Kuda Hitam Piala Dunia 2026 yang Bisa Mengejutkan Dunia – dan Mengapa Norwegia Menjadi Pilihan Utama Kami
Budi Santoso June 09, 2026 06:53 AM

Jika menelusuri kembali sejarah panjang Piala Dunia, beberapa momen paling berkesan dalam turnamen ini sering kali muncul ketika tim yang tidak diunggulkan mampu mengguncang persaingan dan menembus babak akhir kompetisi.


Hampir di setiap dari 22 edisi Piala Dunia sejauh ini, selalu ada tim kejutan dari luar jajaran elit sepak bola dunia yang berhasil mencuri perhatian — seperti Maroko yang mencapai semifinal pada 2022, Turki yang finis di posisi ketiga pada 2002, atau Kamerun yang hampir menyingkirkan Inggris di perempat final tahun 1990.


Lalu, siapa saja tim-tim yang patut diwaspadai saat Piala Dunia 2026 mulai bergulir di Amerika Utara akhir pekan ini? FourFourTwo menyoroti beberapa kandidat potensial…


Norwegia akan tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998 dan mereka kini memiliki apa yang disebut sebagai Generasi Emas, yang menempatkan mereka di posisi teratas sebagai kuda hitam utama.


Tidak ada tim di dunia yang ingin menghadapi Erling Haaland dalam kondisi bugar dan tajam, sementara sang kapten Martin Odegaard yang baru saja membawa timnya meraih gelar juara Liga Premier Inggris akan didampingi oleh pemain seperti Oscar Bobb, Julian Ryerson, dan Alexander Sorloth. Skuad ini memiliki banyak pemain berpengalaman di lima liga top Eropa—dan mereka tahu bagaimana rasanya menang di level tertinggi.


Haaland mencetak 16 gol di babak kualifikasi, bahkan belum separuh dari total 37 gol timnya—jumlah tertinggi di Eropa. Seluruh pemain harus tampil maksimal jika Norwegia ingin menyingkirkan Prancis, Senegal, dan Irak di salah satu grup paling sulit dalam turnamen ini.


Banyak yang menyoroti tantangan iklim yang akan dihadapi tim-tim di Amerika Utara, dan jika ada tim yang paling siap memanfaatkan potensi kesulitan tim-tim Eropa di cuaca panas, itu adalah Ekuador.


Namun bukan hanya faktor fisik dan adaptasi yang menjadi kekuatan La Tricolor. Di bawah asuhan pelatih Sebastian Beccacece, Ekuador hanya kalah sekali dari 19 pertandingan terakhir dan finis di posisi kedua di belakang Argentina dalam kualifikasi Amerika Selatan.


Dengan pemain-pemain seperti Moises Caicedo, Piero Hincapie, dan Willian Pacho, mereka memiliki skuad tangguh dengan pemain-pemain besar yang solid dan sulit dikalahkan. Tim ini berpeluang besar lolos dari grup yang berisi Jerman, Pantai Gading, dan Curacao, bahkan bisa menyamai pencapaian mereka pada 2006 ketika melaju hingga babak 16 besar. Permainan mereka mungkin tidak selalu indah, tetapi sangat efektif.


Tuan rumah biasanya mampu memanfaatkan keuntungan bermain di kandang untuk tampil melebihi ekspektasi, dan dari tiga negara penyelenggara kali ini, Meksiko tampak paling berpeluang melangkah jauh.


Berada satu grup dengan Republik Ceko, Korea Selatan, dan Afrika Selatan di Grup A, Meksiko adalah tim yang terbiasa memenangkan turnamen. Mereka baru saja menjuarai Piala Emas setahun lalu, tak lama setelah sukses di ajang Liga Bangsa-Bangsa.


Performa mereka belakangan ini juga cukup baik, dan jika para pemain senior seperti Edson Alvarez dan Raul Jimenez dapat menemukan ritme bersama talenta muda seperti gelandang remaja Gilberto Mora, maka mereka berpeluang mencatat kemenangan pertama di fase gugur sejak 1986.


Jika mencari tim yang benar-benar tak terduga—yang bisa saja melaju hingga babak akhir atau justru kandas di fase grup—Swedia mungkin menjadi pilihan yang menarik.


Setelah menjalani kampanye kualifikasi buruk di mana mereka finis di posisi terbawah grup dan membuat Jon Dahl Tomasson kehilangan jabatannya, Swedia memanfaatkan jalur tambahan melalui Liga Bangsa-Bangsa untuk menyingkirkan Polandia di babak play-off di bawah asuhan Graham Potter.


Meski reputasinya sempat menurun setelah masa kepelatihannya di Chelsea dan West Ham, Potter tetap disegani di Swedia, tempat ia pertama kali meniti karier kepelatihan di Ostersund. Ia kini kembali menerapkan gaya permainan tradisional Swedia: pertahanan rapat dan serangan balik cepat.


Jika Potter mampu menjaga organisasi pertahanan timnya, duet Viktor Gyokeres dan Alexander Isak bisa memanfaatkan peluang di depan. Dengan performa seperti itu, Swedia berpeluang lolos dari grup yang berat berisi Belanda, Jepang (yang juga bisa menjadi kuda hitam potensial), dan Tunisia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.