"Hidup Saya di Jalan", Curhat Ojol Purwokerto Setelah Harga Pertamax Naik Tajam
muslimah June 10, 2026 11:57 AM

"Hidup Saya di Jalan", Curhat Ojol Purwokerto Setelah Harga Pertamax Naik Tajam


TRIBUNTRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dikeluhkan warga di Purwokerto. 

Lonjakan harga yang cukup signifikan membuat masyarakat khawatir terhadap dampaknya pada pengeluaran harian dan daya beli.

Salah seorang pengendara sepeda motor yang juga bekerja sebagai ojek online, Alvin (35) mengaku kenaikan harga BBM semakin menambah beban hidupnya.

Menurutnya kebutuhan BBM menjadi salah satu pengeluaran terbesar karena hampir seluruh aktivitasnya dilakukan di jalan.

Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Rabu 10 Juni 2026, Naik Rp 4.100

"Bikin ekonomi makin sulit, serba naik, apalagi saya yang hidupnya di jalan, yang kerasa banget juga itu service dan oli naik Rp70 ribuan dan membebani sedangkan order makin sedikit," kata Alvin saat ditemui Tribunbanyumas.com, di SPBU Watumas, Purwokerto, Rabu (10/6/2026).

Alvin mengaku setiap hari menghabiskan sekitar Rp40 ribu untuk membeli BBM guna menunjang pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online.

Keluhan serupa disampaikan Supriyatin (45) seorang ibu rumah tangga dan pemilik UMKM. Ia mengaku baru mengetahui adanya kenaikan harga Pertamax saat hendak mengisi BBM pada Rabu pagi.

"Baru tahu saat mau akan mengisi, karena motor saya NMax sudah biasa pakai Pertamax, kebutuhannya ya banyak buat antar dagangan, buat jemput anak," katanya.

Kenaikan ini, menurutnya, cukup membebani karena konsumsi bahan bakar untuk aktivitas sehari-hari tidak sedikit.

Harga Pertamax (RON 92) diketahui mengalami kenaikan signifikan dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter atau naik Rp 3.950 per liter.

Sementara itu, Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter atau bertambah Rp4.100 per liter.

Kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi meningkatkan biaya operasional kendaraan pribadi yang menggunakan Pertamax dan produk sejenis.

Selain itu, biaya logistik dan distribusi barang juga berpotensi mengalami kenaikan yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga sejumlah kebutuhan masyarakat.

Penyesuaian harga energi juga dinilai dapat memicu tekanan inflasi dari sisi biaya produksi atau cost-push inflation.

Dampak kenaikan harga BBM tersebut mulai terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Purwokerto.

Berdasarkan pantauan Tribunbanyumas.com di sejumlah SPBU di Purwokerto, Rabu (10/6/2026).

Kondisi terpantau ramai dengan antrean kendaraan yang masih wajar. 

Namun demikian antrean kendaraan BBM non-subsidi mulai menyerupai antrean Pertalite di beberapa SPBU.

Di SPBU Watumas, harga Pertamax Turbo (RON 98) tercantum Rp20.750 per liter, Pertamax (RON 92) Rp16.250 per liter, Pertamina Dex Rp24.800 per liter, dan Dexlite Rp23.000 per liter.

Kondisi serupa terlihat di SPBU Pabuwaran 44.531.15. Di lokasi tersebut, Pertamax Turbo (RON 98) dijual Rp20.750 per liter dan Pertamax (RON 92) Rp16.250 per liter, sementara Pertamina Dex belum tersedia.

Adapun di SPBU Ovis, Pertamax Turbo (RON 98) tidak tersedia, Pertamax (RON 92) dijual Rp16.250 per liter, Pertamina Dex belum tersedia, dan Dexlite Rp23.000 per liter.

Kenaikan harga BBM non-subsidi ini diperkirakan akan berdampak luas, mulai dari meningkatnya biaya transportasi hingga potensi kenaikan harga kebutuhan pokok, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. (jti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.