Sosok Mujazin Investor Dapur MBG yang Marah-marah di Kantor BGN, Mengaku Kena Tipu Rp 218 M
Candra Isriadhi June 10, 2026 07:44 AM

TRIBUNNEWSMKAER.COM - Gelombang protes mewarnai Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (8/6/2026).

Sejumlah pengusaha yang mengaku sebagai investor proyek Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendatangi kantor tersebut untuk meminta kejelasan terkait nasib investasi yang telah mereka tanamkan.

Suasana di lobi kantor BGN pun sempat memanas. Para investor meluapkan kekecewaan dan kemarahan mereka karena hingga kini belum mendapatkan kepastian mengenai operasional dapur MBG yang telah mereka bangun.

INVESTOR MBG NGAMUK - Sejumlah pengusaha yang mengklaim sebagai investor proyek Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) meluapkan kemarahan mereka di lobi kantor hingga nyaris tak terkendali. Kericuhan ini dipicu oleh ketidakjelasan nasib operasional fasilitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pembangunannya telah rampung sejak tujuh bulan lalu namun hingga kini dibiarkan mangkrak.
INVESTOR MBG NGAMUK - Sejumlah pengusaha yang mengklaim sebagai investor proyek Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) meluapkan kemarahan mereka di lobi kantor hingga nyaris tak terkendali. Kericuhan ini dipicu oleh ketidakjelasan nasib operasional fasilitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pembangunannya telah rampung sejak tujuh bulan lalu namun hingga kini dibiarkan mangkrak. (Tribunnews.com)

Kericuhan disebut dipicu oleh ketidakjelasan nasib fasilitas dapur MBG yang sebenarnya telah rampung dibangun sejak sekitar tujuh bulan lalu.

Namun, hingga saat ini fasilitas tersebut belum juga beroperasi dan disebut dibiarkan mangkrak.

Kondisi itu membuat para investor merasa dirugikan. Mereka menilai modal besar yang telah dikeluarkan belum memberikan hasil maupun kepastian terkait kelanjutan program.

Tak hanya itu, para pengusaha juga mempertanyakan masa depan program MBG setelah mantan Kepala BGN Dadan Hindayana beserta dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, ditahan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Mereka khawatir pergantian kepemimpinan dan proses hukum yang tengah berlangsung akan berdampak pada keberlanjutan program yang selama ini menjadi dasar investasi mereka.

Dalam video yang beredar luas dan viral di media sosial, terlihat suasana tegang di dalam kantor BGN.

Baca juga: Penampakan Bupati Muara Enim Edison Pakai Rompi Tahanan KPK, Pilih Bungkam saat Ditanya Wartawan

Sejumlah massa terlibat adu argumen dengan petugas keamanan yang berjaga di lokasi.

Beberapa orang tampak menyampaikan protes dengan nada tinggi sambil menuntut penjelasan dari pihak terkait.

Situasi sempat sulit dikendalikan karena emosi para peserta aksi yang memuncak.

Salah satu momen yang menyita perhatian publik adalah ketika seorang pria paruh baya yang berjalan menggunakan kruk penyangga kaki menyampaikan keluhannya secara langsung.

Dengan nada penuh emosi, pria tersebut menuntut keadilan atas dana investasi yang telah mereka keluarkan untuk membangun dapur MBG di berbagai daerah, khususnya kawasan Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

Ia menegaskan bahwa para investor telah mengorbankan modal dalam jumlah besar demi mendukung pelaksanaan program pemerintah tersebut.

Karena itu, mereka meminta negara memberikan kepastian mengenai nasib proyek yang hingga kini belum berjalan sesuai rencana.

Aksi protes tersebut pun menjadi sorotan publik dan memunculkan berbagai pertanyaan mengenai keberlanjutan program MBG, terutama terkait operasional dapur-dapur yang telah selesai dibangun namun belum difungsikan hingga saat ini.

DAPUR MBG - Ilustrasi Satuan Penyelenggara Program Gizi (SPPG) di daerah. SPPG di Kabupaten Bandung Barat kena suspend BGN karena pengelolanya joget dapat Rp 6 juta per hari.
DAPUR MBG - Ilustrasi Satuan Penyelenggara Program Gizi (SPPG) di daerah. SPPG di Kabupaten Bandung Barat kena suspend BGN karena pengelolanya joget dapat Rp 6 juta per hari. (Dok./Kementerian PPN/Bappenas)

“Selama 7 bulan, kawan-kawan dari daerah membuat dapur seharga miliaran. Sampai detik ini, tidak ada kejelasan! Kami butuh negara hadir!” ujarnya dengan nada emosional di tengah barikade hidup petugas keamanan.

Suasana semakin memanas ketika para investor menegaskan loyalitas politik mereka demi menagih janji pertanggungjawaban dari pemerintah.

