TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Upaya mengungkap teka-teki kemunculan fenomena api di rumah Agus Yani Mujiyanto, di Kasuran, Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih berjalan.
Para peneliti dari lintas instansi masih mencoba mengungkap apa penyebab pastinya.
Untuk diketahui diketahui, titik api di rumah Agus Yani sudah berlangsung selama 17 hari dan masih bermunculan secara acak hingga saat ini.
Total hingga Senin petang sudah 116 titik api yang muncul membakar beragam perabotan rumah Agus Yani.
Pada Minggu (7/6/2026), titik api muncul lima kali di dapur, halaman belakang, dan ruang tengah.
Pada Senin (8/6/2026), api muncul pukul 19.15 dan pukul 19.28 di atas sumur, serta pukul 21.28 pada kayu di belakang rumah.
Keluarga Agus Yani kini menggantungkan asa terhadap kepastian hasil investigasi ilmiah agar masalah ini segera menemui titik terang.
Tim ahli dari UPN, UGM, BPPTKG, BPBD hingga Gegana Satbrimob Polda DIY telah melakukan penelitian dan observasi di lokasi.
"Semoga ini bisa segera selesai dan segera ketemu apa yang menjadi titik masalah utamanya," harap Mutfiana, anak sang empunya rumah.
Keluarga korban kini hanya bisa bersiap dan berdoa, menanti hasil penelitian para ahli dan langkah konkret dari jajaran pemerintah daerah.
Sejumlah penelitian dan observasi dari UGM, UPN, Tim Gegana Polda DIY, BPPTKG, dan sejumlah lembaga lain sudah dilakukan sejak pekan kemarin.
Hasilnya telah dipaparkan bersama BPBD Sleman empat hari lalu di kantor Kapanewon Seyegan, namun penyebab pastinya, sejauh ini belum diketahui.
Pemindaian
Kabar terbaru, tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mendeteksi adanya retakan di bawah tanah menggunakan teknologi georadar atau geoscanner.
Pemindaian lapisan tanah ini dilakukan secara hati-hati mulai dari area ruang depan, halaman depan, ruang tengah bahkan hingga bagian belakang rumah di kawasan sekitar Sungai Nepen.
Berdasarkan analisis sekilas di lapangan, tim peneliti menemukan adanya sinkronisasi kuat antara posisi kemunculan titik api di permukaan dengan struktur retakan di bawah tanah.
Koordinator Peneliti Lab Geofisika Eksplorasi (DTGL FT) UGM, Saptono Budi Samudro menjelaskan alat georadar berkemampuan sensor tinggi 60 MHz berhasil menangkap pola retakan yang cukup banyak di kedalaman 15-20 meter di bawah lantai urukan dan tanah asli rumah korban.
Data yang masih bersifat sementara ini, memperlihatkan ada dugaan beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api dengan retakan di bawah rumah Agusyani.
"Kalau melihat sekilas, belum diolah lebih lanjut, itu memang terlihat ada beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api itu dengan terlihat ada retakan di bawah, sampai ke kedalaman mungkin sekitar 15–20 meter. Jadi, kalau di atas ini (tanah urukan) itu terlihat tadi di alat. Kemudian, di bawah itu masih ada tanah aslinya kan, nah tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," kata Saptono, Senin (8/6/2026).
Pola struktur retakannya itu muncul di beberapa tempat dan relatif mengarah ke atas.
Penemuan retakan bawah permukaan ini, untuk sementara, menjadi jawaban logis mengenai bagaimana senyawa gas,--yang selama ini diduga kuat sebagai pemicu terjadinya kebakaran,--bisa naik dan menyulut benda-benda di dalam rumah Agusyani.
Menurut Saptono, sifat fisik gas tidak membutuhkan ruang yang besar untuk bergerak ke permukaan, sehingga retakan sekecil apa pun dapat menjadi jalur migrasi.
Apalagi, peneliti menemukan, pola-pola retakan tersebut berdekatan dan diindikasikan kuat berhubungan dengan titik-titik api yang muncul sebelumnya.
Sumber gas
Namun demikian, retakan di lapisan bawah ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Bisa diakibatkan oleh proses dinamika bumi, mengingat wilayah DI Yogyakarta berada dalam zona aktif tektonik.
Oleh sebab itu, temuan adanya retakan ini baru sebuah jalur sementara yang bisa untuk keluarnya gas ke permukaan.
Akan tetapi, sumber gasnya sendiri yang diduga menjadi penyebab kebakaran masih harus dibuktikan secara pasti.
"Bisa jadi hanya retakan tapi belum tentu ada gasnya. Maka dari itu, sumber gasnya harus ketemu dulu untuk memastikan. Jika gasnya tidak ada, tentu tidak akan memicu masalah," jelas dia.
Teknologi georadar yang dibawa tim UGM ini bekerja mirip dengan prinsip sonar pada kapal selam, namun menggunakan pancaran gelombang radar yang dikirimkan melalui antena pemancar selebar 2 meter ke dalam tanah.
Gelombang tersebut kemudian dipantulkan kembali oleh objek atau lapisan bumi dan ditangkap oleh antena yang juga berfungsi sebagai penerima.
Pengukuran lateral menggunakan georadar ini diklaim sangat detail karena mampu memindai data per sentimeter.
Nantinya, sebagai penegas sekaligus untuk mengintegrasikan hasil temuan ini, tim UGM menjadwalkan survei lanjutan menggunakan teknik pengeboran manual dan metode geolistrik seperti yang sebelumnya telah dilakukan para peneliti UPN.
