk itu keberpihakan pemerintah sangat dibutuhkan agar industri keramik dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negara nya sendiri," paparnya.