Ia menekankan, kehadiran mereka murni untuk menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah, terkait dana operasional yang berjalan di daerah.

“Kami butuh negara hadir! Kami tidak butuh kamu!” tegasnya.

Di tengah keriuhan tersebut, suasana nyaris tidak terkendali akibat aksi saling dorong. 

Dalam bagian video lainnya  tampak seorang investor berbicara dengan perwakilan BGB.

"Tidak bisa diubah, kami butuh profesionalisme. Bapak2 ini orang berpendidikan, tahu peraturan undang undang, perubahan itu tidak bisa saat berjalan, sebelum berjalan harus dilakukan," katanya.

Ia juga berpesan ke Komisi IX DPR ri.

"Kami butuh pertanggungjawaban, ibu Nanik sebagai kepala BGN yang baru. Kita sama sama membela negara ini, kita orang Prabowo juga, tapi kalau seperti ini, kami minta Pak Prabowo untuk hadir," katanya. 

“Kami butuh pertanggungjawaban, Ibu Nanik sebagai kepala BGN yang baru. Kita sama-sama membela negara ini, kita orang Prabowo juga! Tapi kalau seperti ini, kami minta Pak Prabowo untuk hadir,” tegas salah satu perwakilan investor.

Skandal Dana Talangan Rp218 Miliar

Di balik aksi amuk massa tersebut, sengkarut yang lebih besar ternyata terjadi di Sukabumi, Jawa Barat.

Seorang pengusaha lokal bernama Mujazin blak-blakan mengaku telah menjadi korban dugaan penipuan proyek dapur perintis MBG dengan nilai fantastis mencapai Rp218 miliar.

Melalui kuasa hukumnya, Ahmad Yazdi, terungkap bahwa Mujazin memegang Nota Kesepahaman (MoU) resmi tertanggal 2 September 2025 yang ikut ditandatangani oleh mantan Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung.

Dokumen tersebut menjanjikan pengalihan hak kelola 97 titik dapur perintis kepada pihak investor.

Namun, alih-alih mendapatkan hak pengelolaan, uang ratusan miliar yang diserahkan Mujazin secara tunai, transfer, hingga jaminan cek tersebut disinyalir menguap.

Ironisnya, uang itu diduga kuat hanya dimanfaatkan oleh manajemen BGN terdahulu untuk membayar utang-utang lama pembangunan dapur tahun 2024 kepada vendor lain.

"Faktanya zonk. Uang klien kami dipakai sebagai dana talang untuk membayar vendor-vendor yang membangun pada 2024. Jadi, cuma Pak Haji (Mujazin) doang sekarang yang teriak karena vendor-vendor yang lain sudah dibayar semua sama beliau," ungkap Ahmad Yazdi dalam konferensi pers, Minggu (7/6/2026).

Sengkarut ini semakin rumit setelah pucuk pimpinan BGN rontok akibat kasus hukum.

Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, kini telah ditahan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Kepala BGN Baru Tolak Tanggung Dosa Manajemen Lama

Menanggapi jeritan dan aksi protes para investor, Kepala BGN yang baru menjabat, Nanik S. Deyang, langsung pasang badan dan menolak disalahkan atas kebijakan pendahulunya.

Nanik berdalih bahwa dirinya baru masuk ke lingkaran BGN pada akhir September 2025, sehingga tidak mengetahui kesepakatan di bawah tangan yang dibuat oleh Dadan Cs.

"Saya enggak tahu, kan saya baru masuk akhir September tahun 2025," kata Nanik singkat.

Meski begitu, menyikapi eskalasi protes di kantornya, Nanik mengklarifikasi bahwa pihak BGN tidak berniat menghentikan operasional dapur di wilayah 3T.

Ia berjanji akan segera membawa masalah regulasi dan jeritan para investor ini ke tingkat legislatif.

"Bukan dihentikan dapurnya. Mereka adalah investor dapur 3T yang merasa sudah membangun tapi tidak jelas kelanjutannya. Kemarin saya dan dua wakil kepala sudah menerima pengaduannya. Nanti kita konsultasikan ke DPR dan pihak terkait untuk mencari solusinya seperti apa," ujar Nanik, Selasa (9/6/2026).

Di tengah riak protes dan isu penghentian sementara program akibat seretnya dana operasional, BGN bergerak cepat memastikan bahwa secara nasional pencairan anggaran program MBG tetap berjalan sesuai mekanisme.

Namun, bagi para investor daerah yang telanjur merugi miliaran hingga ratusan miliar rupiah, janji di atas kertas tidak lagi cukup untuk meredam kekecewaan yang telanjur mendalam.

(Tribunnewsmaker.com/WartaKotalive.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.