Penelitian lanjutan menggunakan metode geolistrik dan pengeboran dibutuhkan untuk memetakan variasi resistivitas batuan sekaligus membuktikan dugaan adanya endapan lempung hitam rawa purba di bawah pemukiman warga.
"(Hasil penelitian) ini kan masih dangkal ya, nanti mungkin berikutnya kalau tidak salah sesuai rencana, kami akan melakukan survei juga geolistrik seperti yang dilakukan oleh UPN. Cuma mungkin jalurnya akan kita konsentrasikan ke sini (sekitar rumah). Kalau UPN kemarin di sana ya, 300 meter belakang rumah. Mungkin nanti kita akan jalan dari sini (depan) ke sana (belakang rumah), dan juga beberapa tempat lah," kata dia.
BRIN turun
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai ikut turun ke lapangan untuk mengungkap fenomena api ini.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Hari Soekarno, mengatakan, pihaknya telah diterjunkan untuk melakukan survei awal di lokasi kejadian.
BRIN akan bergerak mengintegrasikan data dengan tim peneliti yang sudah tiba lebih dulu, seperti dari UGM, UPN "Veteran" Yogyakarta, dan lainnya.
"Nanti, dari hasil kunjungan kami ini, selanjutnya kami akan mengadakan diskusi penelitian, apa saja yang sudah dilakukan, dan selanjutnya kami akan melengkapinya.Mungkin kalau ada yang belum dilakukan, nanti kami akan melengkapinya," kata Hari, ditemui di lokasi, Senin.
Meski begitu, Hari meragukan sumber kemunculan api ddipicu oleh gas fosfin (PH3) yang berasal dari limbah pemotongan ayam di sekitar rumah korban, sebagimana analisis awal tim UGM.
Menurut pantauan BRIN, instalasi limbah pemotongan ayam tersebut dikelola secara terbuka.
Artinya, seandainya ada gas organik yang terbentuk dari proses fermentasi, gas itu dipastikan langsung menguap bebas dan ternetralisasi oleh atmosfer, bukan mengendap di bawah tanah.
"Kalau saya melihat dari instalasi limbah pemotongan ayam, kemungkinan bahwa itu adalah dari dekomposisi organik, menurut saya tidak ya. Karena pengelolaan limbahnya itu sudah langsung terbuang ke atmosfer. Dia bukan tertanam di dalam tanah ya. Seandainya terbentuk gas, dia sudah akan lepas ke atmosfer," katanya.
Ambil sampel
Sebagai gantinya, BRIN mulai mengalihkan fokus pada faktor geologis bawah permukaan atau subsurface.
Ini sejalan dengan alat pemindai bumi atau georadar yang telah dilakukan di seputar area rumah korban untuk mendeteksi keberadaan sesar, patahan atau retakan struktur bumi.
Jalur retakan ini dicurigai menjadi pipa alami yang mengalirkan gas alam dari perut bumi ke dalam rumah Agus Yani.
Kendati demikian, BRIN dihadapkan dengan tantangan teknis.
Untuk memastikan jenis gas yang menjadi bahan bakar fenomena ini,--apakah gas metana atau hidrogen,--tim mau tidak mau harus melakukan sampling atau pengambilan sampel udara di dalam ruangan.
Tantangannya, konsentrasi gas di lokasi terpantau sangat rendah sehingga menyulitkan proses pengambilan sampel.
Selain itu, fasilitas laboratorium kromatografi gas di DIY dinilai belum siap untuk pengujian ini.
"Kami punya alat di Jakarta, (tapi) mungkin akan sulit ya membawa sampling gas ke Jakarta. Nah, nanti kita diskusikanlah untuk itu. Tetapi, untuk mengetahui jenis gasnya, mau tidak mau kita akan lakukan sampling," kata Hari.
Titik api yang muncul di rumah Agus Yani ini merupakan fenomena langka, karena gas bisa menyala di suhu ruangan rendah.
Bahkan, diakui peneliti BRIN, ini adalah kasus pertama yang mereka tangani di Indonesia.
Kemunculan gas rawa di alam terbuka mungkin sudah lazim ditemukan, namun kasus material yang terbakar sendiri di dalam rumah tanpa pemantik api jelas menjadi teka-teki besar yang kini coba dipecahkan oleh para peneliti.
Pasang CCTV
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memasang kamera closed circuit television (CCTV) di dua titik strategis di rumah Agus Yani.
Hasil rekaman kamera pengintai ini diharapkan dapat menjadi bahan ilmiah untuk mengungkap awal mula kemunculan 'teror api' yang terus melanda rumah dua lantai tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menjelaskan, pemasangan kamera pengawas ini dilandasi oleh belum adanya saksi mata yang secara langsung melihat detik-detik awal bagaimana munculnya letupan api hingga menyebabkan barang-barang di rumah Agus Yani terbakar.
Kamera CCTV, yang dilengkapi sensor gerak ini dipasang di dua lokasi strategis.
"Kami ingin melihat seperti apa toh asal muasal munculnya api itu," ujar Bambang.
Rekaman visual dari kamera tersebut, kata dia, sangat penting terutama bagi tim ahli.
Nantinya, data visual tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai alat bukti tambahan untuk penelitian instrumen ilmiah yang valid.
Untuk tahap awal, BPBD Sleman memfokuskan pengawasan pada area-area yang dinilai paling penting di dalam bangunan, yakni ruang depan dan belakang.
Kamera yang dipasang sudah dilengkapi teknologi sensor gerak.
Pemasangan CCTV sensor gerak ini diharapkan dapat langsung menangkap aktivitas tidak wajar atau perubahan termal sekecil apa pun begitu ada pergerakan di area tangkapan kamera. (rif)