TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Euforia Piala Dunia 2026 mulai terasa di seluruh penjuru dunia, termasuk di Bali yang dikenal memiliki kultur sepak bola kuat.
Namun di tengah gegap gempita turnamen terbesar sejagat itu, legenda sepak bola Bali, Wayan Sukadana, justru memberikan catatan kritis.
Mantan gelandang Bali United tersebut menilai Piala Dunia edisi 2026 perlahan mulai kehilangan “ruh” sepak bola yang selama ini menjadi daya tarik utama, terutama setelah FIFA memperluas jumlah peserta menjadi 48 negara dan menambah total pertandingan secara signifikan.
Ia secara blak-blakan menyoroti kontras tajam antara gempita turnamen di era digital sekarang dengan atmosfer magis panggung sepak bola masa lalu yang jauh lebih organik dan menggetarkan.
Mantan gelandang legendaris tanah air ini menilai turnamen edisi ke-23 yang mencetak sejarah baru dengan format ekspansi 48 negara peserta di tiga negara tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini disebutnya seperti kehilangan "ruh" dan gaung di tengah-tengah masyarakat.
Baca juga: Begini Aturan Nobar Piala Dunia 2026 di Bali, Lisensi Komersial Mulai Rp10 Juta
Wayan Sukadana mengungkapkan pandangannya yang cukup mengejutkan mengenai redupnya euforia publik saat ini, padahal akses informasi di era modern justru berada di ujung jari.
"Perbedaannya sangat jauh ya. Piala Dunia dulu atmosfernya sangat tinggi. Dulu menjelang kick-off, hampir di seluruh pelosok menyambutnya dengan antusias luar biasa," kata eks Pemain Gelora Dewata ini kepada Tribun Bali, pada Rabu 10 Juni 2026.
"Di gang-gang rumah warga memasang bendera negara favorit mereka dengan ukuran yang besar-besar. Kafe-kafe sibuk bersiap mengadakan acara nonton bareng (nobar) di mana-mana," imbuhnya.
Kontras dengan memori indah masa lalunya, Sukadana melihat lanskap menjelang bergulirnya laga perdana Piala Dunia 2026 kali ini terasa dingin dan sunyi dari riuhnya atribut sepak bola di ruang publik.
"Tapi Piala Dunia sekarang, seperti tidak ada gemanya. Pembagian grup negara di fase penyisihan saja banyak dari kita yang tidak tahu informasinya. Bendera negara favorit yang biasanya berkibar di sudut-sudut jalan, sekarang saya tidak ada melihatnya sama sekali," tuturnya.
"Informasi atau pengumuman untuk acara nobar juga sepi. Padahal, era digital sekarang ini seharusnya jauh lebih mudah untuk mendapatkan informasi apa pun," sambung eks pelatih Perseden Denpasar ini.
Redupnya gempita ini, menurut Sukadana, juga diperparah oleh minimnya publikasi masif dari media penyiaran konvensional di dalam negeri yang biasanya menjadi motor penggerak demam sepak bola di masyarakat.
"Dulu saya sering mendapat undangan untuk menjadi komentator televisi, tapi sekarang seperti tidak ada gemanya," beber dia.
"Stasiun TV biasanya berlomba-lomba dari jauh-jauh hari untuk menyiarkan tayangan langsung dan membuat program menyambut turnamen," pungkasnya.
Adapun edisi ke-23 ini mengukir sejarah sebagai Piala Dunia terbesar sepanjang masa dengan keikutsertaan 48 negara peserta yang meningkat dari format 32 tim sejak 1998.
Fase awal bakal dibagi ke dalam 12 grup, masing-masing dihuni oleh 4 tim.
Dua tim teratas grup serta 8 tim peringkat ketiga terbaik berhak lolos ke babak gugur baru, yaitu babak 32 besar.
Total laga melonjak dari 64 menjadi 104 pertandingan.
Turnamen ini dikelola bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan upacara pembukaan dan pertandingan pembuka diselenggarakan pada Kamis 11 Juni 2026 di Stadion legendaris Estadio Azteca, Mexico City.
Setelah kompetisi sengit selama 39 hari, pertandingan Final perebutan trofi emas Piala Dunia dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat.
(*)