Dampak Rupiah Tembus Rp18.000: Harga Oli Naik, Pedagang Tempe Pusing, Pengusaha Besar Ogah Ekspansi
Seno Tri Sulistiyono June 09, 2026 04:34 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, telah menambah beban pengeluaran masyarakat hingga pengusaha menunda investasi maupun ekspansinya.

Perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah ditutup turun 151 poin ke level Rp18.187 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.036 per dolar AS. 

Bahkan selama perdagangan kemarin, rupiah sempat melemah hingga 200 poin.

Baca juga: Kunjungan Masyarakat ke Mal Masih Ramai Saat Rupiah Melemah, APPBI: Sekarang Belanjanya yang Murah

Atas pelemahan kurs rupiah, harga oli dan berbagai suku cadang kendaraan mengalami kenaikan secara bertahan sejak bulan lalu. 

Pemilik bengkel di Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Jawa Barat, Dadan Ridwan (47), mengatakan, harga onderdil mengalami kenaikan sekitar 10 persen, sedangkan harga oli naik hingga 75 persen imbas melemahnya nilai tukar rupiah.

"Harga oli sudah naik sebanyak empat kali. Sebelumnya yang paling murah hanya sekitar Rp40 ribu, kalau sekarang sudah mencapai Rp60 ribu," ujar Dadan saat ditemui di bengkelnya, dikutip dari TribunJabar, Selasa (9/6/2026).

Dadan berharap harga oli dan suku cadang kendaraan dapat kembali stabil agar tidak semakin membebani konsumen dan menekan omzet bengkel.

"Semoga harga bisa stabil lagi. Kasihan konsumen kalau naik terus. Bukan tidak mungkin omzet juga bisa menurun," ucap Dadan.

Keluhan serupa juga disampaikan karyawan bengkel lain di Ciwastra, Abdul Gani (36). Ia mengatakan, harga oli terus mengalami kenaikan secara bertahap sejak dua bulan terakhir.

"Harga oli naik antara Rp5 ribu sampai Rp15 ribu. Kenaikannya terjadi setiap dua minggu sekali. Kalau sebelumnya yang paling murah Rp57 ribu sekarang telah mencapai Rp80 ribu," katanya.

Selain oli, Abdul menyebut harga aki mobil naik sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu, sedangkan aki motor naik antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.

"Kalau onderdil belum naik banget, cuma ada beberapa itu juga tidak terlalu tinggi," ucap Abdul Gani.

Harga Kedelai Melonjak

Seorang pengusaha tempe di Kampung Mekarsari, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ghufron, mengeluhkan penjualan yang menurun akibat adanya kenaikan harga tempe.

Ghufron menyebut harga kedelai dalam tiga bulan terakhir mengalami kenaikan bertahap setiap minggu. Untuk saat ini, harga kedelai di kisaran Rp11.000 per kilogram.

"Harga kedelai naiknya itu per minggu di angka rata-rata Rp200-Rp300 per minggu. Dari beberapa bulan ini, yang tadinya dari Rp9.000-Rp9.500, sampai hari ini Rp11.000. itu kenaikan akumulatif," katanya.

Ghufron menambahkan, pasokan kedelai saat ini masih sepenuhnya bergantung pada barang impor, terutama dari Amerika Serikat. 

Tak sampai disitu, Ghufron juga menyebut sejumlah materi produksi lain ikut mengalami kenaikan signifikan, seperti plastik kemasan yang bahkan disebut naik hingga 80 persen.

"Kenaikannya ini bukan di bahan baku saja. sekarang garam naik. Apalagi plastik juga naik hingga 80 persen. Tentunya menjadi faktor kesulitan pengusaha tahu tempe untuk meningkatkan produksi," ucapnya.

Tunda Ekspansi

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani menyampaikan, bagi dunia usaha, tantangan utamanya bukan hanya pada level nilai tukarnya, tetapi pada dampak yang ditimbulkan terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, dan kepastian berusaha. 

"Dengan ketergantungan impor bahan baku yang masih berada di kisaran 70 persen, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi," tutur Shinta kepada Tribunnews.

Menurutnya, tekanan besar di antaranya dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta berbagai sektor yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya. 

Ia menyebut, kondisi ini semakin berat karena dunia usaha juga masih menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. 

"Dengan kata lain, saat ini pelaku usaha menghadapi tekanan berlapis atau externally driven cost pressure yang cukup signifikan," ucapnya.

Meski demikian, Shinta menyebut, dunia usaha masih berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi. 

"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar," papar Shinta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.