Pertamax di Kalsel Naik Jadi Rp17.000 Per Liter,  Harga di Pedagang Ecaran di HST Jadi Rp18 Ribu
Hari Widodo June 10, 2026 12:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kenaikan harga Pertamax hingga menembus Rp17.000 per liter memicu keluhan dari berbagai kalangan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan

Mulai dari pedagang BBM eceran, tukang ojek, hingga sopir angkutan umum mengaku semakin tertekan karena biaya operasional naik di tengah kondisi ekonomi yang dinilai belum membaik.

Dampak kenaikan harga tersebut langsung terasa di tingkat pengecer. Harga Pertamax eceran yang sebelumnya dijual lebih rendah kini ikut merangkak naik hingga Rp18.000 per liter.

Pemilik usaha BBM eceran di Barabai, Riduan, saat ditemui Banjarmasinpost.co.id, rabu, (10/06/2026) mengatakan kenaikan harga di tingkat pengecer tidak dapat dihindari karena mengikuti harga pembelian di stasiun pengisian bahan bakar.

Baca juga: Stok Pertamax di Sejumlah SPBU di Kalsel Kosong, Pelanggan Terpaksa Beli BBM Eceran

"Kalau di pom bensin sudah Rp17.000 per liter, otomatis kami juga harus menyesuaikan. Sekarang harga eceran langsung berubah menjadi sekitar Rp18.000 per liter," ujarnya. 

Menurut Riduan, masyarakat sering kali menyalahkan pedagang eceran ketika harga naik. Padahal, kata dia, pedagang hanya menyesuaikan dengan modal yang dikeluarkan.

"Kami juga serba salah. Kalau tidak dinaikkan, modal tidak kembali. Kalau dinaikkan, pembeli mengeluh. Tapi memang kondisinya seperti itu," katanya.

Ia mengaku sejak kabar kenaikan harga menyebar, banyak pelanggan yang mengeluhkan kondisi tersebut. Sebagian bahkan mengurangi jumlah pembelian karena menyesuaikan kemampuan ekonomi mereka.

Keluhan lebih keras datang dari para pengemudi ojek konvensional yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari nafkah.

Abdurrahman, seorang tukang ojek di Barabai, mengaku terkejut ketika hendak mengisi bahan bakar pada pagi hari.

"Tadi pagi mau isi Pertamax, kaget karena harga langsung berubah. Rasanya berat sekali. Penumpang sekarang saja sudah jarang ada, tapi harga BBM malah naik," ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga BBM terjadi pada saat yang tidak tepat. Pendapatan para tukang ojek saat ini tidak menentu, sementara kebutuhan hidup terus meningkat.

"Dalam sehari kadang dapat penumpang sedikit. Penghasilan tidak menentu. Kalau BBM naik terus, yang susah ya kami yang bekerja mencari uang di jalan," katanya.

Abdurrahman mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain tetap membeli BBM dengan harga yang lebih mahal. Sebab kendaraan merupakan satu-satunya alat yang digunakan untuk mencari nafkah.

"Kalau tidak isi bensin, tidak bisa bekerja. Mau tidak mau tetap harus beli. Jadi kami yang menanggung dampaknya langsung," ucapnya.

Hal senada disampaikan Ramli, sopir taksi rute Barabai-Banjarmasin. Ia mengaku kenaikan harga Pertamax kali ini cukup mengejutkan karena terjadi dalam nominal yang dinilai besar.

"Biasanya kalau naik itu bertahap. Ini malah langsung Rp17.000 per liter. Tentu kami kaget karena biaya operasional langsung melonjak," katanya.

Ramli menjelaskan, kebutuhan bahan bakar untuk perjalanan pulang-pergi Barabai-Banjarmasin cukup besar. Kenaikan harga beberapa ribu rupiah per liter saja sudah berdampak terhadap biaya harian yang harus dikeluarkan.

"Kalau dihitung-hitung, pengeluaran untuk BBM pasti bertambah. Sementara tarif angkutan tidak bisa serta-merta dinaikkan karena penumpang juga sedang susah," ujarnya.

Menurut Ramli, kondisi tersebut membuat para sopir berada dalam posisi sulit. Di satu sisi biaya operasional meningkat, namun di sisi lain daya beli masyarakat belum tentu mampu mengikuti kenaikan tarif transportasi.

Ia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap kebijakan yang dinilai semakin membebani masyarakat kecil.

Baca juga: Daftar Harga BBM Terbaru, Pertamax Akhirnya Naik Per 10 Juni 2026, Cek Juga Pertalite di Kalsel

"Makin ke sini pemerintah pusat rasanya semakin tidak berpihak. Kami rakyat kecil yang merasakan langsung dampaknya. Semua serba mahal, sementara penghasilan tidak ikut naik," katanya.

Ramli berharap pemerintah dapat mempertimbangkan dampak sosial dari setiap kebijakan terkait harga bahan bakar, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor transportasi dan usaha kecil.

Kenaikan harga Pertamax tersebut dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan lainnya. 

Bagi warga yang bergantung pada penghasilan harian, lonjakan harga BBM menjadi tambahan beban di tengah kondisi ekonomi yang dinilai masih penuh tantangan. (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.