APPBI: Daya Beli Masyarakat Tertekan, Pertumbuhan Omzet Ritel di Mal Jadi Seret
Seno Tri Sulistiyono June 09, 2026 04:34 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat tingkat kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan masih relatif stabil meski kondisi ekonomi sedang menghadapi berbagai tantangan.

Akan tetapi, di balik stabilnya jumlah pengunjung, pola belanja masyarakat berubah dengan kecenderungan memilih produk yang lebih murah, sehingga berdampak pada pertumbuhan omzet sektor ritel.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, kondisi saat ini bukan menunjukkan penurunan omzet secara langsung, melainkan pertumbuhan yang tidak sebesar seharusnya, apabila mempertimbangkan ekspansi pusat perbelanjaan dan masuknya banyak merek baru ke Indonesia.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.885 per Dolar AS, Daya Beli Masyarakat Merosot

"Iya, penurunan dalam pengertian penurunan tidak ada kenaikan, mungkin saya lebih tepatnya menyebutnya begitu. Karena kalau penurunan itu banyak faktor. Yang membuat naik, kenapa pusat perbelanjaannya bertambah, kemudian banyak juga brand-brand asing masuk," tutur Alphonzus ditemui usai acara HIPPINDO 10th Anniversary dan opening ceremony BINA Holiday & Back to School 2026 di Kantor Kementerian Perdagangan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).

Secara teori, industri ritel seharusnya mampu mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pusat perbelanjaan terus bertambah, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya belum memiliki mal.

Selain itu, sejumlah merek asing, termasuk yang berasal dari China, juga terus berekspansi ke wilayah-wilayah di Indonesia.

"Jadi sebetulnya harusnya terjadi kenaikan yang cukup signifikan begitu. Tapi karena kondisinya seperti ini sehingga kenaikannya tidak signifikan," jelasnya.

Alphonzus menambahkan, para peritel juga terus membuka toko-toko baru di berbagai daerah di luar Jakarta untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Ekspansi tersebut semestinya menjadi pendorong pertumbuhan penjualan yang lebih kuat dari tahun-tahun sebelumnya.

Ia menilai tekanan terhadap daya beli masyarakat masih menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan sektor ritel.

Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil juga turut memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat yang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

"Teman-teman peritel juga banyak yang membuka toko-toko baru di luar daerah luar Jakarta. Jadi sebetulnya secara teori terjadi peningkatan yang signifikan. Tapi karena tekanan daya beli, karena berbagai macam tekanan akibat global segala macam, itulah yang membuat kenaikannya tidak signifikan," ungkap Ketum APPBI.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.